Sektor Riil
Nasib Alfa (3)
Djoko Susanto Akan Tinggalkan Alfa Retailindo?
Rabu, 19 Desember 2007 - 13:12 wib
Berita Lainnya
-
Jum'at, 05/09/2008 16:09
Mendag: Ekspor CPO Akan Membaik -
Jum'at, 05/09/2008 15:09
4 Tahun Lagi, Infrastruktur Jadi Primadona -
Jum'at, 05/09/2008 14:09
Harga Naik, Proyek Infrastruktur Harus Jalan Terus -
Jum'at, 05/09/2008 14:09
Setor Dividen, Pertamina Pertimbangkan Investasi -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Ongkos Distribusi Elpiji Tak Ditanggung Pertamina -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Imbas Harga Elpiji Naik, Tingkat Pembelian Naik 5% -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Bappenas: Target SBI 3 Bulan Jangan Berubah Lagi -
Jum'at, 05/09/2008 11:09
Sanggup Lunasi Utang, Pencekalan Akan Dicabut -
Jum'at, 05/09/2008 10:09
HIPMI: Sektor Riil Makin Tertekan -
Kamis, 04/09/2008 17:09
Apindo: Salah Resep Bernama Kenaikan BI Rate
JAKARTA - Benarkah sang founding father Djoko Susanto ingin meninggalkan Alfa Retailindo yang telah dibesarkannya selama 18 tahun? Seluruh anak buahnya kompak untuk tidak berbagi informasi.
Direktur dan Corporate Secretary PT Alfa Retailindo Surjadi Budiman, belum bersedia menjawab pertanyaan itu. "Kalau masalah itu (penjualan aset-red) saya belum mau bicara," ujarnya.
Sementara, Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Ignatius Didit Setiadi, hingga Jumat kemarin tak bisa dihubungi.
Namun, secuil informasi bisa didapat justru dari Kurnia Sukrisna, Direktur Utama PT Perkasa Internusa Mandiri. "Ini hanya jual beli biasa. Transaksi ini hanya untuk merapikan administrasi saja," tutur Kurnia.
Benarkah jawaban sederhana itu? Wallahualam. Yang jelas, kinerja keuangan PT Alfa Retailindo selama sembilan bulan kemarin terbilang cukup lumayan.
Pada kuartal III kemarin, emiten berkode ALFA ini mencatat penjualan bersih sebesar Rp2,4 triliun alias lebih rendah dari kinerja tahun lalu yang sebesar Rp2,6 triliun. Karena perseroan mendapat manfaat dari pajak penghasilan sebesar Rp5,7 miliar atau jauh lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya Rp2,7 miliar, maka laba bersih pada kuartal III tahun ini yang berhasil didulang mencapai Rp17,1 miliar, naik tipis dari kuartal III tahun lalu sebesar Rp16,9 miliar.
Analis dari PT Optima Investama Ikhsan Binarto melihat, prospek bisnis Alfa tahun depan akan tetap tumbuh. Namun, melonjaknya harga BBM yang berbuntut naiknya harga jual produk, akan membuat daya beli konsumen jadi melemah. Sehingga, "Tingkat persaingan antar-peritel besar juga akan semakin ketat," ujarnya.
Hal itulah yang membuat Ikhsan tak merekomendasikan saham ALFA untuk dikoleksi investor. Selain sahamnya di bursa tidak likuid (hanya 15 persen), emiten ritel juga jarang melakukan aksi korporasi yang bisa membuat sahamnya atraktif. Itu memang terbukti. Sudah beberapa hari ini, ALFA anteng di posisi Rp2.300 per saham.
"Bagi yang sudah mengoleksi saham ini, tunggu saja jika Sigmantara berencana go private, mereka akan beli saham publik dengan harga premium. Tapi itu jika mereka ingin jadi perusahaan tertutup loh," paparnya panjang lebar.
(Trust//rhs)
Direktur dan Corporate Secretary PT Alfa Retailindo Surjadi Budiman, belum bersedia menjawab pertanyaan itu. "Kalau masalah itu (penjualan aset-red) saya belum mau bicara," ujarnya.
Sementara, Corporate Secretary PT Sumber Alfaria Trijaya Ignatius Didit Setiadi, hingga Jumat kemarin tak bisa dihubungi.
Namun, secuil informasi bisa didapat justru dari Kurnia Sukrisna, Direktur Utama PT Perkasa Internusa Mandiri. "Ini hanya jual beli biasa. Transaksi ini hanya untuk merapikan administrasi saja," tutur Kurnia.
Benarkah jawaban sederhana itu? Wallahualam. Yang jelas, kinerja keuangan PT Alfa Retailindo selama sembilan bulan kemarin terbilang cukup lumayan.
Pada kuartal III kemarin, emiten berkode ALFA ini mencatat penjualan bersih sebesar Rp2,4 triliun alias lebih rendah dari kinerja tahun lalu yang sebesar Rp2,6 triliun. Karena perseroan mendapat manfaat dari pajak penghasilan sebesar Rp5,7 miliar atau jauh lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya Rp2,7 miliar, maka laba bersih pada kuartal III tahun ini yang berhasil didulang mencapai Rp17,1 miliar, naik tipis dari kuartal III tahun lalu sebesar Rp16,9 miliar.
Analis dari PT Optima Investama Ikhsan Binarto melihat, prospek bisnis Alfa tahun depan akan tetap tumbuh. Namun, melonjaknya harga BBM yang berbuntut naiknya harga jual produk, akan membuat daya beli konsumen jadi melemah. Sehingga, "Tingkat persaingan antar-peritel besar juga akan semakin ketat," ujarnya.
Hal itulah yang membuat Ikhsan tak merekomendasikan saham ALFA untuk dikoleksi investor. Selain sahamnya di bursa tidak likuid (hanya 15 persen), emiten ritel juga jarang melakukan aksi korporasi yang bisa membuat sahamnya atraktif. Itu memang terbukti. Sudah beberapa hari ini, ALFA anteng di posisi Rp2.300 per saham.
"Bagi yang sudah mengoleksi saham ini, tunggu saja jika Sigmantara berencana go private, mereka akan beli saham publik dengan harga premium. Tapi itu jika mereka ingin jadi perusahaan tertutup loh," paparnya panjang lebar.


