Sektor Riil
Langka, Harga Pupuk di Atas HET
Rabu, 7 Mei 2008 - 18:33 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25% -
Selasa, 22/07/2008 14:07
TDL Industri Pasti Tak Naik -
Selasa, 22/07/2008 14:07
Blitar Juara Umum KPPOD Award 2007 -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Ikang Fawzi Calon Ketua DPD REI -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Kenaikan Harga Rusunami Maksimal Rp180 Jt -
Selasa, 22/07/2008 12:07
REI Jadi Lokomotif Pembangunan -
Senin, 21/07/2008 19:07
Meneg BUMN: Merpati Dalam Kondisi sulit -
Senin, 21/07/2008 18:07
Industri Makanan dan Minuman Akan Capai 10%
KEBUMEN - Petani di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen dalam beberapa waktu terakhir kesulitan memperoleh pupuk urea. Minimnya pasokan dari distributor membuat pengecer di sejumlah desa kehabisan stok.
Dari pantauan di lapangan, Rabu (7/5/2008), di Kecamatan Ambal terdapat tujuh pengecer pupuk. Tidak ada satu pun yang masih memiliki stok pupuk. Sebab, setiap pasokan datang, pupuk langsung diserbu petani. Bahkan petani pun rela membeli dengan sistem inden. Tidak seimbangnya antara kebutuhan dengan stok pupuk yang ada, pembelian zat hara oleh petani juga dibatasi. Setiap petani hanya bisa mendapatkan satu sak atau 60 Kg pupuk bersubsidi pada sekali pembelian. Tujuannya agar terjadi pemerataan pemenuhan kebutuhan pupuk petani.
"Banyak di antara petani yang menitip uang terlebih dahulu ke pengecer," ungkap Ketua Kelompok Tani Maju Desa Kembangsawit Sulaiman (39).
Kelangkaan pupuk di Kecamatan Ambal juga dibenarkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Ambal Karsono. PPL yang membina 11 desa di kecamatan itu mengakui distribusi pupuk tidak mampu memenuhi kebutuhan petani. Akibatnya harga di pasaran melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni antara Rp65.000 hingga Rp70.000/sak ukuran 50 kg. Padahal HET Urea telah dipatok Rp60.000/sak ukuran 50 kg.
"Bila dikalkulasi, baru seperempat kebutuhan petani yang sudah terpenuhi," ujar Karsono.
Menurutnya, Rencana Detail Kebutuhan Kelompok (RDKK) luas tanam di Kecamatan Ambal pada musim tanam tahun ini 2.200 hektare untuk tanaman padi dan 300 hektare untuk tanaman jagung. Tiap haktare sawah/lahan kebutuhan pupuk diasumsikan sebanyak 2 kwintal. Sehingga jumlah totalnya mencapai 5.000 kwintal. (Abdul Malik Mubarok/Sindo/mbs)
Dari pantauan di lapangan, Rabu (7/5/2008), di Kecamatan Ambal terdapat tujuh pengecer pupuk. Tidak ada satu pun yang masih memiliki stok pupuk. Sebab, setiap pasokan datang, pupuk langsung diserbu petani. Bahkan petani pun rela membeli dengan sistem inden. Tidak seimbangnya antara kebutuhan dengan stok pupuk yang ada, pembelian zat hara oleh petani juga dibatasi. Setiap petani hanya bisa mendapatkan satu sak atau 60 Kg pupuk bersubsidi pada sekali pembelian. Tujuannya agar terjadi pemerataan pemenuhan kebutuhan pupuk petani.
"Banyak di antara petani yang menitip uang terlebih dahulu ke pengecer," ungkap Ketua Kelompok Tani Maju Desa Kembangsawit Sulaiman (39).
Kelangkaan pupuk di Kecamatan Ambal juga dibenarkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian Kecamatan Ambal Karsono. PPL yang membina 11 desa di kecamatan itu mengakui distribusi pupuk tidak mampu memenuhi kebutuhan petani. Akibatnya harga di pasaran melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni antara Rp65.000 hingga Rp70.000/sak ukuran 50 kg. Padahal HET Urea telah dipatok Rp60.000/sak ukuran 50 kg.
"Bila dikalkulasi, baru seperempat kebutuhan petani yang sudah terpenuhi," ujar Karsono.
Menurutnya, Rencana Detail Kebutuhan Kelompok (RDKK) luas tanam di Kecamatan Ambal pada musim tanam tahun ini 2.200 hektare untuk tanaman padi dan 300 hektare untuk tanaman jagung. Tiap haktare sawah/lahan kebutuhan pupuk diasumsikan sebanyak 2 kwintal. Sehingga jumlah totalnya mencapai 5.000 kwintal. (Abdul Malik Mubarok/Sindo/mbs)


