ekonomi global
Pangan Picu Instabilitas
Rabu, 9 April 2008 - 09:08 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 19/08/2008 08:08
Badai Fay Reda, Harga Minyak Juga Melandai -
Senin, 18/08/2008 16:08
Keuntungan BHP Billiton USD15,4 Miliar -
Senin, 18/08/2008 14:08
Badai Fay Picu Kenaikan Harga Minyak -
Senin, 18/08/2008 12:08
Irak bebaskan Kontrak Minyak Jangka Pendek -
Sabtu, 16/08/2008 16:08
Cadangan Minyak Nigeria Sentuh 33,6 Miliar Barel

Pengamat menilai hal ini bisa memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Para pemimpin politik Asia kini khawatir akan potensi terjadinya kekacauan sosial karena banyak orang yang pindah ke daerah lain untuk mendapatkan harga beras lebih murah.
"Ada kegelisahan dan negara yang lebih miskin akan lebih merasakan dampaknya dibandingkan dengan negara kaya seperti Malaysia dan Singapura," ujar Ooi Kee Beng, peneliti di In-stitute of Southeast Asian Studies di Singapura, seperti dilansir Reuters, Rabu (9/4/2008).
Sektor properti Filipina dan Bangladesh pun turut terpukul oleh harga pangan yang semakin tinggi. "Peningkatan harga pangan menjadi ancaman serius bagi pemerintah untuk bertahan," ujar politikus Bangladesh, Ataur Rahman.
Dia juga mengatakan hal ini bisa menyebabkan ketidakpuasan yang serius, protes, dan kekerasan juga akan terjadi jika harga pangan tetap naik. Warga Bangladesh dan masyarakat Indonesia yang miskin diperkira-kan akan menghabiskan 70 persen atau lebih dari total pengeluarannya hanya untuk makanan.
Filipina, salah satu negara importir beras terbesar di dunia, mengirimkan pasokan untuk membagikan beras ke daerah-daerah miskin karena khawatir akan kekurangan persediaan pangan. Para analis mengatakan, penderitaan ekonomi menyebabkan sekitar 100.000 masyarakat miskin di Myanmar mengadakan protes tahun lalu.
Jika keadaan saat ini masih berlanjut hingga ke level yang lebih berbahaya,maka tidak tertutup kemungkinan protes tersebut akan kembali terjadi. Para ahli mengatakan, harga minyak mentah global yang meningkat telah menjadi salah satu faktor inflasi di Asia. Harga bahan bakar minyak secara langsung menambah beban negara-negara miskin. (sindo//hsp)


