Pasar perdana adalah pasar di mana efek-efek diperdagangkan untuk pertama kalinya, sebelum dicatatkan di Bursa Efek. Di sini, saham dan efek lainnya untuk pertama kalinya ditawarkan kepada investor oleh pihak Penjamin Emisi (Underwriter) melalui Perantara Pedagang Efek (Broker-Dealer) yang bertindak sebagai Agen Penjual saham. Proses ini biasa disebut dengan Penawaran Umum Perdana (Initial Publik Offering/IPO).
Pasar sekunder adalah pasar di mana efek-efek yang telah dicatatkan di Bursa Efek diperjual-belikan. Pasar Sekunder memberikan kesempatan kepada para investor untuk membeli atau menjual efek-efek yang tercatat di Bursa, setelah terlaksananya penawaran perdana. Di pasar ini, efek-efek diperdagangkan dari satu investor kepada investor lainnya.
Membeli saham di pasar perdana memiliki karakteristik yang berbeda dengan membeli saham di bursa atau pasar sekunder. Kendati sama-sama melalui perusahaan efek (broker), tapi membeli saham di pasar perdana butuh strategi khusus, apalagi bila membeli saham tersebut dimaksudkan guna memperoleh capital gain begitu saham dicatatkan dan diperdagangkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Tidak hanya itu, mengajukan pembelian saham di pasar perdana dewasa ini juga tidak segampang dulu. Artinya investor belum pasti mendapatkan sesuai dengan jumlah yang diinginkan. Karena apa?
Untuk itu ada beberapa strategi yang bisa dilakukan investor sebelum melakukan Pembelian saham di pasar perdana baik terkait dengan kepastian memperoleh capital gain maupun kepastian mendapatkan saham sesuai dengan jumlah yang diinginkan.
Pertama pastikan bahwa saham perusahaan yang ditawarkan merupakan industri yang memiliki prospek bagus. Setelah itu perlu dilihat dengan seksama posisi calon emiten tersebut dalam industrinya. Apakah calon emiten tersebut leader, atau sebagai follower. Apabila merupakan leading pada industrinya sudah barang tentu sahamnya akan sangat menarik karena calon emiten tersebut akan menjadi patokan bagi industri sejenis yang ada. Namun bila calon emiten tersebut merupakan follower, perlu diperhatikan adalah pangsa pasar dari produk yang dihasilkannya. Mencermati posisi calon emiten dalam sebuah industri ini sangat penting dilakukan oleh calon investor saham agar tujuan capital gain bisa dicapai.
Langkah Kedua dengan cara mempelajari prospektus dan laporan keuangannya. Lihat struktur keuangannya, mulai dari neraca, laporan laba & arus kas, aktiva dan total hutang. Prospektus yang berisi laporan keuangan secara lengkap dalam tiga tahun berturut-turut dimaksudkan sebagai pembanding keberhasilan calon emiten tersebut menjalankan bisnisnya. Dalam prospektus juga akan terlihat tujuan yang hendak dicapai, ekspansi yang akan dilakukan guna meningkatkan kinerja perusahaan, termasuk didalamnya adalah kebijakan manajemen dalam pembagian keuntungan. Dalam prospektus juga dicantumkan mengenai risiko dari perusahaan.
Sedangkan faktor ketiga adalah terkait dengan harga saham yang ditawarkan. Terkait dengan penawaran harga saham, wajib dilakukan investor adalah dengan membandingkan penawaran harga saham. Pendekatan yang paling sederhana adalah dengan melihat rasio harga dengan pendapatannya atau yang biasa disebut dengan PER (price erning ratio). Selanjutnya setelah mengetahui rasio harga saham tersebut, calon investor harus membandingkan PER dari saham yang akan ditawarkan tersebut dengan PER rata-rata industri sejenis yang tercatat di BEI. Apabila hasilnya lebih tinggi, maka harga perdana dari saham itu menjadi tidak menarik. Untuk itu yang perlu dipastikan bahwa PER dari calon emiten yang akan menawarkan saham tersebut harus berada di bawah rata-rata industri. Kalau PER rata-rata industri ada pada bilangan 18 kali, maka PER dari emiten yang akan menawarkan saham harus berada di bawahya atau sama dengan 18 kali.
Sementara itu kalau ternyata calon emiten yang menawarkan sahamnya itu belum termasuk industri yang telah ada di BEI, yang harus dilakukan investor adalah dengan membandingkan harga penawaran dengan saham-saham tercatat yang mendekati dari industri yang ditawarkan. Misalkan calon emiten itu adalah perusahaan yang mengelola gedung perkantoran kita anggap secara spesifik industri ini belum ada di BEI untuk itu investor perlu merujuk ke saham-saham sektor properti atau ke saham-saham yang menangani bidang marketing.
Faktor keempat yang perlu juga mendapat perhatian adalah dari sisi manajemen perusahaan, jumlah saham yang ditawarkan serta kapitalisasi pasar dari emiten. Dari sisi manajemen misalnya, terkait dengan good corporate governance (GCG). Sementara terkait dengan jumlah saham, maka semakin besar saham yang ditawarkan maka peluang saham itu nantinya akan likuid di pasar sangat tinggi. Faktor-faktor tersebut merupakan strategi yang paling sederhana yang bisa dilakukan investor sebelum melakukan pembelian saham di pasar perdana.
Dalam pasar perdana biasanya penawaran pertama yang akan lebih dulu dilayani. Memiliki rekening di perusahaan efek ini juga sangat menguntungkan bagi calon investor saham perdana apalagi jika ternyata perusahaan efek tersebut merupakan penjamin emisi atau agen penjual dari saham calon emiten yang tengah menawarkan sahamnya. Berarti kepastian memperoleh jumlah saham sesuai dengan yang diinginkan peluangnya semakin besar. Beberapa strategi di atas hanyalah sekilas yang bisa dijadikan salah satu acuan investor dalam membeli saham di pasar perdana. Namun jangan lupa dengan faktor-faktor yang tak terduga dalam investasi. Karena faktor diluar dugaan ini yang selalu menjadikan investasi saham menjadi sangat menarik. (tim bei)
(//mbs)