Pekerja pabrik (Foto:Sindo)
JAKARTA - Rendahnya kualitas sekolah kejuruan membuat tenaga kerja muda yang dihasilkan tidak trampil. Akibatnya, pengusaha butuh melakukan training lagi saat perekrutan alumni sekolah kejuruan tersebut.
Selain itu, sedikitnya jumlah sekolah kejuruan juga ikut menjadi andil bagi ketidaktrampilan tenaga kerja muda.
Demikian disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Nina Turinah, dalam acara Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Kaum Muda, di Menara Great Reaver, Kuningan, Jakarta, Senin (28/4/2008).
Rendahnya kualitas tenaga kerja muda, juga disebabkan tidak maunya tenaga kerja mengikuti training sebelum masuk dunia kerja, dengan alasan memperpanjang waktu dan menghabiskan dana.
Padahal, dengan training sebelum masa kerja, tenaga kerja muda bisa mendapat ketrampilan yang sesuai dengan standar perusahaan. Sehingga, gaji yang diterimanya juga lebih baik.
"Saya melihat, tamatan sekolah kejuruan saat ini belum bisa langsung kerja di perusahaan automotif. Mereka harus di-upgrade terlebih dulu, baru bisa kerja sesuai standar," katanya.
Akibat rendahnya kualitas tenaga kerja muda itu, umumnya tenaga kerja memiliki mental yang sangat lemah, tidak tahan banting dan mudah menyerah. "Ini harus diubah," tegas Nina.
Sehingga wajar, angkatan kerja muda saat ini yang belum mendapatkan pekerjaan mencapai 60 persen dari angkatan kerja. Dengan kata lain, hanya 40 persen angkatan kerja yang terserap.
Sementara itu, untuk angkata kerja dengan level pendidikan tinggi, saat ini telah memenuhi standar.
(hsp)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad