Kisah Sukses


Atsutoshi Nishida, Sang Pemicu Bom Waktu

Sabtu, 15 Maret 2008 - 09:06 wib
text TEXT SIZE :  
Share

JAKARTA - Keputusannya menyetop produksi HD DVD disayangkan banyak kalangan. Selain akan kehilangan pendapatan senilai 24 miliar yen, Toshiba juga berpotensi menghadapi masalah lain yang amat pelik.
 
Tiada yang lebih sengit, selain duel antara Sony dan Toshiba. Persaingan tajam di antara gergasi elektronik asal Jepang ini, terutama dalam memperebutkan pasar produk pemutar disk. Selain saling menggebrak harga dan keunggulan teknologi, peperangan antardua merek ini sudah berlangsung sangat lama, lebih dari satu dekade.

Nah, memasuki tahun ini, pertarungan klasik itu diramalkan segera berakhir. Yang mengejutkan, tampaknya dewi kemenangan akan berpihak pada Sony. Toshiba menyerah kalah? Rupanya begitu. Bagi industri ini, kemenangan di pihak lawan mungkin saja dipandang sebagai keniscayaan. Setidaknya, hal itu dipertegas oleh keputusan manajemen Toshiba yang dilansir bulan lalu, yang intinya, mulai Maret ini mereka akan menyetop produksi HD DVD (high definition digital versatile disc). Untuk diketahui, HD DVD adalah produk pesaing Blu-ray buatan Sony.

Kebijakan yang tergolong kontroversial itu, ternyata tak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinan Atsutoshi Nishida sebagai Chief Executive Officer (CEO) Toshiba Corporation. Ia terpaksa mengambil keputusan itu, dalilnya, karena pihaknya tak ingin selamanya terjebak dalam persaingan.

"Bagi kami, (persaingan) dalam jangka panjang tak akan ada manfaatnya lagi," katanya, seperti dikutip, Sabtu (15/4/2008).

Nyatanya, selama ini energi Toshiba terkuras habis hanya untuk meladeni perang dengan Sony. Padahal, katanya, masih ada celah lain yang bisa digarap.

Ihwal persaingan Toshiba vs Sony sudah dimulai sejak 1980-an, seiring mulai ngetrennya produk pengganti pemutar video. Kala itu, banyak industri pun berlomba membuat pemutar cakram (disk).
Maraknya produksi alat pemutar ini di kalangan industri terus berkembang. Lalu, pada 1990, Sony dan Toshiba (di saat yang hampir bersamaan) berhasil menemukan teknologi pemutar digital, atau VCD player. Keduanya pun terus berlomba mengembangkan alat ini.

Akhirnya pada Maret 2006 Toshiba berhasil memperkenalkan generasi terbaru, HD DVD. Kala itu, harga setiap unitnya ditawarkan berkisar USD500-800. Tiga bulan kemudian, Sony menggebrak dengan Blu-ray yang dibanderol sekitar USD700 per unit. Keunggulan Blu-ray ketimbang lawannya itu, mampu menyimpan data dengan kapasitas hingga 50 gigabit (GB). Sementara HD DVD hanya 30 GB.

Berkat keunggulan itu, wajar jika Blu-ray lebih diminati pasar. Tak kurang dari sejumlah produsen film di Hollywood pun--di antaranya Warner Bross, Universal Studios, Sony Pictures, Walt Disney, dan Century Fox--secara terang-terangan berniat memproduksi film dengan format Blu-ray. Karena itu pula, kabarnya, yang makin memicu Nishida mengambil kebijakannya tadi. "Pasar sudah tak mendukung produk kami," dalihnya.

Sungguh, keputusan teramat berisiko. Bagaimana tidak. Meski banyak pelanggan Toshiba yang pindah haluan ke merek lain, sebenarnya HD DVD masih memiliki penggemar setia tergolong kakap, seperti Microsoft dan sejumlah produsen film lainnya. Lebih dari itu, Toshiba juga harus rela kehilangan pendapatan, yang nilainya mencapai USD24 miliar per tahun.

Tak pelak, keputusannya itu dicerca banyak kalangan. Kendati begitu, Nishida tetap tak goyah. Ngotot memasarkan HD DVD, katanya, juga berarti memelihara kerugian dalam jangka panjang. Tren ke arah sana sudah di depan mata. Pangsa pasar HD DVD berkurang sekitar 30 persen hanya dalam waktu segera.

Problem lain, layaknya yang dialami para pelanggan Toshiba yang sudah mengikat kontrak menggunakan HD DVD. Gara-gara produksinya distop, mereka jadi kebingungan. Contohnya saja Microsoft yang sudah memformat sebagian mesin mainannya, seperti X-Box, dengan peranti ini. Atau DreamWorks Animation dan Paramount Picture yang sudah mengantongi kontrak selama 18 bulan untuk menggunakan HD DVD.

Malah Berkongsi dengan Sony


Menyikapi berbagai permasalahan itu, rupanya Nishida telah menyiapkan solusi. Di antaranya menawarkan kompensasi kepada DreamWorks Animation dan Paramount, masing-masing sebesar USD150 juta.

Tapi langkah seperti itu dinilai masih belum memadai. Masalahnya, bisa saja para pelanggan itu merasa tidak puas atas kompensasi yang ditawarkan, kemudian menggugatnya ke pengadilan. Dan kecenderungan seperti itu, ibarat bom waktu, sewaktu-waktu bisa meledak.

Bila hal itu benar terjadi, alamat karir Nishida di Toshiba akan segera berakhir. Sepak terjang Nishida memang tengah menjadi sorotan banyak kalangan. Kendati begitu, ia mengaku tak dibuatnya stres, bahkan tetap menikmati pekerjaannya. Nyatanya, ia masih sempat menyalurkan hobi, di antaranya membaca buku. Dalam sebulan, ia sanggup membaca sekitar 10 judul dari berbagai topik. Mulai dari politik, ekonomi, teknologi, hingga fiksi.

Terlepas dari kontroversi tersebut, sejatinya Nishida dikenal sebagai eksekutif yang andal. Setelah Toshiba di bawah kendalinya (sejak 2005), terbukti kinerja industri ini terus membaik. Pada 2005, pendapatan perusahaan masih tercatat 5,8 triliun yen, dengan laba 46 miliar yen.

Dua tahun kemudian, omzetnya membengkak menjadi 7,1 triliun yen, dengan laba 137,4 miliar yen. Pencapaian nan luar biasa.
Meski telah meninggalkan gelanggang persaingan di jalur produk pemutar DVD, sebenarnya, bukan berarti Toshiba menyerah total. Nyatanya, industri yang telah beroperasi sejak 1939 ini, saat ini tengah mengembangkan proyek pemutar DVD dari generasi terbaru.

Selain teknologinya lebih canggih, produk baru ini dirancang akan lebih murah ketimbang Blu-ray. Lebih canggih, karena produk ini bisa diintegrasikan dengan perangkat komputer, sehingga film yang dibuat dengan format ini bisa langsung diedit.

Soal omzet dari HD DVD yang hilang, pun Nishida telah menyiapkan strategi pengganti. Di antaranya dengan menggenjot penjualan digital products (seperti personal computer, pesawat TV, dan optical disc drive) lebih tinggi lagi. Hanya dari menjual produk-produk itu, tahun lalu Toshiba berhasil memetik pendapatan sebesar 1,4 triliun yen, meningkat sekitar 123 miliar yen ketimbang tahun sebelumnya.

Strategi lainnya, ia lebih serius menggarap pasar semikonduktor. Hal ini perlu dilakukan, mengingat penggunaan prosesor serta berbagai peralatan berteknologi digital lainnya belakangan ini terus meningkat. Seiring dengan itu, otomatis, permintaan akan semi konduktor juga makin meroket.

Dari penjualan produk ini selama tahun lalu, Toshiba berhasil mengeruk pendapatan lebih dari 883 miliar yen. Uniknya, dalam mengembangkan produk ini, Nishida malah memilih bekerja sama dengan Sony. Kongsi yang menelan investasi sekitar 100 miliar yen ini akan berlangsung mulai April nanti.

Sebenarnya pula, pria kelahiran Tokyo 64 tahun lalu ini tak memiliki latar belakang pendidikan bidang elektronik. Sebelum bergabung dengan Toshiba pada 1975, ayah dua anak ini sempat menyelesaikan program doktornya, uniknya, malah di bidang politik.

Entah mengapa ia akhirnya berkarir di industri elektronik. Dasar kutu buku, ia bisa dengan cepat beradaptasi di lingkungan kerjanya. Tak banyak yang tahu, pada 1980-an Nishida memiliki prestasi tergolong spektakuler, yakni memelopori pengembangan komputer jinjing. Melihat reputasinya yang begitu mengesankan, sebenarnya tiada yang perlu disangsikan dari sosok seorang Nishida. (Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share