ekonomi global
Larangan Ekspor Beras Dikritik
Rabu, 23 April 2008 - 09:26 wib
Berita Lainnya
-
Jum'at, 05/09/2008 09:09
Harga Minyak Kian Merosot -
Jum'at, 05/09/2008 08:09
Sukses Perluas Pasar melalui Akuisisi -
Kamis, 04/09/2008 16:09
Simposium Ekonomi Global Pertama Digelar -
Kamis, 04/09/2008 12:09
Brasil Tolak Ajakan Iran Masuk OPEC -
Kamis, 04/09/2008 12:09
Kurang Dana, Harian The New York Sun Tutup

Beras di gudang Bulog (Foto:Sindo)
Sejumlah negara di Asia langsung melakukan pembatasan ekspor beras. Padahal seharusnya tindakan yang lebih urgen adalah merangsang peningkatan penghasilan masyarakat miskin.
Rajat Nag, Direktur Pelaksana Umum ADB, mengatakan harga beras dunia meningkat. Namun, ini bukan hanya karena harga saham turun hingga ke level terendah dalam satu dekade terakhir sehingga terjadi peralihan investasi ke komoditas, tetapi juga karena peningkatan penghasilan, harga minyak yang tinggi, dan cuaca buruk disertai panen yang stagnan.
"Zaman beras murah telah berakhir, tetapi reaksi negara- negara sepertinya agak berlebihan. Padahal persediaan masih cukup," ujar Nag pada acara Asosiasi Koresponden Asing Singapura kemarin.
Kekhawatiran terhadap persediaan pangan menyebabkan negara-negara produsen pangan di Asia melakukan pembatasan ekspor.
Inflasi pangan juga terjadi di negara-negara seperti India dan Vietnam.Akibatnya, Vietnam membatasi ekspornya untuk mengendalikan harga pangan di negeri sendiri. "Pembatasan ekspor tidak ada bedanya dengan menimbun beras, tapi di level nasional," ujar Nag.
Harga beras di Thailand telah meningkat lebih dari dua kali lipat.Nag juga mengakui Asia mengalami peningkatan harga pangan yang sangat tinggi tetapi bukan kekurangan persediaan pangan. Dia juga mengatakan negara-negara di Asia seharusnya memberikan bantuan langsung kepada masyarakat miskin. Hal ini bisa ditempuh untuk menahan peningkatan harga pangan.
"Isunya telah jelas, kemampuan untuk membeli. Masyarakat miskin harus segera mendapatkan bantuan. Lebih baik melakukan rangsangan keuangan langsung dibandingkan dengan kebijakan moneter," ujarnya.
Pernyataan ADB juga didukung oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan PBB. Mereka sama-sama mendesak negara-negara di dunia untuk menjamin masyarakat miskin agar bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Tindakan ini lebih diharapkan dibandingkan dengan melakukan pembatasan ekspor. Nag sendiri mengatakan, harga pangan yang telah tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Harga pangan pun tidak akan kembali murah seperti sediakala. Dunia harus membiasakan hal ini. "Saya pikir kita tidak berbicara tentang kelaparan. Sebenarnya persediaan tidak kurang, tapi masalahnya berada di sektor distribusi. Persediaan tidak ada ketika permintaan muncul,"ujar Nag.
Tahun lalu, permintaan beras internasional meningkat 0,9 persen, sedangkan peningkatan produksi hanya mencapai 0,7 persen. Walaupun persediaan Asia berada di level terendah di dalam 10 tahun terakhir, ADB tetap yakin masih cukup untuk memenuhi permintaan. Nag yakin bahwa tindakan beberapa negara seperti Vietnam dan India yang membatasi ekspor beras tidak akan berfungsi dalam jangka panjang.
"Kami percaya bahwa tindakan itu tidak akan efektif untuk mengontrol harga beras dan krisis yang terjadi saat ini," ujarnya.
Dalam laporannya pada awal bulan,ADB menyatakan risiko terbesar bagi negaranegara di dunia adalah tingkat inflasi yang diperkirakan akan meningkat menjadi 5,1 persen tahun ini.Hal ini menandakan inflasi tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, ADB bekerja sama dengan Bank Dunia memberikan bantuan dana kepada negara-negara di timur laut. Proyek yang akan dilakukan berupa jalan raya, jembatan, infrastruktur, dan peningkatan perdagangan. Saat ini ada tiga program bantuan dari ADB dan dua program bantuan dari Bank Dunia di daerah timur laut.
Tujuan utama program ini adalah untuk menambah jalan utama sepanjang 1.300 km, 5.500 meter jembatan, dan 4.700 jalan kecil di sepanjang Irlandia dan delapan negara lain di timur laut.Total dana yang dikeluarkan sekitar USD428 juta. Bantuan ini juga bertujuan untuk melancarkan jalur perdagangan yang akan dilakukan negara-negara di daerah tersebut.
Diharapkan, dengan adanya proyek ini, negara-negara di kawasan timur laut bisa berperan aktif di dalam perdagangan internasional yang saat ini sedang mengalami kekacauan pasar keuangan global.
Ritel AS Terpuruk
Sementara itu, krisis perumahan, terhambatnya akses kredit murah, serta melejitnya harga bahan bakar telah menguras pendapatan penduduk Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Akibatnya, pedagang ritel di seluruh AS melaporkan penurunan penjualan.
Survei bulanan yang dilakukan Lembaga Internasional Pusat Perbelanjaan (International Council of Shopping Centers/ICSC) menunjukkan, supermarket di AS mencatat penurunan penjualan hingga 0,5 persen pada Maret dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Penurunan belanja itu menandakan rekor penjualan bulanan terendah dalam 13 tahun terakhir.
Ini mengindikasikan penduduk AS mengurangi belanja mereka setelah khawatir terjadi resesi ekonomi. "Konsumen AS, yang masih tercatat sebagai peng-gerak ekonomi dunia utama hingga saat ini,tengah menahan diri," kata Joseph Quinlan, analis utama Bank of America.
"Utamakan makanan pokok, barang mewah nanti dulu," lanjutnya.Ekonom yakin, entitas perekonomian terbesar di dunia itu akan mengalami resesi pada semester I 2008, apalagi jika konsumen AS memutuskan untuk mengurangi belanja mereka.
Penurunan harga rumah dan tingginya harga BBM memaksa konsumen lebih berhati- hati dengan anggaran mereka. Sementara krisis kredit menyulitkan mereka untuk memperoleh pinjaman murah dari bank yang kesulitan likuiditas. Belanja rumah tangga menjadi motor utama ekonomi AS yang meliputi dua pertiga total aktivitas ekonomi. Ekonom utama ICSC Michael Niemira mengatakan, catatan penjualan terakhir menunjukkan para konsumen khawatir dengan ekonomi. (sindo//hsp)


