MANILA - PBB terpaksa memangkas jatah pangan kepada jutaan orang di Filipina bagian selatan karena harga pangan dunia yang semakin tinggi.
Program Pangan Dunia PBB (WFP) hanya mempunyai persediaan pangan sebanyak 4.000 ton di dalam gudang persediaan daerah konflik, Mindanao.
Wakil Direktur Agen PBB Filipina, Alghassim Wurie, mengatakan persediaan ini hanya cukup untuk dua bulan. "Jika WFP gagal mencari tambahan dana untuk persediaan pangan, maka mereka terpaksa memotong jatah pangan dan yang paling terkena dampaknya adalah wanita dan anak-anak," ujarnya.
Wurie juga mengimbau kepada komunitas donor, pemerintah, dan perusahaan di sektor swasta untuk memberikan kucuran dana agar WFP bisa memberikan bantuan kepada Filipina. Dia mengatakan, WFP membutuhkan sekitar USD500 juta tahun ini karena harga pangan yang semakin naik. Sementara itu, WFP juga membutuhkan USD19 juta untuk biaya operasional di Mindanao.
WFP telah memberikan pangan kepada sekitar 1,6 juta orang di Mindanao tahun lalu. Kebanyakan mereka adalah wanita dan anak-anak di lima provinsi utama di Mindanao yang terlantar akibat pemberontakan separatis.
WFP juga menjalankan program pertukaran makanan dengan edukasi. Program ini dilaksanakan di Mindanao, tempat anakanak diminta untuk kembali bersekolah. Sebagai imbalannya, mereka dan keluarganya akan diberikan pangan.
Sementara itu, Presiden Gloria Arroyo mengimbau kepada publik agar jangan panik ketika harga pangan meningkat. Sebab, Filipina mempunyai persediaan pangan yang cukup. Persediaan tersebut berasal dari produksi lokal dan juga impor dari luar negeri. Namun, ini menjadikan Filipina sebagai negara importir terbesar di dunia.
Arroyo menolak jika Filipina dikatakan sedang menghadapi kerusuhan akibat harga pangan yang semakin tinggi. Dia juga menyatakan akan memenjarakan siapa saja yang menimbun atau menyelundupkan pangan yang telah disubsidi.
Para analis mengatakan, peningkatan harga komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok di negara tersebut bisa menyebabkan kegelisahan sosial dan masalah keamanan, di mana sepertiga masyarakatnya kini hidup dengan satu dolar atau kurang per harinya.
(Rahma Regina/Sindo/rhs)