ekonomi global


Pengusaha Inggris Optimistis meski Aktivitas Industri Turun

Selasa, 4 Maret 2008 - 09:59 wib
text TEXT SIZE :  
Share

LONDON - Aktivitas industri di Inggris menurun pada kuartal pertama 2008. Namun, perusahaan di negeri itu masih cukup optimistis untuk prospek ekonomi ke depan.

Berdasarkan sebuah jajak pendapat, optimisme ini dibarengi kenaikan harga bahan baku mentah dan penurunan permintaan domestik.

Survei yang dilakukan Persatuan Pengusaha Mesin (EEF) menunjukkan keseimbangan hasil produksi pada kuartal pertama 2008 untuk Inggris mencapai level +15.

Ini berarti produksi turun dari kuartal sebelumnya yang menunjukkan indeks +27. Namun, semuanya masih di atas rata-rata keseimbangan untuk jangka panjang.

Kepala ekonomi EEF Steve Radley mengungkapkan kepada Reuters bahwa masih ada harapan dan kepercayaan diri dari pengusaha Inggris untuk beberapa waktu ke depan.

Nilai tukar mata uang poundsterling yang melemah turut membantu sektor ekspor untuk mendukung peningkatan permintaan domestik di sebagian besar sektor industri kecuali perlengkapan listrik. Ini menandakan masih ada harapan untuk sektor industri di Inggris.

Hampir dua perlima dari seluruh perusahaan mengharapkan keseimbangan antara hasil produksi dan pesanan agar bisa melakukan peningkatan dalam waktu tiga bulan ke depan.

Beberapa perusahaan lainnya mengatakan akan melakukan investasi lanjutan, sedangkan sisanya mengharapkan peningkatan kemampuan pekerja. Keuntungan industri diprediksi meningkat dalam beberapa bulan ke depan agar bisa menyeimbangkan ketertinggalan dari kenaikan harga bahan mentah dan mengakhiri inflasi produk.

Radley mengungkapkan, terdapat beberapa perusahaan yang menyatakan bahwa mereka tidak akan sanggup mengatasi peningkatan biaya yang terjadi di Inggris karena krisis ini juga diikuti dengan peningkatan upah buruh.

"Tetapi tidak ada bukti bahwa upah naik secara signifikan. Menurut catatan kami, perusahaan masih membayar upah pekerjanya sekitar tiga persen dari seluruh struktur biaya produksi," ujarnya, seperti dikutip Selasa (4/3/2008).

Sedangkan Panitia Pembuat Undang-Undang Inggris mengatakan bahwa investasi harus difokuskan kepada produk yang dijual.

Fluktuasi berbagai indikator bisnis yang terjadi di Inggris sejak Agustus lalu telah membuat masalah serius dalam sektor industri Inggris. Sementara itu, indeks saham di Inggris turun sebanyak 1,4 persen karena dipengaruhi isu ekonomi Amerika Serikat (AS) yang terancam resesi kemarin.

Penurunan ini juga terjadi hampir di seluruh Eropa. Bahkan indeks saham Jepang turun sebanyak 4,5 persen akibat pernyataan analis Wall Street terhadap keadaan ekonomi AS yang terpuruk. (Rahma Regina/Sindo/rhs)

Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4