investasi di pasar modal


Petunjuk Praktis Bagi Pemodal Saham di Bursa Efek Indonesia

Senin, 11 Februari 2008 - 10:39 wib
text TEXT SIZE :  
Share
Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI

Sebagaimana yang kita ketahui, inflasi merupakan salah satu momok bagi investor saham. Sebab secara sederhana inflasi adalah suatu kondisi di mana harga barang-barang pada umumnya menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Inflasi tersebut bisa saja berasal dari sektor riil maupun sektor moneter. Apabila tingkat inflasi tinggi biasanya akan diikuti oleh kenaikan tingkat suku bunga. Dan bila hal itu terjadi maka pasar modal menjadi tidak menarik lagi karena investor akan memboyong dana di pasar modal ke deposito.

Lazimnya begitu. maka jadilah faktor inflasi menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dalam berinvestasi saham. Tapi ada juga investor yang berpedoman lain, ketika inflasi tinggi justru ia masuk ke pasar saham. Alasannya karena saham merupakan salah satu komoditas investasi yang bisa menghindari inflasi, asalkan inflasi tersebut bukan karena faktor moneter. Bayang-bayang inflasi pada tahun 2008 ini tersebut tampaknya tidak perlu dikhawatirkan karena ada momentum pertumbuhan ekonomi yang positif.

Pemodal/investor saham jangan hanya berpatokan pada satu indikator saja, melainkan banyak faktor. Karena fluktuasi harga saham dipengaruhi mulai dari faktor internal, ekternal, mikro dan makro ekonomi serta faktor-faktor yang tidak bisa dijelaskan secara ekonomi (faktor psikologis). Untuk itu agar tidak terombang-ambing dalam berinvestasi di pasar modal, sebaiknya seorang investor perlu membuat kriteria dan tujuan yang hendak dicapai dalam investasinya di pasar modal.

Berikut beberapa pentunjuk praktis bagi investor/pemodal di Bursa Efek Indonesia sebelum memulai berinvestasi saham.

1. Memahami risiko investasi saham. Yang perlu diingat investasi saham bukan investasi bebas dari risiko (risk free), namun ada beberapa risiko yang memang menjadi karakteristiknya dibandingkan instrumen investasi lainnya. Risiko investasi pada saham misalnya bisa berupa kemungkinan mengalami kerugian (capital loss), kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi di instrumen lainnya (opportunity loss), dan adanya kemungkinan emiten akan dilikuidasi. Karena saham selalu ditransaksikan kemungkinan investor mengalami kerugian timbul karena adanya fluktuasi harga saham. Faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham diantaranya kinerja dari emiten yang bersangkutan, kondisi makro ekonomi, kekuatan pasar dan faktor-faktor lainnya. Kondisi makro ekonomi yang secara tidak langsung mempengaruhi harga saham misalnya tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan kondisi politik di dalam negeri dan luar negeri.

2. Tentukan tujuan Investasi. Tujuan investasi akan mempengaruhi perilaku dalam melakukan investasi. Pada dasarnya tujuan investasi pada saham itu adalah untuk memperoleh capital gain (apresiasi dari nilai aset yang dibeli) dan dividen. Jika capital gain menjadi tujuan investasi, biasanya investor akan cenderung menjadi agresif dengan mengambil posisi jual atau beli yang cukup sering di pasar. Di lain pihak, jika dividen menjadi tujuan utama, investor akan cenderung menjadi pasif dan sangat berhati-hati dalam memilih saham yang dapat memberikan dividen yang paling besar.

3. Sumber dana yang digunakan. Fluktuasi pasar modal yang selalu berubah dari waktu ke waktu menyebabkan investor perlu selektif dalam menggunakan dana bagi kepentingan investasinya. Untuk itu sebaiknya dana yang diinvestasikan adalah dana yang tidak mempengaruhi kondisi likuiditas keuangan anda. Gunakan dana yang menganggur (idle fund). Berinvestasi dengan dana yang menganggur atau belum dibutuhkan dengan sendirinya investor berpeluang dalam berinvetasi dalam jangka panjang. Di sisi lain aktivitas jual maupun beli saham tidak akan dilakukan melebihi kemampuan dana yang ada.

4. Periode investasi. Jangka waktu investasi ini juga dapat mempengaruhi perilaku dalam mengambil satu posisi di pasar. Semakin pendek jangka waktunya akan semakin mendorong perilaku yang aggresif dalam mengambil posisi jual dan beli di pasar. Pada dasarnya, jangka waktu investasi dapat dibedakan menjadi investasi dalam jangka pendek (short term), jangka menengah (medium term), dan jangka panjang (long term). Dengan memahami jangka waktu investasi ini investor dengan sendirinya akan berinvestasi dengan saham-saham yang sesuai dengan kebutuhan.

5. Investasi dengan Strategi. Strategi investasi adalah merupakan cara untuk mencapai tujuan investasi yang dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dicermati dalam menentukan strategi investasi adalah proporsi portofolio (pasar uang, saham, dan obligasi), jenis saham yang dimasukkan dalam portofolio, pemilihan sektor bisnis yang potensial, mengutamakan saham-saham perusahaan dengan arus kas yang sehat dan neraca yang solid, dan perhatikan perkembangan tingkat suku bunga. Pada dasarnya, strategi investasi pada saham dapat dibagi menjadi dua yaitu strategi aktif dan strategi pasif. Strategi aktif di antaranya adalah strategi berpindah dari satu saham ke saham lainnya, mengambil posisi beli dan jual saham secara bertahap, dan membeli saham di pasar perdana dan menjualnya di pasar sekunder. Sedangkan strategi pasif adalah membeli saham yang telah ditentukan dan menyimpannya dalam jangka panjang dan mengharapkan keuntungan dari pembagian dividen saja.

6. Cari Informasi. Karakteristik investasi di pasar modal adalah sangat dinamis. Ketinggalan informasi bisa jadi harus rela menanggung kerugian. Karena itu bagi investor saham jangan ragu untuk mencari informasi-informasi yang relevan dengan saham yang dimiliki. Informasi bisa diperoleh di surat kabar maupun media informasi lainnya seperti hasil kajian, hasil analisa dan sebagainya. Informasi yang relavan tentunya bisa dijadikan pedoman dalam menentukan sikap investasi. (TIM BEI)

(//mbs)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4