Fiskal & Moneter
BI Rate Naik 250 Bps, Moneter Aman
Jum'at, 9 Mei 2008 - 15:19 wib
Nuria - Okezone
Berita Lainnya
-
Kamis, 24/07/2008 12:07
Risiko Inflasi Global
Kenaikan Inflasi RI Paling Ringan -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Jangan Terkecoh Anggaran Kemiskinan di APBN -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Neoliberal untuk APBN Mandul -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Auditor Pajak Masih Mudah Disuap -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Hartadi: Commodity Supercycle Capai Puncak -
Rabu, 23/07/2008 14:07
Krisis Pangan & Energi
Peran Bank Sentral Sangat Dibutuhkan -
Rabu, 23/07/2008 13:07
Pansus Hak Angket Energi
BPK Bantu Sediakan Data ke DPR -
Rabu, 23/07/2008 13:07
Resesi AS Berdampak Terbatas di RI -
Rabu, 23/07/2008 09:07
BPS Akui Belum Maksimal Ungkap Data Kemiskinan -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Hasil Lelang Debt Switch Sebesar Rp4,4 Triliun.

Gedung BI (Foto: Sindo)
Stress tes merupakan tes untuk mengetahui seberapa rentan suatu sistem finansial terhadap kejutan-kejutan yang sifatnya hipotetis, seperti anjloknya harga saham atau kenaikan harga minyak dunia. Dari hasil stress test ini, sistem keuangan nasional tetap baik, dengan sistem policy akhir-akhir ini.
"Memang kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) naik, tapi tidak membahayakan. Karena NPL baru satu indikator saja," ujar Deputi Gubernur BI Hartadi Agus Sarwono dalam diskusi Apconex, di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (9/5/2008).
Dia mengatakan, keberadaan NPL selalu dicover oleh rasio kecukupan modal (CAR). "Karena CAR-nya masih cukup, jadi tidak membahayakan," katanya.
Dia mengatakan, pertumbuhan kredit sudah mencapai 28,1 persen. NPL, kata dia juga mengalami kenaikan. "NPL memang harus diperhatikan, karena industri yang memberi kredit sangat banyak macamnya," kata dia.
Kemudian, lanjut dia, dilakukan stress test dampak terhadap CAR, suku bunga, tidak terlalu membahayakan bagi perbankan. Jadi sistem keuangan kita tetap baik, dengan kecenderungan policy akhir-akhir ini. (hsp)


