TAY NINH - Pemimpin komunis di Vietnam mulai memberikan kebebasan dalam upaya meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).
Keterbukaan ini membuka pintu bagi para penganut agama di Vietnam, khususnya aliran kepercayaan yang selama ini dilarang, Caodai. Caodai adalah aliran kepercayaan yang telah menyebarkan kepercayaannya di Vietnam sejak 1920-an. Caodai menganggap Joan of Arc, Sun Yat Sen, serta Victor Hugo sebagai orang suci.
Mereka menyatukan Barat dan Timur sehingga menghasilkan ajaran sendiri dengan berpatok pada ajaran Buddha dan Katolik. Setelah kelompok komunis Vietnam menguasai daerah bagian selatan pada 1975, Hanoi menekan Caodai sehingga memaksa mereka untuk hidup sembunyi-sembunyi di tengah migran dari seluruh dunia yang menempati daerah tersebut.
Namun, beberapa tahun belakangan Vietnam mulai mengizinkan pengikut aliran kepercayaan untuk berekspresi. Hal ini karena Vietnam ingin mengurangi imej bahwa negara tersebut melarang kebebasan beragama di mata AS sehingga bisa menjadi rekan dagang utamanya.
Vietnam berencana untuk melakukan perdagangan bebas yang tergantung pada sektor ekspor dan investasi asing.Perusahaan AS seperti Intel Corp dan Ford Motor Co menanamkan investasi yang cukup besar di Vietnam. Sebelumnya AS melakukan embargo terhadap Vietnam untuk urusan ekonomi selama kepemimpinan Bill Clinton pada 1994.
Saat ini konsumen AS telah membeli satu per lima dari total ekspor Vietnam sehingga membantu Vietnam meningkatkan pertumbuhan ekonominya hingga mencapai 7,5 persen semenjak 2000. Terkadang, isu agama muncul di dalam transaksi perdagangan.Kongres AS telah beberapa kali menegaskan bahwa mereka adalah negara yang menjunjung kebebasan beragama ketika melakukan negosiasi perdagangan dengan Vietnam.
Bahkan, Presiden George W Bush sempat mengunjungi Gereja Katedral yang ada di Hanoi ketika menghadiri pertemuan ekonomi pada 2006. Pemimpin Vietnam yakin bahwa mereka tidak akan bisa meningkatkan hubungan dengan AS jika masih mengekang agama dan kepercayaan.
Maka, pemerintah mulai membuat jaringan dengan tokoh-tokoh agama. Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung mengunjungi Paus Benediktus XVI di Vatikan tahun lalu untuk meningkatkan hubungan dengan gereja-gereja Katolik.Agamaagama besar seperti Katolik, Buddha,dan Caodisme saat ini dilindungi pemerintah yang ditetapkan sejak 2004.
Bagi Caodisme, sikap pemerintah ini membantu proses perekrutan ketika masyarakat banyak yang pindah ke perkotaan untuk memperbaiki hidup mereka sehingga membutuhkan agama sebagai pegangan. Lu Duc Ly, 25, mengaku bahwa dia menganut Caodisme setelah dia pindah ke Kota Ho Chi Minh yang berpenduduk sekitar 10 juta orang untuk bekerja sebagai penjaga pintu.
"Ini adalah cara saya untuk menghabiskan waktu ketika saya tidak bekerja," ujarnya. Pengikut Caodisme kebanyakan berada di Tay Ninh. Sebagian ajaran tersebut berpegang pada Vatikan yang kebanyakan mengikuti Katolik. Orang suci yang mereka sembah kebanyakan berasal dari seorang nasionalis atau tokoh revolusioner dalam sejarah.
Semenjak kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam rangka mengambil simpati AS agar bisa menjadi rekan dagang utama Vietnam, Caodisme mengalami ledakan pengikutnya. Kekuasaan terbesar Caodisme dipegang Thuong Tam Thanh yang berusia 74 tahun. Dia mengaku khawatir apakah tempat ibadah yang tersedia sekarang bisa menampung ribuan pengikut.
"Kami tidak pernah melihat pengikut sebanyak ini dalam 10 tahun terakhir," ujarnya. Di dalam Kuil Caodis Grand Divine, terpampang patung Yesus, Buddha, dan Konfusius. Sementara sang pendeta menerangkan bahwa banyak cara untuk mendapatkan pencerahan.Kebebasan mereka berekspresi baru terlaksana belakangan ini, tetapi kebebasan tersebut belum terealisasi dalam politik.
Beberapa kelompok Protestan yang aktif dalam komunitas suku dilarang begitu pula dengan kelompok- kelompok Buddha yang ada di Vietnam. " Memang beberapa hak beragama mulai terbuka akan tetapi masih banyak hal lain yang masih dilarang," ujar Pastor Le Trong Cung,seorang pemuka Katolik Roma di Hanoi.
Dia mengatakan, pengangkatan pastor ke beberapa provinsi harus disetujui pemerintah. Hingga sekarang Gereja Katolik masih dilarang membuka sekolah walaupun negara tersebut kekurangan institusi pendidikan. Meski demikian, sikap pemerintah yang mengizinkan kebebasan beragama telah menambah pengikut Katolik hingga menjadi tujuh juta orang pengikut.
Hal ini mengakibatkan masalah baru, yaitu persaingan antara Katolik dengan Caodisme. Pemerintah Vietnam melegalkan Caodisme pada 1997 walaupun beberapa ritual masih dilarang, seperti melakukan pemanggilan roh untuk menunjuk pendeta.
Pemicu diizinkannya Caodisme terjadi pada 2006, ketika itu pemerintah mengizinkan salah satu pendiri Caodisme untuk dikuburkan ke tanah airnya dari Kamboja. Padahal, sebelumnya pemerintah melarang adanya upacara agama apapun selama puluhan tahun."Kami telah mengalami berbagai kesulitan selama ini, tetapi sekarang keadaannya jauh lebih baik," ujar Tanh.
(Rahma Regina/Sindo/rhs)
ekonomi global
Vietnam Makin Terbuka
Selasa, 25 Maret 2008 - 11:26 wib
Berita Lain
-
Rabu, 15/10/2008 12:10
"Ikat Pinggang" Hong Kong Diperketat -
Rabu, 15/10/2008 12:10
Cadangan Devisa China USD2 Triliun -
Rabu, 15/10/2008 12:10
Resesi Mengancam Jerman -
Rabu, 15/10/2008 11:10
The Fed: Ekonomi AS Akan Alami Resesi -
Rabu, 15/10/2008 09:10
BOJ Kembali Suntikkan 1,2 T Yen