JAKARTA - Banyak kalangan yang meragukan kemampuannya sebagai CEO baru Citigroup. Lebih dari itu, proses pemilihannya sebagai orang nomor satu di kelompok usaha ini pun dianggap kontroversi.
Ibarat hantu, begitulah krisis subprime mortgage yang belum lama ini menerjang Amerika. Terutama dampaknya bagi perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, mereka dibuatnya oleng karena merugi sangat besar.
Setelah itu, giliran para top eksekutifnya yang ketar-ketir. Karena kinerjanya makin memburuk, bahkan beberapa di antaranya terpaksa dilengserkan.
Contohnya seperti dialami oleh Charles Prince, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup. Akibat peristiwa itu, kelompok usaha yang dipimpinnya, sampai November lalu, dilaporkan harus menanggung rugi hingga mencapai USd11 miliar.
Buntutnya, Prince pun terpaksa mengundurkan diri dari kursi pimpinan. Karena sulit mencari penggantinya, untuk sementara, posisinya digantikan oleh Robert Rubin, mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Bill Clinton.
Hal tersebut makin membuktikan betapa banyak kalangan yang gentar karena dampak yang ditimbulkan oleh si "hantu mortgage." Baru, setelah melewati proses yang cukup panjang, kalangan paling berpengaruh di Citigroup berhasil menunjuk seseorang yang dinilai layak menggantikan Prince.
Dia adalah Vikram Pandit. Pria berdarah India ini, pada Selasa pekan lalu, resmi diangkat menjadi CEO baru.
Pandit boleh saja bangga atas kepercayaan yang diterimanya. Tapi, bukan berarti ia bisa berlama-lama tersenyum lepas.
Malah sebaliknya, seperti diramalkan banyak kalangan, jabatan barunya itu akan membuatnya pontang-panting. Maklum, tugas tergolong berat sudah menyongsongnya. Bahkan teramat berat, itu bila menyimak perkiraan kalangan analis. Kata mereka, melihat kondisi perekonomian Amerika yang cenderung makin memburuk, hal itu berpotensi menambah kerugian Citigroup.
Indikasi ke arah sana memang sudah terlihat. Dari laporan kuartal ketiga tahun ini, pendapatan perusahaan beraset USD2,35 triliun itu "hanya" mencapai USD22,4 miliar, dengan keuntungan bersih USD2,21 miliar. Skala ini menurun 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hal lain yang tak kalah runyamnya adalah berkait dengan keputusan manajemen yang akan mengurangi karyawan sebanyak 45 ribu orang hingga akhir 2008.
Tak hanya itu. Di lantai bursa, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1812 ini juga menghadapi persoalan, yakni merosotnya kepercayaan pasar. Hal itu, tak pelak, berakibat terhadap harga saham Citigroup yang terus menurun. Nyatanya, sejak awal tahun hingga minggu lalu, harganya melorot lebih dari 41 persen. Seiring dengan itu, nilai kapitalisasinya pun anjlok lebih dari USD50 miliar.
Boleh jadi karena kinerjanya cenderung melemah, tak kurang dari para analis di Standard & Poor's Rating Service terpaksa menerbitkan woro-woro agar kalangan investor mulai mewaspadai gergasi perbankan kedua terbesar di Amerika ini.
Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir, hampir seluruh perusahaan pemeringkat internasional juga ramai-ramai menurunkan peringkatnya. Tampaknya, Pandit harus menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi paling buruk selama 16 tahun terakhir.
Walau begitu, dengan penuh rasa optimisme, sang CEO baru tetap berjanji akan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Untuk memulihkan kondisi Citigroup dari keterpurukan, dari markasnya di Manhattan, New York, ia sudah menyiapkan segepok kebijakan. Di antaranya strategi yang bisa menyelamatkan keuangan perusahaan dari situasi yang lebih buruk.
(Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)
Ibarat hantu, begitulah krisis subprime mortgage yang belum lama ini menerjang Amerika. Terutama dampaknya bagi perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, mereka dibuatnya oleng karena merugi sangat besar.
Setelah itu, giliran para top eksekutifnya yang ketar-ketir. Karena kinerjanya makin memburuk, bahkan beberapa di antaranya terpaksa dilengserkan.
Contohnya seperti dialami oleh Charles Prince, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup. Akibat peristiwa itu, kelompok usaha yang dipimpinnya, sampai November lalu, dilaporkan harus menanggung rugi hingga mencapai USd11 miliar.
Buntutnya, Prince pun terpaksa mengundurkan diri dari kursi pimpinan. Karena sulit mencari penggantinya, untuk sementara, posisinya digantikan oleh Robert Rubin, mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Bill Clinton.
Hal tersebut makin membuktikan betapa banyak kalangan yang gentar karena dampak yang ditimbulkan oleh si "hantu mortgage." Baru, setelah melewati proses yang cukup panjang, kalangan paling berpengaruh di Citigroup berhasil menunjuk seseorang yang dinilai layak menggantikan Prince.
Dia adalah Vikram Pandit. Pria berdarah India ini, pada Selasa pekan lalu, resmi diangkat menjadi CEO baru.
Pandit boleh saja bangga atas kepercayaan yang diterimanya. Tapi, bukan berarti ia bisa berlama-lama tersenyum lepas.
Malah sebaliknya, seperti diramalkan banyak kalangan, jabatan barunya itu akan membuatnya pontang-panting. Maklum, tugas tergolong berat sudah menyongsongnya. Bahkan teramat berat, itu bila menyimak perkiraan kalangan analis. Kata mereka, melihat kondisi perekonomian Amerika yang cenderung makin memburuk, hal itu berpotensi menambah kerugian Citigroup.
Indikasi ke arah sana memang sudah terlihat. Dari laporan kuartal ketiga tahun ini, pendapatan perusahaan beraset USD2,35 triliun itu "hanya" mencapai USD22,4 miliar, dengan keuntungan bersih USD2,21 miliar. Skala ini menurun 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hal lain yang tak kalah runyamnya adalah berkait dengan keputusan manajemen yang akan mengurangi karyawan sebanyak 45 ribu orang hingga akhir 2008.
Tak hanya itu. Di lantai bursa, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1812 ini juga menghadapi persoalan, yakni merosotnya kepercayaan pasar. Hal itu, tak pelak, berakibat terhadap harga saham Citigroup yang terus menurun. Nyatanya, sejak awal tahun hingga minggu lalu, harganya melorot lebih dari 41 persen. Seiring dengan itu, nilai kapitalisasinya pun anjlok lebih dari USD50 miliar.
Boleh jadi karena kinerjanya cenderung melemah, tak kurang dari para analis di Standard & Poor's Rating Service terpaksa menerbitkan woro-woro agar kalangan investor mulai mewaspadai gergasi perbankan kedua terbesar di Amerika ini.
Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir, hampir seluruh perusahaan pemeringkat internasional juga ramai-ramai menurunkan peringkatnya. Tampaknya, Pandit harus menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi paling buruk selama 16 tahun terakhir.
Walau begitu, dengan penuh rasa optimisme, sang CEO baru tetap berjanji akan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Untuk memulihkan kondisi Citigroup dari keterpurukan, dari markasnya di Manhattan, New York, ia sudah menyiapkan segepok kebijakan. Di antaranya strategi yang bisa menyelamatkan keuangan perusahaan dari situasi yang lebih buruk.