JAKARTA - Pemerintah membantah bahwa penurunan produksi minyak bukan karena faktor investasi, melainkan karena penurunan produksi akibat usia sumur yang sudah tua.
Hal itu terbukti investasi sektor minyak dan gas bumi memperlihatkan kenaikan dari tahun ke tahun. Jika pada 2004 sebesar USD5,87 juta, 2005 sebesar USD8,17 juta, 2006 sebesar USD9,66 juta. Pada 2007 naik menjadi USD10,10 juta. Sedang pada 2008 ditargetkan mencapai USD14,38 juta.
''Investasi migas selama ini terus mengalami kenaikan. Jadi penurunan produksi migas bukan disebabkan oleh faktor investasi, namun akibat penurunan alamiah sumur produksi yang umumnya memang sudah tergolong tua,'' tukas Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Miniral (ESDM) Bidang Ekonomi dan Keuangan Novian M Thaib, seperti dikuti dalam situs Departemen ESDM, Sabtu (17/5/2008).
Dia mengatakan, kondisi geologi Indonesia masih sangat memungkinkan untuk kegiatan investasi perusahaan migas. Oleh sebab itu dalam upaya menjaga minat investor senantiasa perlu dilakukan. Selain melalui sejumlah regulasi, juga dibutuhkan iklim yang baik. ''Investor membutuhkan dukungan keamanan yang baik, stabilitas politik, maupun pelayanan birokrasi,'' ujar Novian.
Pada saat harga minyak yang tinggi seperti saat ini, persaingan untuk menarik investor berlangsung ketat. Indonesia menghadapi negara-negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Brunei, dalam persaingan menarik investor migas.
(hsp)