Sektor Riil
Petani Khawatir Kelangkaan Pupuk Picu Gagal Panen
Minggu, 11 Mei 2008 - 16:23 wib

KEDIRI - Ratusan petani di Kabupaten Kediri mengaku khawatir hasil panen menjadi hancur akibat kelangkaan pupuk. Meskipun, pihak produsen dan Pemkab Kediri menjamin ketersediaan pupuk Urea bersubsidi.

Sayangnya, para petani masih kesulitan mendapatkan pupuk itu. Bahkan untuk memeratakan distribusi, para petani hanya mendapat jatah 50 kg pupuk urea.

"Kalau pembelian pupuk terus-terusan dibatasi, hasil panen kami jelas tidak akan maksimal. Bahkan bisa bangkrut," keluh Tugiar, petani Desa Ngasem, Kec Gampengrejo, Kab Kediri, Minggu (11/4/2008).

Sejak pupuk Urea menghilang di pasar, Tugiar hanya mendapat jatah pembelian satu sak berisi 50 kg pupuk. Jumlah tersebut jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan 1,4 hektar sawah miliknya. Sebab, setiap 1 hektar lahan memerlukan 250 kg pupuk urea.

Ia membantah alasan pemerintah yang menuding para petani terlalu royal dalam penggunaan pupuk. Bahkan menurut laporan petugas penyuluh lapangan, para petani sengaja menghambur-hamburkan pupuk hingga 500 kg per hektar lahan.

"Tidak benar kalau pemerintah menyalahkan kami. Silahkan diperiksa di lapangan apakah kami menghambur-hamburkan pupuk atau tidak," tegasnya.

Sedikitnya pasokan pupuk ini dibenarkan oleh para pemilik kios atau pengecer. Ahmad Yani, pemilik kios pupuk UD Rukun Tani di Desa Ngasem, Kec Gampengrejo mengaku terpaksa membatasi pembelian pupuk kepada petani. Sebab pasokan dari distributor tidak seimbang dengan kebutuhan petani di lima desa yang menjadi wilayah kios tersebut.

"Kalau tidak dibatasi kasihan para petani lainnya. Kalau mau beli mereka harus mendaftar dulu beberapa hari sebelumnya," jelas Yani. (Hari Tri Wasono/Sindo/hsp)
250x208 250x250