JAKARTA - Perusahaan tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (Antam) akan menoreh sejarah pertambangan Indonesia, tapi ada catatannya.
Predikat itu akan benar-benar melekat jika kerja sama dengan perusahaan tambang terbesar ketiga di dunia, BHP Billiton, dalam menggarap tambang nikel kelas kakap di Provinsi Halmahera, Maluku Utara dan Papua Barat terealisir.
Menurut Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Lutfi, Antam dapat menguasai lebih dari 50 persen saham dalam proyek tambang nikel tersebut.
"Jadi di sini ada terobosan yang luar biasa. Karena Antam akan memegang saham lebih dari 50 persen. Jadi ini bukan seperti proyek Newmont, di mana Indonesia hanya menguasai 20 persen saja," ujarnya, usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden BHP Billiton Jimmy Wilson, di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2008).
Menurutnya, dalam pertemuan tersebut mereka juga mengutarakan kepada presiden bahwa ini adalah terobosan baru di mana perusahaan Indonesia akan menjadi perusahaan kelas dunia.
Untuk itu, Lutfi mengatakan, momentum ini harus dijadikan ajang untuk menggebrak dunia. Terlebih kalau kita lihat harga nikel tengah tinggi sekali bisa menembus USD50 ribu per ton. "Sekarang sekitar USD28 ribu per ton. Jadi ini sangat baik," ujarnya.
(rhs)