WASHINGTON - Tingkat konsumsi masyarakat Amerika Serikat selama musim liburan diperkirakan tidak akan setinggi sebelumnya. Warga AS akan memilih mengencangkan ikat pinggangnya menyusul imbas dari krisis kredit perumahan dan melambungnya biaya untuk konsumsi energi.
Sikap dari warga AS ini terlihat dari sebuah survei yang dilakukan pada saat liburan menyambut hari Thanksgiving. Belanja dari warga AS pun tidak melonjak terlalu tinggi meski toko-toko telah memasang promosi sejak awal dan akan memberikan diskon agar menarik calon pembeli.
Federasi Pengusaha Retail Nasional AS memproyeksikan selama musim liburan ini konsumsi masyarakat akan tumbuh 4 persen. Sedangkan survei yang dilakukan oleh Ernst & Young memprediksikan bakalan tumbuh hingga 4,5 persen.
Sedangkan Standard & Poor's memprediksikan seluruh penjualan merchandise hanya akan tumbuh 3-3,5 persen. Suatu angka yang lebih jelek jika dibandingkan dengan tahun 2006 dan 2005 silam yang mampu tumbuh 4,9 persen dan 5,8 persen.
Belanja warga AS, menurut S&P, selama musim liburan pada November-Desember akan mencapai USD250 miliar atau 23 persen dari seluruh penjualan sektor ritel.
(mbs)
Sikap dari warga AS ini terlihat dari sebuah survei yang dilakukan pada saat liburan menyambut hari Thanksgiving. Belanja dari warga AS pun tidak melonjak terlalu tinggi meski toko-toko telah memasang promosi sejak awal dan akan memberikan diskon agar menarik calon pembeli.
Federasi Pengusaha Retail Nasional AS memproyeksikan selama musim liburan ini konsumsi masyarakat akan tumbuh 4 persen. Sedangkan survei yang dilakukan oleh Ernst & Young memprediksikan bakalan tumbuh hingga 4,5 persen.
Sedangkan Standard & Poor's memprediksikan seluruh penjualan merchandise hanya akan tumbuh 3-3,5 persen. Suatu angka yang lebih jelek jika dibandingkan dengan tahun 2006 dan 2005 silam yang mampu tumbuh 4,9 persen dan 5,8 persen.
Belanja warga AS, menurut S&P, selama musim liburan pada November-Desember akan mencapai USD250 miliar atau 23 persen dari seluruh penjualan sektor ritel.