ekonomi global
Inflasi China Capai 8,5%, Tertinggi dalam 12 Tahun Terakhir
Selasa, 13 Mei 2008 - 09:07 wib
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 09:07
Harga Minyak Ambles USD3 per Barel -
Rabu, 23/07/2008 09:07
UE-AS Tuntut Akses Pasar Ekspor -
Selasa, 22/07/2008 12:07
Kuartal II-2008
Laba American Express Ambles 38% -
Senin, 21/07/2008 14:07
Inggris Hadapi Resesi Tahun Depan -
Senin, 21/07/2008 09:07
Putaran Doha Masih Alot

Data yang dirilis Biro Statistik China tersebut menunjukkan, pada April 2008, tingkat harga sejumlah bahan pokok meningkat hingga 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komoditas yang mengalami kenaikan harga paling tinggi adalah daging babi, yang merupakan bahan makanan paling digemari penduduk China, yang meroket hingga 68,3 persen. Sementara, harga kebutuhan nonpangan meningkat 1,8 persen dibandingkan April 2007.
"Hal ini berhubungan dengan harga kebutuhan pokok di internasional, khususnya harga biji-bijian yang terus berlanjut sehingga mempengaruhi harga pangan domestik," ujar pernyataan Biro Statistik, kemarin. Pemerintah China telah menyatakan perang terhadap inflasi sebagai prioritas mengatasi permasalahan ekonomi tahun ini.
Keputusan ini diambil karena harga yang melambung bisa memberi dampak negatif terhadap stabilitas sosial. Bank investasi Goldman Sachs mengatakan, laporan yang dirilis Biro Statistik tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pasar.
Maka dari itu, pihaknya juga mengklaim bahwa terlalu dini untuk mengatakan bahwa China sukses melawan inflasi. "Karena tekanan inflasi saat ini sangat tinggi, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan baik-baik segala kebijakan yang diambil," sebut Goldman Sachs dalam siarannya.
Wakil Perdana Menteri China Wang Qishan mengatakan inflasi global mengancam pertumbuhan negara panda tersebut. Harga kebutuhan yang tinggi memberikan tekanan besar terhadap ekonomi. "Inflasi global sangat tinggi sehingga menciptakan tekanan kepada China," ujar Wang. Namun, ekonom senior Bank Dunia Louis Kuijs mengatakan, keadaan China saat ini merupakan refleksi keadaan ekonomi dunia. Artinya, segala sesuatu yang mempengaruhi keadaan ekonomi dunia seperti seperti komoditas dan pangan, maka akan berpengaruh juga ke ekonomi China.
Menurut beberapa analis, untuk mengatasi inflasi yang semakin tinggi, pemerintah akan lebih fokus kepada mata uang China. "Nilai yuan yang lebih tinggi akan membantu mengendalikan inflasi karena biaya yang lebih rendah dari barang impor," ujar analis JPMorgan Jing Ulrich. Di sisi lain, petani China menjadi salah satu pihak yang beruntung walaupun mereka juga harus melawan tingkat inflasi yang semakin tinggi.
Inflasi di pedesaan pada bulan April mencapai 9,3 persen sedangkan di perkotaan mencapai 8,1 persen. Di dalam empat bulan pertama tahun ini harga konsumen naik 8,2 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, surplus perdagangan China pada bulan April menurun hingga 1 persen karena permintaan global terhadap barangbarang China melemah. Surplus China dengan Eropa masih meningkat 34,8 persen ke USD12 miliar, sedangkan dengan Amerika Serikat (AS) menurun ke USD13 miliar.
Surplus perdagangan China membuat China menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang paling cepat. Akibatnya tingkat inflasi meningkat hingga berada di level tertinggi dalam 11 tahun terakhir yaitu 8 persen di kuartal pertama 2008. Hal ini menyebabkan kesenjangan dalam sektor perdagangan mencapai USD16,8 miliar. (sindo//hsp)


