ABU DHABI - Etihad Airways akan membuka rute penerbangan dari Abu Dhabi sebagai pusatnya ke Beijing, ibukota Republik Rakyat China (RRC) pada 30 Maret 2008 mendatang.
Dengan frekuensi empat kali penerbangan setiap minggunya, rute ini akan menjadi tujuan pertama Etihad di negara China, sekaligus menandai sebuah babak baru dalam sejarah maskapai ini karena China merupakan salah satu pasar penerbangan dunia yang sangat cepat pertumbuhannya.
Beijing akan menjadi tujuan penerbangan kedelapan dalam rangka pengembangan jaringan rute penerbangan di kawasan Asia Pasifik, termasuk rute yang telah dibuka yaitu ke Brisbane, Sydney, Manila, Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, dan Bangkok.
James Hogan, CEO dari Etihad Airways mengatakan, "Beijing merupakan salah satu tempat tujuan dengan pertumbuhan tercepat di dunia serta merupakan tujuan paling favorit, dan kami mengantisipasi permintaan sangat banyak untuk layanan rute baru ini dari para penumpang kami di seluruh dunia."
"Permintaan penerbangan baik dari sisi pebisnis maupun untuk keperluan liburan ke Beijing, sangat besar sekali, terutama menjelang penyelenggaraan Olimpiade 2008, dan kami berharap dapat lebih mendekatkan Uni Emirat Arab dengan China."
Etihad terbang ke Beijing setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu dengan nomor penerbangan EY888, bertolak dari Abu Dhabi pada pukul 11.45 malam (waktu setempat) dan tiba di tempat tujuan pada pukul 11.30 siang (waktu setempat), keesokkan harinya.
Sedangkan, penerbangan balik dengan nomor penerbangan EY889, berangkat dari Beijing setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu pada pukul 7.10 malam (waktu setempat) dan tiba di Abu Dhabi pada pukul 00.20 (waktu setempat), keesokkan harinya.
Waktu penerbangan bertepatan dengan banyak rute Etihad lainnya dari Timur Tengah dan Eropa, termasuk Heathrow, London, Dublin, Bahrain, Beirut dan Jeddah, hal ini memungkinkan para penumpang untuk terbang jarak jauh ke Beijing via Abu Dhabi.
Hogan menambahkan, "Etihad berkomitmen untuk menawarkan para penumpang yang tinggal di luar Uni Emirat Arab jadwal penerbangan lanjutan yang nyaman ke tempat tujuan favorit. Jadwal penerbangan baru ke Beijing berarti para penumpang dapat terbang dengan Etihad dari Heathrow, hanya dengan satu kali pemberhentian selama satu jam di Abu Dhabi sebelum melanjutkan ke ibukota negara China tersebut."
Etihad akan menggunakan dua pesawat Airbus A330-200 yang didesain untuk mengangkut 262 penumpang dalam 2 kelas yaitu 22 tempat duduk di kelas bisnis, dan 240 tempat duduk di kelas ekonomi. Layanan kargo ke Beijing juga diharapkan menjadi primadona dengan menggunakan pesawat jenis A330-200 yang mampu mengangkut 11 ton kargo dengan kapasitas pesawat berpenumpang penuh.
Etihad Airways juga telah menyetujui suatu fasilitas pendanaan pesawat dengan jumlah hampir USD400 juta untuk membeli tiga Airbus A340-600 berbadan lebar untuk menambah armadanya. Maskapai dari Abu Dhabi ini telah menandatangani fasilitas pendanaan pesawat sebesar USD250 juta dengan suatu konsorsium yang terdiri dari bank regional dan internasional untuk membeli dua dari tiga pesawat berkapasitas 288 tempat duduk tersebut, dan meminta konsorsium lainnya untuk menyediakan fasilitas pendanaan sebesar USD148 juta untuk membeli pesawat ketiga.
(mbs)
Dengan frekuensi empat kali penerbangan setiap minggunya, rute ini akan menjadi tujuan pertama Etihad di negara China, sekaligus menandai sebuah babak baru dalam sejarah maskapai ini karena China merupakan salah satu pasar penerbangan dunia yang sangat cepat pertumbuhannya.
Beijing akan menjadi tujuan penerbangan kedelapan dalam rangka pengembangan jaringan rute penerbangan di kawasan Asia Pasifik, termasuk rute yang telah dibuka yaitu ke Brisbane, Sydney, Manila, Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, dan Bangkok.
James Hogan, CEO dari Etihad Airways mengatakan, "Beijing merupakan salah satu tempat tujuan dengan pertumbuhan tercepat di dunia serta merupakan tujuan paling favorit, dan kami mengantisipasi permintaan sangat banyak untuk layanan rute baru ini dari para penumpang kami di seluruh dunia."
"Permintaan penerbangan baik dari sisi pebisnis maupun untuk keperluan liburan ke Beijing, sangat besar sekali, terutama menjelang penyelenggaraan Olimpiade 2008, dan kami berharap dapat lebih mendekatkan Uni Emirat Arab dengan China."
Etihad terbang ke Beijing setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu dengan nomor penerbangan EY888, bertolak dari Abu Dhabi pada pukul 11.45 malam (waktu setempat) dan tiba di tempat tujuan pada pukul 11.30 siang (waktu setempat), keesokkan harinya.
Sedangkan, penerbangan balik dengan nomor penerbangan EY889, berangkat dari Beijing setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu pada pukul 7.10 malam (waktu setempat) dan tiba di Abu Dhabi pada pukul 00.20 (waktu setempat), keesokkan harinya.
Waktu penerbangan bertepatan dengan banyak rute Etihad lainnya dari Timur Tengah dan Eropa, termasuk Heathrow, London, Dublin, Bahrain, Beirut dan Jeddah, hal ini memungkinkan para penumpang untuk terbang jarak jauh ke Beijing via Abu Dhabi.
Hogan menambahkan, "Etihad berkomitmen untuk menawarkan para penumpang yang tinggal di luar Uni Emirat Arab jadwal penerbangan lanjutan yang nyaman ke tempat tujuan favorit. Jadwal penerbangan baru ke Beijing berarti para penumpang dapat terbang dengan Etihad dari Heathrow, hanya dengan satu kali pemberhentian selama satu jam di Abu Dhabi sebelum melanjutkan ke ibukota negara China tersebut."
Etihad akan menggunakan dua pesawat Airbus A330-200 yang didesain untuk mengangkut 262 penumpang dalam 2 kelas yaitu 22 tempat duduk di kelas bisnis, dan 240 tempat duduk di kelas ekonomi. Layanan kargo ke Beijing juga diharapkan menjadi primadona dengan menggunakan pesawat jenis A330-200 yang mampu mengangkut 11 ton kargo dengan kapasitas pesawat berpenumpang penuh.
Etihad Airways juga telah menyetujui suatu fasilitas pendanaan pesawat dengan jumlah hampir USD400 juta untuk membeli tiga Airbus A340-600 berbadan lebar untuk menambah armadanya. Maskapai dari Abu Dhabi ini telah menandatangani fasilitas pendanaan pesawat sebesar USD250 juta dengan suatu konsorsium yang terdiri dari bank regional dan internasional untuk membeli dua dari tiga pesawat berkapasitas 288 tempat duduk tersebut, dan meminta konsorsium lainnya untuk menyediakan fasilitas pendanaan sebesar USD148 juta untuk membeli pesawat ketiga.