Finance


Asean Jajaki Bursa Bersama

Rabu, 14 Mei 2008 - 14:02 wib
text TEXT SIZE :  
Share

JAKARTA - Indonesia dan lima negara di Asean berencana membentuk bursa bersama (Asean Linkage). Kesepakatan itu akan dibahas lebih lanjut pada Juli 2008.

"Kita sudah sepakat untuk kerjasama tersebut, dan akan ditindaklanjuti pada pertemuan di Bali 14 Juli nanti," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah, di Jakarta, Rabu (15/5/2008).

Rencananya jelas Erry, enam negara Asean yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Vietnam akan membentuk Asean Linkage. Di mana seluruh perusahaan terbuka di bursa efek masing-masing negara dapat ditransaksikan dalam satu bursa.

Meski demikian dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai mekanisme pembentukan tersebut. "Bagaimana nantinya itu akan dibahas lebih lanjut, yang pasti negara-negara di Asean sudah sepakat," katanya.

Erry mengungkapkan, sejumlah persolaan pembentukan Asean Linkage antara lain, struktur hukum, mata uang, pasar yang berbeda-beda dan sarana infrastruktur.

"Kita sedang mencari bentuk seperti layaknya di Eropa, namun pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan," katanya.

Dia menegaskan, pembentukan Asean Linkage bertujuan menguntungkan seluruh perusahaan terbuka di kawasan Asean tanpa merugikan pasar bursa domestik di masing-masing negara.
"Jangan sampai dengan adanya Asean Linkage broker dalam negeri mati, atau broker dalam negeri menjual ke luar sehingga pasar domestik rugi. Itu yang kita hindari," katanya.

Meski demikian dia tidak menjelaskan kapan waktu pembentukan Asean Linkage. "Kita ingin secepatnya, tapi kan masih terkendala sejumlah persoalan," katanya.

Menurut Erry, pembentukan Asean Linkage merupakan tindak lanjut pembentukan Asean Fourty FTSE Index bersama negara-negara, Asean yang diluncurkan 2005 lalu. Saat ini terdapat delapan saham BEI yang ditransaksikan di Asean Fourty FTSE Index.

Saham tersebut adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). (Whisnu Bagus /Sindo/rhs)

Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4