ekonomi global
Asia Himpun Dana USD80 M
Selasa, 6 Mei 2008 - 09:40 wib
Berita Lainnya

MADRID - Menteri keuangan dari 13 negara di Asia sepakat menghimpun dana USD80 miliar sebagai antisipasi seandainya Asia menghadapi krisis regional baru.

China, Jepang, dan Korsel akan berkontribusi hingga 80 persen dari total dana dan sisanya berasal dari 10 negara anggota ASEAN. Dalam pernyataan bersama di sela-sela pertemuan tahunan Bank Pembangunan Asia (ADB) di Madrid, ke-13 negara tersebut sepakat untuk membentuk sebuah skema pertukaran mata uang (currency swap scheme) atau Chiang Mai Initiative (CMI) pascakrisis finansial Asia 1997-1998.

Ini untuk melindungi mata uang mereka dari krisis serupa di masa datang. Pada pertemuan tahunan ADB terakhir di Jepang pada Mei 2007, mereka sepakat untuk menyisihkan sebagian cadangan devisa sebagai dana cadangan multinasional, meski tidak sampai pada target dana yang ingin dicapai.

"Kami sepakat meningkatkan kerja sama untuk mencapai konsensus pada semua elemen,yang meliputi semua persyaratan dan mekanisme peminjaman," demikian bunyi pernyataan bersama itu. Menkeu Vietnam Vu Van Ninh, yang menjadi ketua kerja sama pertemuan Madrid, mengatakan bahwa ke-13 negara juga akan mengembangkan mekanisme pengawasan dana tersebut.

"Kami kira sangat penting untuk memiliki sistem pengawasan yang ketat, terutama karena ekonomi regional telah membentuk integrasi yang besar dan penting dalam ekonomi dunia," katanya. Menkeu Jepang Fukushiro Nukaga mengatakan, ke-13 negara Asia tersebut mengadakan pembicaraan rencana pembentukan sebuah dana multinasional di sela-sela pertemuan ADB.

Pembentukan dana tersebut akan menjadi langkah besar dalam pembentukan lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF) di Asia. Pada saat krisis finansial Asia 1997-1998, Indonesia, Thailand, dan Korsel terpaksa meminjam dari IMF untuk menambah likuiditas karena banyak investor melepas investasi mata uang mereka.

IMF kemudian memaksa pemerintahan ketiga negara tersebut untuk menerapkan kebijakan pemotongan belanja, privatisasi, dan menaikkan suku bunga sebagai kompensasi pinjaman senilai USD100 miliar. Ke-13 negara tersebut adalah China, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN yang terdiri atas Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand,dan Vietnam.

Bursa saham Asia rata-rata naik hingga berada di level terkuat dalam empat bulan terakhir menyusul laporan pemerintah AS tentang data lapangan kerja AS yang hasilnya tidak seburuk yang diperkirakan. Harga komoditas juga menguat, termasuk emas dan pangan. Pasar bursa Australia dan Singapura naik 0,5 persen, sedangkan Hong Kong relatif stabil.

Sementara dolar AS di pasar Asia turun terhadap euro dan yen, setelah minggu lalu menguat, karena ada dugaan data tenaga kerja AS lebih baik dibanding perkiraan sebelumnya. Dalam perdagangan siang kemarin, dolar AS mencapai 105,29 yen dibanding Jumat yang mencapai 105,39 yen dengan volume perdagangan agak sepi. Ini karena pasar uang di Tokyo pada Senin dan Selasa tutup menyambut hari libur.

Euro mencapai USD1,5447, naik dibanding Jumat lalu yang mencapai USD1,5422. Para analis mengatakan, penurunan dolar AS itu kemungkinan hanya sementara karena kekhawatiran atas krisis gagal bayar sektor perumahan AS yang memicu bank sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga untuk memicu pertumbuhan ekonomi AS.

"Euro masih tetap berada di bawah angka 1,55 dan itu menunjukkan bahwa dolar AS sedang melakukan konsolidasi ke sana," kata Kepala Ekonomi Internasional ANZ Bank Australia Amy Auster. Dolar AS sempat merosot hingga di angka 1,6019 per euro pada 22 April, tetapi sejak itu terus tumbuh dan membaik yang memberikan keyakinan keterpurukan ekonomi AS telah usai.

Krisis sektor perumahan AS yang dimulai sejak tahun lalu sebelumnya diduga akan mengancam pertumbuhan ekonomi global.Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan, para pemilik perusahaan telah mengurangi tenaga kerja nonpertanian sebesar 20.000 orang. Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2008 menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 4,1 persen.

IMF telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini menjadi 0,5 persen dari 1,5 persen akibat krisis pasar keuangan yang sedang berlangsung dan pasar perumahan yang melemah. IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jerman menjadi 1,2 persen dari 1,5 persen.

Sementara Pemerintah China mengatakan bahwa pihaknya akan menjaga pertumbuhan ekonominya sebesar 8 persen tahun ini, sementara target inflasi ditetapkan 4,8 persen. Laporan mengatakan, sejumlah ekonomi negara berkembang Asia tercatat mengalami pertumbuhan solid selama 2008, sekalipun melemahnya perekonomian mayoritas negara industri, naiknya harga makanan dan bahan bakar, serta krisis kredit yang terjadi di Amerika Serikat. (sindo//hsp)
250x208 250x250