ekonomi global


Kisah Sukses Kartu Pintar di Negeri Mullah

Kamis, 24 April 2008 - 08:41 wib
text TEXT SIZE :  
Share

SUBSIDI yang membengkak dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di luar batas tidak hanya menjadi masalah Indonesia. Saat harga minyak dunia melambung, Iran, salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia pun terbentur problem yang sama.

Segala solusi ditempuh pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, termasuk dengan program pembatasan konsumsi BBM melalui smart card (kartu pintar).

Perlahan namun pasti, berbagai kendala telah dilalui sampai akhirnya Iran berhasil menekan konsumsi BBM. Walau menjadi salah satu produsen minyak utama di dunia, permintaan domestik yang meningkat tajam dan persediaan yang tidak mencukupi membuat negara Mullah tersebut harus mengimpor 40 persen kebutuhan BBM.

Populasi Iran yang meningkat dari 40 juta menjadi 68 juta orang sejak 1980 menyebabkan tingkat konsumsi BBM meningkat 13 persen. Penyulingan di negara tersebut tidak bisa memenuhi permintaan warga Iran yang semakin tinggi. Jumlah produksi minyak yang dihasilkan Iran per hari adalah 10,5 juta galon, sedangkan permintaan warga Iran mencapai 18,5 juta galon per hari.

Keadaan ini memaksa Iran mengimpor minyak dan menjadi negara pengimpor minyak terbesar kedua di dunia. KeadaanIransemakinparahketikapemerintah harus menyubsidi minyak sampai dijual seperlima dari harga pasaran. Iran menjadi negara dengan harga jual BBM termurah di dunia,hanya berharga 1.000 rial (setara dengan USD0,11 atau Rp1.000) per liter.

Bandingkan dengan harga premium di Indonesia yang seharga Rp4.500. Keadaan ini membuat Pemerintah Iran harus bertindak cermat agar tidak bergantung terhadap impor minyak. Pemerintah Iran pun berusaha meningkatkan produksi minyak dan menghindari impor. Selain itu, Iran berusaha mengurangi penggunaan BBM serta membangun sistem transportasi publik yang nyaman.

Untuk melaksanakannya, Ahmadinejad membuat tim khusus yang mengeluarkan empat program. Pertama, mengonversi penggunaan bensin dengan bahan bakar gas. Program ini akan dijalankan selama lima tahun dengan target 1,2 juta mobil per tahunnya. Kedua, memusnahkan mobil-mobil yang sudah sangat tua. Program ini akan dijalankan hingga 2010 dengan target 1,2 juta mobil tua yang dimusnahkan per tahun.

Ketiga, per Juni 2007, mobil yang baru diproduksi harus langsung memakai bahan bakar gas. Keempat, dalam waktu lima tahun, 10.000 pom bensin Iran hanya menyediakan bahan bakar gas. Untuk melancarkan konversi tersebut, Pemerintah Iran harus membatasi penggunaan bensin. Pembatasan ini mulai dilaksanakan Rabu, 27 Juni 2007, dan dirancang untuk dilaksanakan selama empat bulan pertama.

Sistem pembatasan ini hanya mengizinkan pengemudi mobil pribadi untuk menggunakan 100 liter (26 galon) bensin per bulannya dengan harga yang telah disubsidi.Taksi diizinkan menggunakan 800 liter (211 galon) bensin per bulan. Warga Iran harus memakai smart card untuk membeli bensin yang telah dijatah tersebut. Program ini disampaikan hanya dua jam sebelum waktu pemberlakuannya.

Pemerintah menyatakan bahwa penggunaan kartu ini akan mengurangi risiko penyelundupan bensin di masyarakat. Tetapi warga mengeluh karena jatah mereka terlalu sedikit dan tidak semua orang mendapatkan kartu. Kebijakan Pemerintah Iran ini sempat mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Malam itu juga, setelah kebijakan tersebut diterapkan, warga Iran bereaksi dengan membakar setidaknya 12 pompa bensin,menjarah bank, dan supermarket.

Mereka meneriakkan slogan anti- Ahmadinejad. Kerusuhan itu menyebabkan 80 orang ditangkap. Beberapa sumber menyatakan beberapa orang lukaluka dan satu wanita tewas di bagian barat daya Iran. Berbagai pihak mengecam Ahmadinejad karena memberlakukan kebijakan tersebut. Sekitar 60 ekonom mengirimkan tulisan kepada Ahmadinejad bahwa harga minyak dunia yang tinggi lantaran salah manajemen serta kebijakan ekonomi yang tidak tepat.

Banyak pakar yang menilai ekonomi Iran yang semakin buruk juga disebabkan ancaman sanksi yang akan dijatuhkan PBB karena program nuklir Iran. Banyak peneliti yang mengatakan kedudukan Ahmadinejad terancam karena kebijakan pembatasan BBM ini.PosisiAhmadinejad makin sulit, namun Ahmadinejad tetap bergeming dengan keputusannya.

Walau diwarnai kerusuhan, program tersebut tetap dijalankan. Lama-kelamaan, warga pun menerima penjatahan tersebut.Dengan cara inilah Iran berhasil membatasi impor minyak. Kepala Eksekutif FACTS Global Energy Fereidun Fesharaki mengatakan, saat ini Iran telah mengurangi impor minyak hingga lebih dari setengahnya, menjadi 94.000 barel per hari dari 223.000 barel.

Dia mengatakan pembatasan penggunaan BBM ini juga mengurangi penyelundupan ke negeri jiran. Selain itu, permintaan domestik terhadap BBM menurun 10 persen. Keberhasilan menekan konsumsi BBM di dalam negeri membuat Iran berpeluang untuk menghentikan impor pada tahun 2012, bahkan bisa mengekspor minyak ke negara lain.

Permintaan terhadap BBM yang menurun membuat Iran bisa meningkatkan produksi minyak mentah. Bahkan, saat ini Iran telah menandatangani beberapa kontrak derivatif untuk ekspor liquid natural gas. (sindo//hsp)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4