ekonomi global
Inflasi China Menunjukkan Tren Terus Naik
Selasa, 11 Maret 2008 - 11:00 wib
Berita Lainnya

BEIJING - Inflasi China kemungkinan mencatat rekor tertinggi baru dalam 11 tahun, yakni 8,3 persen pada Februari. Kenaikan ini didukung melonjaknya harga pangan.

Mengutip riset dari Bank of China, kantor berita China Xinhua melaporkan, estimasi itu nampaknya masih menunggu data inflasi resmi dari Biro Statistik Nasional yang digunakan otoritas untuk memutuskan apakah akan memperketat kebijakan moneter.

Inflasi Januari tercatat 7,1 persen, angka tertinggi sejak September 1996. Bank yang merupakan pemberi pinjaman terbesar kedua di China itu mengatakan dalam laporannya bahwa indeks harga konsumen pada Februari terdorong naik, terutama makanan yang naik lebih dari 22 persen dibanding setahun sebelumnya. Ekonomi China (terbesar keempat di dunia) bertumbuh 11,4 persen pada 2007, merupakan pertumbuhan double-digit yang kelima berturut-turut.

Sementara Menteri Buruh China Tian Chengping memperingatkan, negeri itu kini menghadapi masalah pengangguran yang sangat berat. "Sebanyak 20 juta tenaga kerja baru masuk ke pasar tenaga kerja setiap tahun, tetapi yang terekrut cuma 12 juta tenaga kerja," paparnya, seperti dikutip AFP, Selasa (11/3/2008).

Tian menegaskan, para pengusaha mengeluhkan rendahnya keahlian yang dimiliki pekerja dan China harus memperbanyak latihan keterampilan.

"Pemerintah bertujuan mengurangi pengangguran di bawah 4,5 persen," ujarnya dalam salah satu sesi di NPC di Beijing.

"Pemerintah bertekad menciptakan 10 juta lapangan kerja baru tahun ini dan mencarikan pekerjaan bagi 5 juta tenaga kerja yang dipecat," kata Tian.

Sementara itu, Wakil Menteri Sipil China Li Liguo menegaskan perlunya dana yang lebih banyak untuk membangun ulang fasilitas publik yang rusak akibat badai salju pada Januari. Pertanyaan itu diutarakan Li dalam salah satu sesi NPC.

"Untuk 1,66 juta penduduk yang dipindahkan karena rumahnya roboh, pemerintah juga harus menyediakan bantuan pada lebih dari 17 juta orang yang menderita kekurangan pangan. Kita juga menghadapi masalah berat untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak," papar Li. (Rahma Regina/Sindo/rhs)
250x208 250x250