Fiskal & Moneter
Perekonomian Daerah Terhambat Perda
Jum'at, 9 Mei 2008 - 17:05 wib
Aries Setiawan - Okezone
Berita Lainnya
-
Kamis, 24/07/2008 12:07
Risiko Inflasi Global
Kenaikan Inflasi RI Paling Ringan -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Jangan Terkecoh Anggaran Kemiskinan di APBN -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Neoliberal untuk APBN Mandul -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Auditor Pajak Masih Mudah Disuap -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Hartadi: Commodity Supercycle Capai Puncak -
Rabu, 23/07/2008 14:07
Krisis Pangan & Energi
Peran Bank Sentral Sangat Dibutuhkan -
Rabu, 23/07/2008 13:07
Pansus Hak Angket Energi
BPK Bantu Sediakan Data ke DPR -
Rabu, 23/07/2008 13:07
Resesi AS Berdampak Terbatas di RI -
Rabu, 23/07/2008 09:07
BPS Akui Belum Maksimal Ungkap Data Kemiskinan -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Hasil Lelang Debt Switch Sebesar Rp4,4 Triliun.

Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Komisi Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah Agung Pambudi, usai bertemu dengan Wakil Ketua KPK Haryono Umar, di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (9/5/2008).
Agung hadir bersama Bupati Sragen Untung Wiyono, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Djimanto dan LP3E Kadin membahas reformasi birokrasi pemerintahan daerah.
Menurut Agung, permasalahan yang ada dalam Perda yang bermasalah tersebut seperti pungutan liar, pungutan berbagai retribusi yang diterapkan Pemda serta banyaknya retribusi yang tidak memberikan manfaat kepada pembayar retribusi.
"Itu merupakan hambatan pertumbuhan perekonomian dalam negeri," ujarnya kepada wartawan.
Namun, hal yang paling mempengaruhi pada terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan investasi didaerah yaitu, kepemimpinan daerah. Baik konsep maupun mental kepemimpinan dalam menjalankan pemerintahan didaerah.
"Hal yang paling penting, kepemimpinan daerah. Mereka tidak punya konsep dan mekanisme mengenai hal itu," terangnya. (ase) (rhs)


