NUSA DUA - Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) mengakui, saat ini sangat sulit untuk bisa meningkatkan produksi minyak bumi (petroleum) nasional.
Hal itu dikatakan Inspektur Jenderal S Suryantoro dalam pertemuan dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Ahli Geologi Indonesia (HAGI), dan Ikatan Ahli Teknik Perminyaan Indonesia (IATMI), di Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Rabu (14/11/2007)
"Kalau dulu produksi minyak bumi nasional masih bisa mencapai 1,3 juta barel per hari. Sekarang paling banter 1 juta barel per harinya," kata Suryantoro.
Dia juga mengakui, penurunan produksi itu disebabkan ladang minyak yang saat ini berproduksi rata-rata sudah berumur tua. "Ibarat sapi perah, susunya sudah hampir habis," selorohnya.
Sedangkan, jika mengandalkan ladang baru seluruhnya belum bisa beroperasi. Karena itu, pihaknya berharap produksi minyak ke depan lebih banyak berasal bisa dari energi alternatif. Namun, untuk mencapainya memang masih butuh waktu.
"Salah satu terobosannya adalah dengan memberikan insentif khusus untuk membuka investasi dalam pengembangan sumber energi lain di luar minyak," katanya.
(Miftachul Chusna/Sindo/rhs)