HANOI - Kenaikan harga minyak mentah dunia yang mendekati USD100 per barel secara tak langsung mendesak setiap negara untuk menaikan harga. Salah satunya, Vietnam menaikkan harga bahan bakar kendaraan sebesar 15 persen.
Namun, hal ini memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kementerian Industri, Perdagangan, dan Keuangan dalam keterangan resmi mengatakan, mulai kemarin harga bahan bakar resmi naik 1.700 dong (USD 0,11) menjadi 13.000-13.300 (USD 0,8 - 0,82) per liter. Deputi Menteri Keuangan Tran van Ta mengatakan,tanpa ada kenaikan harga, kerugian perusahaan perdagangan akan mencapai 12.000 miliar dong (USD740 juta) setahun.
''Pedagang minyak dan pemerintah tidak bisa lagi menanggung kerugian lebih banyak.Artinya, konsumen juga harus menanggung beban (kenaikan harga minyak dunia),'' ujarnya seperti dikutip dari versi online surat kabar VNExpress, Sabtu (24/11/2007).
Pada April, perusahaan pedagang bahan bakar diperkenankan menentukan harga eceran untuk menciptakan persaingan yang lebih baik sekaligus merespons perubahan di pasar dunia.
Namun, pemerintah komunis memiliki hak untuk melakukan intervensi jika diperlukan. Sejumlah ekonom mengkhawatirkan kenaikan harga bahan bakar eceran akan melambungkan indeks harga konsumen (IHK). Sebelumnya, pemerintah menargetkan pertumbuhan tahunan harga konsumen di bawah 8,5 persen tahun ini.
Menurut data General Statistics Office, harga konsumen pada Oktober naik 9,34 persen (year on year/YoY). Melonjaknya biaya hidup tersebut memicu kemarahan publik.
Vietnam memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar di Laut China Selatan dan menjadi salah satu eksportir minyak. Namun, negara tersebut masih kekurangan pengilangan dan harus mengimpor seluruh produk bahan bakar minyak.