Sektor Riil
BBM Naik, Harga Kayu Bakarpun Ikut Naik
Sabtu, 17 Mei 2008 - 15:51 wib
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 18:07
Musim Panen, Harga Gula Merosot -
Rabu, 23/07/2008 16:07
BP Migas: Harga LNG Jangan Dipolitisir -
Rabu, 23/07/2008 15:07
Wisatawan Domestik ke Bali Melonjak 30% -
Rabu, 23/07/2008 14:07
Pengiriman Gas Tangguh Dialihkan ke Kogas -
Rabu, 23/07/2008 13:07
PLN: Tak Ada Pemadaman Bergilir di Kaltim -
Rabu, 23/07/2008 09:07
Bunga KPR BTN Akan Naik -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Pengusaha Tak Keberatan TDL Dinaikkan -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25%

Pencari kayu bakar (Foto:Sindo)
Selain digunakan warga, kayu bakar banyak di manfaatkan pelaku industri genteng tradisional dan pembuat batu bata di sekitar Temanggung. Untuk menekan biaya produksi, sejumlah pabrik tahu juga memanfaatkan kayu sebagai bahan bakarnya.
Beberapa waktu lalu, harga kayu bakar jenis akasia dipasarkan sekira Rp20 ribu per meter kubik, namun sekarang sudah mencapai Rp60 ribu per meter kubik. Bahkan di Kecamatan Bejen, kabupaten yang sama, harga kayu bakar jauh lebih tinggi, yakni Rp80 ribu per meter kubik.
''Harga kayu bakar memang baru saja naik, dari Rp60 ribu per meter kubik, menjadi Rp80 ribu per meter kubik, kalau harga BBM naik, harga kayu bakar yang pasti ikut naik lagi,'' kata Turmudi, pedagang kayu bakar asal Bejen, di Temanggung, Sabtu (17/05/08).
Jenis kayu bakar yang dijual, selain jenis akasia yang diambil dari hutan, juga kayu pohon cengkih, albasia, bahkan juga kayu kopi. Menurut Turmudi, pihaknya menerima pasokan kayu-kayu tersebut dari penduduk.
''Untuk mendapatkan kayu -kayu tersebut tidak sulit, karena banyak tanaman kopi atau cengkih yang tidak lagi produktif. Selain jenis kayu-kayuan seperti itu, juga jenis kayu tanaman keras lainnya,'' katanya. Kayu bakar asal Bejen ini juga banyak diambil industri genteng tradisional, batu bata dan masyarakat. Bahkan juga dipasok keluar daerah, seperti Sragen, Magelang dan daerah lain.
Untuk mencarinya, Turmudi mengaku harus naik turun hutan untuk mencari kayu bakar di Gunung Sumbing. Hal serupa juga dilakukan warga Kemloko Tembarak, Kabupaten Temanggung yang berada di Sumbing sebelah utara. ''Dengan mencari ke gunung, kita tidak perlu membeli, harga kayu bakar makin mahal,'' ujar Samhudi warga Kemloko.
Warsini, warga Kendangan Kecamatan Kandangan juga melakoni hal yang sama. Karena tak mampu lagi membeli
kayu bakar, ia setiap hari mencari ke kebun cengkih, kopi atau ke kebun sengon, mencari ranting dan dahan kering.
Naiknya harga kayu bakar, juga dirasakan cukup memberatkan bagi pelaku industri genteng tradisional di Tegowanu, Temanggung. Para perajin genteng pres tersebut mengaku mulai merasa berat melakukan kegiatan produksi. Selain harga kayu bakar naik, harga minyak kacang yang biasa digunakan untuk pelumas mesin pres pun mulai bergerak naik. ''Nah kalau harga BBM naik, ongkos pekerjapun pasti minta naik, ongkos angkutan juga naik , ya semua naik,'' kata Sukamdi. (Nazarudin Latief/Sindo/hsp)


