Konkretnya, CEO baru Citigroup Vikram Pandit mulai mengkaji biaya operasional agar bisa dilakukan efisiensi secara besar-besaran. Salah satu peluangnya untuk itu, dengan mempercepat pelaksanaan program pengurangan karyawan.
Selain itu, Pandit juga mulai gencar melakukan pendekatan terhadap banyak analis. Tujuannya, agar mereka tak serta-merta menurunkan lagi peringkat Citigroup. Sungguh kebijakan tergolong taktis. Pasalnya, jika keinginannya itu tercapai, niscaya akan meningkatkan citra Citigroup, terutama di kalangan para investor.
Nah, persoalannya sekarang, seberapa mampu Pandit melakukan semua itu hingga berhasil memenuhi targetnya? Pasalnya pula, banyak pihak yang meragukan kemampuannya. Maklum, track record-nya sebagai eksekutif belum teruji. Apa lagi, tiba-tiba dia dipercaya menangani perusahaan besar dengan permasalahan kompleks seperti Citigroup.
Karena itu, rupanya, proses sampai dia terpilih menjadi CEO sempat menimbulkan kontroversi.
Kabarnya, setelah mundurnya Prince, para penentu di Citigroup segera mencari calon penggantinya. Yang diliriknya adalah kalangan eksekutif top dunia. Dari sekian puluh kandidat, tersaringlah sejumlah nama. Selain Pandit, ada Robert Willumstad, Chairman AIG (salah satu perusahaan asuransi terkemuka dunia), Josef Ackermann (Kepala Deutsche Bank), dan Lawrence Fink, CEO BlackRock (perusahaan yang bergerak di sektor investasi).
Dalam proses seleksi, para kandidat itu bersaing amat ketat. Akhirnya nasib baik menghampiri Pandit. Dia berhasil keluar menjadi pemenang, kabarnya pula, karena didukung dari mantan Menkeu AS Robert Rubin. Nama besar Rubin, rupanya, mampu memengaruhi keputusan para pemegang saham Citigroup.
Tapi, para pemegang saham itu punya dalil yang agak berbeda. Seperti diungkapkan oleh salah seorang dari mereka bahwa pihaknya mendapat tekanan begitu kuat agar segera memilih CEO baru, setelah lengsernya Prince. Pasalnya, hampir sebulan lebih perusahaan ini beroperasi tanpa komando yang jelas.
Bila kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan makin memperburuk citra Citigroup di mata pasar. Oleh karena itu, ketika mendapat "arahan" dari Rubin, mereka segera melaksanakannya.
Menurut Rubin, alasannya merekomendasikan Pandit karena sosok eksekutif ini paling tepat untuk menempati posisi CEO Citigroup saat ini. Pandit dinilainya memiliki pengalaman yang cukup di bisnis keuangan dan investasi. Selain itu, dia juga dikenal sebagai ahli strategi yang baik.
Apa yang disampaikan Rubin mendapat dukungan dari Frank Braden, analis senior dari Standard & Poor's. Menurutnya, untuk saat ini, Pandit merupakan sosok yang tepat dibandingkan kandidat lainnya. Dia salah satu "orang luar" yang tidak terlibat dalam manajemen Citigroup (lima bulan terakhir sebelum dipercaya menjadi CEO, dia bekerja di salah satu anak perusahaan ini) yang memutuskan ikut bermain di sektor pembiayaan kredit perumahan.
Meski begitu, Pandit dinilai amat mengerti permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan ini.
Sebelum ditunjuk sebagai CEO, pria kelahiran Nagpur, India, 50 tahun lalu ini bekerja di Old Lane Partners, perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Di perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Citigroup ini, sejak Juli lalu, Pandit dipercaya menjabat sebagai salah satu direktur.
Pandit mulai hijrah ke Amerika sejak umur 16 tahun. Ketika itu dia diterima kuliah di Fakultas Elektro Universitas Colombia. Setelah berhasil menyelesaikan studi S3 di bidang keuangan di perguruan tinggi yang sama (1986), Pandit segera bergabung di Morgan Stanley's.
Di perusahaan yang bergerak di sektor keuangan dan investasi ini dia berkarir selama dua puluh tahun. Jabatan tertinggi di sana sebagai Chief Operating Officer.
Kini sepak terjang Pandit dipantau oleh hampir semua pelaku industri investasi dan keuangan dunia. Mampu atau tidaknya Pandit mengangkat kembali pamor Citigroup, itu hanya soal waktu.
(Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)
Selain itu, Pandit juga mulai gencar melakukan pendekatan terhadap banyak analis. Tujuannya, agar mereka tak serta-merta menurunkan lagi peringkat Citigroup. Sungguh kebijakan tergolong taktis. Pasalnya, jika keinginannya itu tercapai, niscaya akan meningkatkan citra Citigroup, terutama di kalangan para investor.
Nah, persoalannya sekarang, seberapa mampu Pandit melakukan semua itu hingga berhasil memenuhi targetnya? Pasalnya pula, banyak pihak yang meragukan kemampuannya. Maklum, track record-nya sebagai eksekutif belum teruji. Apa lagi, tiba-tiba dia dipercaya menangani perusahaan besar dengan permasalahan kompleks seperti Citigroup.
Karena itu, rupanya, proses sampai dia terpilih menjadi CEO sempat menimbulkan kontroversi.
Kabarnya, setelah mundurnya Prince, para penentu di Citigroup segera mencari calon penggantinya. Yang diliriknya adalah kalangan eksekutif top dunia. Dari sekian puluh kandidat, tersaringlah sejumlah nama. Selain Pandit, ada Robert Willumstad, Chairman AIG (salah satu perusahaan asuransi terkemuka dunia), Josef Ackermann (Kepala Deutsche Bank), dan Lawrence Fink, CEO BlackRock (perusahaan yang bergerak di sektor investasi).
Dalam proses seleksi, para kandidat itu bersaing amat ketat. Akhirnya nasib baik menghampiri Pandit. Dia berhasil keluar menjadi pemenang, kabarnya pula, karena didukung dari mantan Menkeu AS Robert Rubin. Nama besar Rubin, rupanya, mampu memengaruhi keputusan para pemegang saham Citigroup.
Tapi, para pemegang saham itu punya dalil yang agak berbeda. Seperti diungkapkan oleh salah seorang dari mereka bahwa pihaknya mendapat tekanan begitu kuat agar segera memilih CEO baru, setelah lengsernya Prince. Pasalnya, hampir sebulan lebih perusahaan ini beroperasi tanpa komando yang jelas.
Bila kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan makin memperburuk citra Citigroup di mata pasar. Oleh karena itu, ketika mendapat "arahan" dari Rubin, mereka segera melaksanakannya.
Menurut Rubin, alasannya merekomendasikan Pandit karena sosok eksekutif ini paling tepat untuk menempati posisi CEO Citigroup saat ini. Pandit dinilainya memiliki pengalaman yang cukup di bisnis keuangan dan investasi. Selain itu, dia juga dikenal sebagai ahli strategi yang baik.
Apa yang disampaikan Rubin mendapat dukungan dari Frank Braden, analis senior dari Standard & Poor's. Menurutnya, untuk saat ini, Pandit merupakan sosok yang tepat dibandingkan kandidat lainnya. Dia salah satu "orang luar" yang tidak terlibat dalam manajemen Citigroup (lima bulan terakhir sebelum dipercaya menjadi CEO, dia bekerja di salah satu anak perusahaan ini) yang memutuskan ikut bermain di sektor pembiayaan kredit perumahan.
Meski begitu, Pandit dinilai amat mengerti permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan ini.
Sebelum ditunjuk sebagai CEO, pria kelahiran Nagpur, India, 50 tahun lalu ini bekerja di Old Lane Partners, perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Di perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Citigroup ini, sejak Juli lalu, Pandit dipercaya menjabat sebagai salah satu direktur.
Pandit mulai hijrah ke Amerika sejak umur 16 tahun. Ketika itu dia diterima kuliah di Fakultas Elektro Universitas Colombia. Setelah berhasil menyelesaikan studi S3 di bidang keuangan di perguruan tinggi yang sama (1986), Pandit segera bergabung di Morgan Stanley's.
Di perusahaan yang bergerak di sektor keuangan dan investasi ini dia berkarir selama dua puluh tahun. Jabatan tertinggi di sana sebagai Chief Operating Officer.
Kini sepak terjang Pandit dipantau oleh hampir semua pelaku industri investasi dan keuangan dunia. Mampu atau tidaknya Pandit mengangkat kembali pamor Citigroup, itu hanya soal waktu.