Finance
Bank Eksekutif Jajaki Unit Usaha Syariah
Jum'at, 9 Mei 2008 - 16:51 wib
Berita Lainnya

JAKARTA - PT Bank Eksekutif Tbk (BEKS) menjajaki ekspansi unit usaha syariah pada 2008. Nanggroe Aceh Darussalam menjadi wilayah pertama bagian ekspansi.
 
"Tahun ini kami berencana kembangkan syariah dengan membuka kantor cabang disana," kata Presiden Direktur Bank Eksekutif Tonny Antonius, usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Menara Bank Eksekutif,  Jakarta, Jumat (9/5/2008).
 
Pada tahun ini perseroan akan membuka empat kantor cabang syariah baru di Aceh, Yogyakarta, Pekanbaru, Banjarmasin, dan ditambah satu kantor cabang pembantu di Medan. "Usaha syariah itu merupakan bagian dari rencana ekspansi perseroan di 2008," katanya.
 
Dia mengatakan, untuk membuka satu kantor cabang membutuhkan Rp4 miliar. Namun dia tidak menjelaskan sumber dana tersebut. Mengenai opsi obligasi atau secondary public offering, ia juga mengesampingkan opsi tersebut.
 
Sepanjang 2007 laba bersih perseroan mencapai Rp713 juta dengan penyaluran kredit Rp895,44 miliar dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp1,147 triliun. Pada 2008 perseroan menargetkan penyaluran kredit Rp1,081 triliun, DPK Rp1,304 triliun dan perolehan laba bersih Rp12,8 miliar. Sementara pada 2010, perseroan berencana mengubah statusnya menjadi bank devisa.
 
Dia mengatakan, perseroan juga menargetkan menurunkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) menjadi 2,95 persen  dari sebelumnya sebesar 14 persen. Tingginya NPL disebabkan kendala administratif pada 14 debitur bermasalah.
 
Pada 2007 total penyaluran kredit perseroan mencapai Rp895,44 miliar dengan tingkat NPL mencapai 14 persen. Dari total kredit tersebut, jumlah kredit ke-14 debitur yang bermasalah mencapai Rp142 miliar atau 16 persen dari total kredit 2007.
 
Oleh karena itu perseroan menargetkan mampu menertibkan 14 debitur agar dapat menekan angka NPL ke posisi 2,95 persen dari total target penyaluran kredit di 2008 sebesar Rp1,081 triliun.
"BEKS menargetkan mampu menekan jumlah NPL dari Rp142 miliar di 2007 menjadi sebesar Rp32 miliar di 2008," katanya.
 
Tonny menilai, para debitur bermasalah tersebut cenderung tidak disiplin memberikan kepastian laporan keuangan yang diaudit. Sementara Bank Indonesia (BI) justru menilai berdasarkan laporan keuangan yang sudah diaudit.
 
Oleh sebab itu perseroan akan melakukan berbagai upaya pendekatan kepada debitur bermasalah agar dapat melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan.

"Hanya masalah administratif saja, mereka selalu membayar. Namun tentunya pendekatan akan kami lakukan secara persuasif agar mereka terdorong untuk memenuhi persyaratan dokumen yang ditentukan," ujar Tonny.
 
Mengenai dampak kenaikan tingkat suku bunga BI rate menjadi 8,25 persen, Tonny menyatakan pihaknya belum berencana menaikkan tingkat suku bunga kreditnya. "Kami akan lihat pasar dulu, sejauh ini sih belum ada adjustment pada tingkat suku bunga kredit perseroan akibat kenaikan BI Rate," ujar Tonny.
 
Pada akhir 2007 lalu, tingkat suku bunga kredit perseroan sebesar 17,5 persen. Hingga April lalu, tingkat suku bunga kredit BEKS sudah diturunkan menjadi sebesar 14 persen.
 
RUPST juga memutuskan untuk tidak membagikan dividendan menempatkan laba bersih tahun 2007 sepenuhnya sebagai laba ditahan. (Whisnu Bagus /Sindo/rhs)
250x208 250x250