ekonomi global
China Waspadai Tekanan Inflasi
Minggu, 20 April 2008 - 14:21 wib
Nuria - Okezone
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 09:07
Harga Minyak Ambles USD3 per Barel -
Rabu, 23/07/2008 09:07
UE-AS Tuntut Akses Pasar Ekspor -
Selasa, 22/07/2008 12:07
Kuartal II-2008
Laba American Express Ambles 38% -
Senin, 21/07/2008 14:07
Inggris Hadapi Resesi Tahun Depan -
Senin, 21/07/2008 09:07
Putaran Doha Masih Alot
BEIJING - China perlu mengingatkan kembali kepada publik mengenai tekanan inflasi yang menyebar dari makanan ke produk lain.
Demikian dikemukakan, Asisten Gubernur Bank Sentral China, Du Jinfu, seperti dikutip Reuters, Minggu (20/4/2008).
Tingkat inflasi secara tahunan dari 8,7 persen pada Februari menjadi 8,3 persen pada Maret merupakan faktor musim dan tidak perlu ada kebijakan untuk merelaksasikan.
"Inflasi adalah masalah ekonomi yang tengah dihadapi dan pemerintah memiliki tugas untuk mengendalikan kenaikan harga yagn terus meroket pada tahun ini," ungkap Du.
"Tekanan inflasi domestik terus berlanjut. Kenaikan harga meroket cepat. Pemerintah perlu hati-hati tentang kenaikan harga yang mengarah ke produk nonmakanan," lanjutnya.
Du mengatakan, pemotongan tingkat suku bunga pada Bank Sentral AS telah mempengaruhi beberapa kebijakan di China.
Du tidak mengarahkan pada pemotongan tingkat suku bunga, tetapi pejabat lain mengatakan rendahnya tingkat suku bunga AS membuat pemerintah China menaikkan tingkat suku bunganya. Hal ini untuk mengatasi aliran dana yang masuk atas spekulasi mata uang yuan.
menurutnya, saat ini pemerintah perlu mengupayakan pengamanan atau mengatakan pada bank untuk menahan pinjaman.
Tanpa memaparkan lebih lanjut, Du mengatakan perlambatan ekonomi dan kenaikan harga makanan di tingkat global juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi China. Du juga menyebutkan adanya rebound dalam investasi.
Deputi Direktur Riset di Pemerintahan, Hou Yunchun, mengatakan realisasi inflasi akan lebih tinggi dibanding target dan pertumbuhan ekonomi akan menurun pada tahun ini.
"Ada kemungkinan terjadi stagflasi," ungkap Hou, tanpa menjelaskan secara rinci.
Hou menambahkan, Beijing perlu adanya peningkatan kontrol pada industri keuangan. Sejumlah industri seperti makanan dan energi perlu untuk meningkatkan stabilitasnya.
"Industri keuangan adalah salah satu institusi yang bisa mengamankan China," katanya. (mbs)
Demikian dikemukakan, Asisten Gubernur Bank Sentral China, Du Jinfu, seperti dikutip Reuters, Minggu (20/4/2008).
Tingkat inflasi secara tahunan dari 8,7 persen pada Februari menjadi 8,3 persen pada Maret merupakan faktor musim dan tidak perlu ada kebijakan untuk merelaksasikan.
"Inflasi adalah masalah ekonomi yang tengah dihadapi dan pemerintah memiliki tugas untuk mengendalikan kenaikan harga yagn terus meroket pada tahun ini," ungkap Du.
"Tekanan inflasi domestik terus berlanjut. Kenaikan harga meroket cepat. Pemerintah perlu hati-hati tentang kenaikan harga yang mengarah ke produk nonmakanan," lanjutnya.
Du mengatakan, pemotongan tingkat suku bunga pada Bank Sentral AS telah mempengaruhi beberapa kebijakan di China.
Du tidak mengarahkan pada pemotongan tingkat suku bunga, tetapi pejabat lain mengatakan rendahnya tingkat suku bunga AS membuat pemerintah China menaikkan tingkat suku bunganya. Hal ini untuk mengatasi aliran dana yang masuk atas spekulasi mata uang yuan.
menurutnya, saat ini pemerintah perlu mengupayakan pengamanan atau mengatakan pada bank untuk menahan pinjaman.
Tanpa memaparkan lebih lanjut, Du mengatakan perlambatan ekonomi dan kenaikan harga makanan di tingkat global juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi China. Du juga menyebutkan adanya rebound dalam investasi.
Deputi Direktur Riset di Pemerintahan, Hou Yunchun, mengatakan realisasi inflasi akan lebih tinggi dibanding target dan pertumbuhan ekonomi akan menurun pada tahun ini.
"Ada kemungkinan terjadi stagflasi," ungkap Hou, tanpa menjelaskan secara rinci.
Hou menambahkan, Beijing perlu adanya peningkatan kontrol pada industri keuangan. Sejumlah industri seperti makanan dan energi perlu untuk meningkatkan stabilitasnya.
"Industri keuangan adalah salah satu institusi yang bisa mengamankan China," katanya. (mbs)


