Sektor Riil
Petani Khawatir Kelangkaan Pupuk Picu Gagal Panen
Minggu, 11 Mei 2008 - 16:23 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25% -
Selasa, 22/07/2008 14:07
TDL Industri Pasti Tak Naik -
Selasa, 22/07/2008 14:07
Blitar Juara Umum KPPOD Award 2007 -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Ikang Fawzi Calon Ketua DPD REI -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Kenaikan Harga Rusunami Maksimal Rp180 Jt -
Selasa, 22/07/2008 12:07
REI Jadi Lokomotif Pembangunan -
Senin, 21/07/2008 19:07
Meneg BUMN: Merpati Dalam Kondisi sulit -
Senin, 21/07/2008 18:07
Industri Makanan dan Minuman Akan Capai 10%

Sayangnya, para petani masih kesulitan mendapatkan pupuk itu. Bahkan untuk memeratakan distribusi, para petani hanya mendapat jatah 50 kg pupuk urea.
"Kalau pembelian pupuk terus-terusan dibatasi, hasil panen kami jelas tidak akan maksimal. Bahkan bisa bangkrut," keluh Tugiar, petani Desa Ngasem, Kec Gampengrejo, Kab Kediri, Minggu (11/4/2008).
Sejak pupuk Urea menghilang di pasar, Tugiar hanya mendapat jatah pembelian satu sak berisi 50 kg pupuk. Jumlah tersebut jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan 1,4 hektar sawah miliknya. Sebab, setiap 1 hektar lahan memerlukan 250 kg pupuk urea.
Ia membantah alasan pemerintah yang menuding para petani terlalu royal dalam penggunaan pupuk. Bahkan menurut laporan petugas penyuluh lapangan, para petani sengaja menghambur-hamburkan pupuk hingga 500 kg per hektar lahan.
"Tidak benar kalau pemerintah menyalahkan kami. Silahkan diperiksa di lapangan apakah kami menghambur-hamburkan pupuk atau tidak," tegasnya.
Sedikitnya pasokan pupuk ini dibenarkan oleh para pemilik kios atau pengecer. Ahmad Yani, pemilik kios pupuk UD Rukun Tani di Desa Ngasem, Kec Gampengrejo mengaku terpaksa membatasi pembelian pupuk kepada petani. Sebab pasokan dari distributor tidak seimbang dengan kebutuhan petani di lima desa yang menjadi wilayah kios tersebut.
"Kalau tidak dibatasi kasihan para petani lainnya. Kalau mau beli mereka harus mendaftar dulu beberapa hari sebelumnya," jelas Yani. (Hari Tri Wasono/Sindo/hsp)


