Sektor Riil
Petani Banyumas Tak Bekutik, Urea Naik Rp35 Rb/Sak
Selasa, 29 April 2008 - 17:27 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25% -
Selasa, 22/07/2008 14:07
TDL Industri Pasti Tak Naik -
Selasa, 22/07/2008 14:07
Blitar Juara Umum KPPOD Award 2007 -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Ikang Fawzi Calon Ketua DPD REI -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Kenaikan Harga Rusunami Maksimal Rp180 Jt -
Selasa, 22/07/2008 12:07
REI Jadi Lokomotif Pembangunan -
Senin, 21/07/2008 19:07
Meneg BUMN: Merpati Dalam Kondisi sulit -
Senin, 21/07/2008 18:07
Industri Makanan dan Minuman Akan Capai 10%

Wagino (50), petani dari Cilongok mengatakan, memasuki musim tanam seharusnya membutuhkan pupuk urea. Namun, kenyataan di lapangan, pupuk urea sangat sulit didapatkan. Lagi pula, kalau pun ada pupuk harganya naik hampir dua kali lipat.
"Saya sudah mencari pupuk hingga luar daerah yang jaraknya 20 kilometer (Km). Saya memang menemukannya, namun harganya sudah melambung jauh. Per sak isi 50 Kg naik Rp35 ribu," ungkapnya, di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (29/4/2008).
Biasanya harganya hanya Rp65 ribu, namun dijual pengecer Rp90 ribu. Sehingga mengalami kenaikan Rp35 ribu per sak.
Seharusnya, pupuk urea yang bersubsidi itu harganya Rp1.300 per kg. Namun kenyataannya malah Rp1.800 per kg.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banyumas Asan Sohib membenarkan keluhan anggotanya. Menurutnya, sejak awal musim tanam kedua ini mencari pupuk benar-benar susah.
Padahal, sebelumnya PT Pusri menjamin penyediaan pupuk bersubsidi cukup aman. "Namun faktanya kelangkaan pupuk menyebar ke mana-mana," ujarnya.
Berdasarkan data di PT Pusri, stok pupuk urea di Banyumas sebanyak 30 ribu ton. Jumlah itu sebetulnya cukup aman. Namun dari jumlah, sekitar 9.000 ton yang telah terpakai untuk konsumsi pada Januari - Februari. (Ridwan Anshori/Sindo/rhs)


