JOMBANG - Sejumlah petani di Kab Jombang, Jawa Timur, mengeluhkan buruknya kualitas benih padi yang diberikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) setempat. Ironisnya, Dispertan justru menuding petani yang salah memilih pola tanam.
Koordinator Litbang Forum Masyarakat Petani Jombang (FMPJ) Muhammad Subhan mengatakan, benih yang diterimakan kepada petani ini tidak lebih baik dari benih tradisional yang biasa ditanam petani.
Dikatakannya, benih yang diberikan Dispertan itu tidak dapat tumbuh subur seperti yang diharapkan petani. Malahan, tumbuh kehitam-hitaman saat petani menebar benih jenis nonhibrida itu.
Dia menyebut, buruknya kualitas benih bantuan tersebut telah tersebar di tiga kecamatan, yakni Kec Kesamben, tembelang dan Megaluh. Ditiga daerah ini, petani mengaku justru dirugikan dengan benih bantuan tersebut.
"'Wajar saja jika petani mengeluh, karena realitanya, benih yang diberikan itu tak memiliki kualitas yang bagus,'' kata Subhan, Sabtu (15/12/2007).
Sebelumnya, lanjut Subhkan, petani telah menolak bantuan benih jenis hibrida yang juga diberikan Dispertan. Alasan penolakan ini, karena benih jenis hibrida itu tak lebih baik dengan jenis nonhibrida.
Petani kembali kecewa setelah ganti benih dari Dispertan itu tak lebih baik juga dari benih sebelumnya. ''Seharusnya benih pengganti ini lebih baik. Ini tidak, malah lebih buruk,'' tandasnya.
Diterangkan dia, harga benih biasa sebesar Rp5.000 per kilogram, dan itu jauh berbanding dengan harga benih hibrida yang mencapai Rp35 ribu per kilogram. Untuk itu, bantuan benih yang diterima oleh petani seharusnya jauh lebih baik dibanding dengan apa yang diterimakan sekarang.
''Ada selisih jauh dari harga benih sebelumnya dan saat ini. Harusnya Dispertan juga memberikan benih jenis yang sama, namun dengan kualitas yang lebih baik,'' tuntutnya.
Atas buruknya benih yang diterima sejumlah petani ini, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Jombang, Suhardi malah menuding jika petani yang salah dalam melakukan pola tanam. Sehingga, benih yang diberikan itu, tak membuahkan hasil secara maksimal.
''Jangan-jangan, karena pola tanam petani yang salah. Karena banyak faktor yang menyebabkan tumbuhnya benih ini tak maksimal,'' tudingnya.
Untuk itu, pihaknya akan menerjunkan petugas untuk mengecek langsung apa yang menjadi penyebab buruknya tanaman petani. dia berjanji, dalam waktu dekat akan meneliti melakukan cek ke persawahan petani. ''Biar segera diketahui apa penyebabnya. Karena benihnya yang buruk, atau pola tanam yang salah,'' tegasnya.
Kendati demikian, dia mengakui jika telah menerima keluhan dari sejumlah petani terkait hal ini. Bahkan menurutnya, sebagian petani yang meminta ganti benih karena merasa dirugikan. Namun demikian, dia tak buru-buru menuruti tuntutan petani ini.
"Tentu saja permintaan ganti rugi itu tidak begitu saja dapat kita penuhi. Kita akan cross check dulu di lapangan, bagaimana kondisi lapangan yang sebenarnya," terang Suhardi.
Dari informasi yang diperoleh menyebutkan, di Kabupaten Jombang memperoleh jatah bantuan benih bersubsidi sebesar 100 ton lebih untuk lahan seluas lima ribu hektare. Bantuan yang semula diproyeksikan untuk benih jenis hibrida itu, akhirnya diganti dari jenis nonhibrida.
Padahal sebelumnya, kondisi bantuan benih tersebut telah ditolak oleh petani. Penolakan oleh petani ini juga didasarkan tidak cocoknya jenis benih dengan konstruksi tanah, iklim dan tingginya kerentanan terhadap hama juga.
(Tritus Julan/Sindo/rhs)