Kisah Sukses
Haruka Nishimatsu, Bertekad Membangkitkan Zombie
Jum'at, 22 Februari 2008 - 13:43 wib

JAKARTA - Di pengujung tahun lalu, Dia berhasil membuat Japan Airlines mencatat keuntungan hingga 13 miliar yen. Namun, perjuangannya itu belum cukup membuat maskapai ini bangkit dari keterpurukan.

Bak terkena empasan badai nan dahsyat, begitulah dampak yang dirasakan kalangan pelaku usaha akibat meroketnya harga minyak dunia belakangan ini.

Tak pandang bulu, industri kecil maupun kakap, dibuatnya oleng--mungkin juga terancam gulung tikar. Kondisi seperti itulah kira-kira, yang tengah menimpa Japan Airlines Corporation (JAL). Kendati tergolong maskapai penerbangan terbesar di Asia, seperti diakui oleh Haruka Nishimatsu, Chief Executive Officer (CEO) JAL, pihaknya tak mampu mengelakkan diri dari krisis yang dipicu oleh harga minyak dunia.

Lihat saja kinerjanya selama dua tahun terakhir (2005-2006), terpaksa merugi hingga sekitar 16,3 miliar yen, atau setara dengan USd152,6 juta.

Bila perusahaan yang bermarkas di Shinagawa, Tokyo, itu dibuatnya guncang, pun bisa dimaklumi. Pasalnya, lantaran seluruh armadanya, total sebanyak 271 pesawat, tergolong rakus menenggak bahan bakar minyak.

Haruka tak semata-mata tengah mengelak dari tanggung jawab. Realitasnya memang sulit dimungkiri. Sebagai gambaran, pada 2006 harga minyak dunia rata-rata di kisaran USD81,9 per barel. Tapi sejak April 2007, naik menjadi USD88,1. Dan klimaksnya terjadi di Oktober, harga si emas hitam melambung di level USD100.

Tak pelak, semua itu berdampak terhadap anggaran operasional yang ikut membengkak. Beban ini mulai dirasakan sejak triwulan pertama 2007, belanja operasional JAL sudah berkisar 82,5 miliar yen, kemudian meningkat menjadi 88,4 miliar yen pada triwulan ketiga.

Celakanya, kondisi nan buruk itu tak diimbangi dengan pendapatan perusahaan. Terutama di trayek gemuk ke Amerika, omzet JAL bisa dibilang melorot secara drastis. Hal ini bisa terjadi, lantaran efek domino yang ditimbulkan krisis perekonomian di Negara Abang Sam, yang membuat arus penumpang dan barang di jalur ini tiba-tiba ikut melesu.

Persoalan yang dihadapi Haruka jadi bertambah kompleks, juga lantaran iklim persaingan di dalam negeri yang makin ketat. Seperti yang digencarkan oleh All Nippon Airways Corporation (ANA). Sebenarnya, maskapai ini bukanlah tergolong kompetitor berat flag carrier Negeri Matahari Terbit itu.

Tapi dengan cerdiknya, para pengelola ANA berhasil mencuri peluang di kala krisis. Dengan strategi pengetatan di segala lini (antara lain memangkas biaya marketing dan promosi), maskapai ini bisa menerapkan tarif murah. Walhasil, selama 2007 ANA berhasil membukukan laba sebesar 32,7 miliar yen, naik 22 persen dari tahun sebelumnya.

JAL, yang telah beroperasi sejak 1951, makin terpuruk saja. Tak salah jika banyak kalangan yang mengkhawatirkannya. Menurut Satoru Aoyama, analis dari Fitch Ratings, seperti dikutip The Wall Street Journal pada awal Februari lalu, situasi yang dihadapi JAL saat ini tak ubahnya seperti "zombie company".

Dan yang paling risau dari semua itu, siapa lagi jika bukan sang "kapten pilot" Haruka. Masalahnya, jika sang kapten tak jua berhasil menyelamatkan JAL dari keterpurukan dalam tahun ini juga, niscaya ia akan dipaksa melakukan "hara-kiri", alias menanggalkan jabatannya sebagai CEO.

Karena itu, Haruka harus berjuang sekuat tenaga. Serta-merta, ia segera melakukan pembenahan di segala bidang. Pada Februari tahun lalu, dengan tegas, ia mengumumkan rencana PHK massal bagi 4.300 karyawannya (delapan persen dari total karyawan JAL), yang prosesnya berlangsung selama dua tahun.

Uniknya, kebijakan tak populer ini tak sampai memicu protes. Soalnya, pada saat yang bersamaan, ia mengumumkan pemangkasan gaji (hingga 60 persen) 40 top eksekutifnya, tak terkecuali bagi dirinya.

Jika berhasil, anggaran perusahaan bisa dihemat hingga sebesar 9,6 miliar yen.

Yang Gagal Menjadi Pilot
Seiring dengan itu, Haruka juga mulai meningkatkan aspek pelayanan demi memanjakan para penumpang. Di antaranya dengan memperkaya menu makanan dan minuman. Kursi penumpang pun diganti dengan jok yang lebih mewah yang terbuat dari kulit hewan. Atas perlakuan yang lebih istimewa ini, para penumpang JAL tak harus menombok ongkos perjalanan, alias harga tiket tidak dinaikkan.

Dengan berbagai ikhtiar itu, harapannya JAL bisa menarik kembali para penggemarnya yang sempat lari ke maskapai lain. Bahkan, mendongkrak load factor lebih besar lagi. Bila target ini tercapai, menurut perhitungan Haruka, akan meningkatkan pendapatan JAL hingga 4 miliar yen.

Dan langkah Haruka yang tergolong spektakuler, adalah kebijakan yang meng-grounded sebagian armada JAL. Terutama dari jenis pesawat berpenumpang di bawah 100 orang yang boros bahan bakar. Untuk itu, ia telah menyiapkan sejumlah Boeing 737-800 yang mampu mengangkut 189 penumpang sebagai penggantinya.

Jenis pesawat ini dikenal lebih irit bahan bakar dan biaya perawatan--jika ditotal, skala penghematannya bisa mencapai 30 persen. Gebrakan Haruka berbuah gemilang. Hasilnya, seperti yang terungkap dalam release yang dipublikasikan pada awal bulan ini, bahkan mulai tampak sejak kuartal ketiga 2007.

Saat itu JAL berhasil memetik keuntungan hingga sebesar 13,1 miliar yen. Dengan begitu, total kerugian maskapai ini bisa ditekan tinggal 7,7 miliar yen.

Membaiknya kondisi JAL, ternyata tak semata-mata karena strategi yang dilancarkan oleh Haruka beserta seluruh jajaran manajemennya. Di saat yang hampir bersamaan, pasar di Cina dan India juga menunjukkan gairah yang luar biasa. Banyak penduduk di kedua negara tersebut mulai gemar bepergian ke luar negeri.

Bahwa potensi pasar di kedua negara yang pamornya di mata dunia tengah bersinar itu, tampaknya tak perlu diragukan lagi. Berdasarkan MasterCard Worldwide Index of Travel yang dilansir minggu lalu--yang melibatkan 5.400 responden di 13 negara--menyatakan bahwa Cina berpotensi menjadi pasar tergemuk bagi bisnis penerbangan di Asia Pasifik.

Diperkirakan tak kurang dari 21,6 juta penduduk di negeri ini telah berencana bepergian ke luar negeri. Singapura dan Jepang adalah dua negara tujuan utama mereka. Atas dasar itu, rupanya, Haruka mulai memfokuskan armadanya untuk melayani berbagai trayek dari dan ke Cina dan India.

Haruka adalah seorang pria kelahiran Hamamatsu, Shizuoka, Jepang, 60 tahun lalu. Sebelum bertugas sebagai CEO JAL (sejak Juni 2006), ayah dua anak ini giat menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Tokyo. Ketika lulus, saat itu usianya baru menginjak 24 tahun, ia langsung bergabung dengan Japan Airlines.

Sebenarnya keinginan Haruka bergabung dengan maskapai itu tergolong unik, yakni menjadi seorang pilot. Untuk itu, serangkaian pendidikan (selama dua tahun) sempat dijalaninya hingga meraih brevet sebagai penerbang. Tapi lacur, setelah berhasil mengantongi izin terbang, Haruka malah ditugaskan menjadi staf di bagian keuangan. Kendati begitu, lelaki ini tak harus kecewa. Sebaliknya, ia merasa senang karena bisa terbang ke berbagai negara di dunia. Sebab, di divisi ini ia diserahi tugas untuk mengurusi pembelian dan penyewaan pesawat.

Tahun ini, bisa dibilang, merupakan masa terberat dalam karirnya. Seluruh karyawan dan pemegang saham berharap Haruka menjadi dewa penyelamat JAL. Setidaknya, ia mampu menutup kerugian yang masih menjadi beban maskapai ini. Lebih dari itu, kembali mengangkat pamor JAL sebagai flag carrier yang pernah berjaya di Asia. Mampukah? (Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)
250x208 250x250