Finance
2008, BUMN Sektor Farmasi & Perkebunan Siap Holding
Sabtu, 17 Mei 2008 - 13:33 wib
Berita Lainnya
-
Kamis, 24/07/2008 07:07
Rupiah Jalan di Tempat -
Rabu, 23/07/2008 19:07
CSR Indonesia Terbelakang di Asia -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Pefindo Terbitkan Rating dan Ranking Reksadana -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Perusahaan Tetap CSR Meski Tidak Ada Insentif -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Dua Mantan Kabiro Bapepam Incar Posisi Komut BEI -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Revisi Aturan Soal Penjatahan tak Diprioritaskan -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Bapepam Cermati Audit Penjatahan Saham Adaro -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Ekadharma Bangun Pabrik Rp64,6 M -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Indeks Masih Seperti Yoyo -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Hanson Lepas Saham di Primayudha

"Ketiga sektor tersebut yakni, farmasi, perkebunan, dan karya siap untuk didorong melakukan holding tahun ini," jelas Meneg BUMN Sofyan Djalil, di Jakarta, Jumat (16/5/2008).
Sedangkan untuk holding perbankan diharapkan dapat terealisasi tahun depan. Sofyan menambahkan, dari empat sektor BUMN tersebut tingkat kesulitan pembentukan holding justru datang dari sektor tambang.
Pasalnya, BUMN tambang banyak yang sudah menjadi perusahaan publik seperti Antam, PTBA dan Timah. Namun, untuk melanggengkan proses ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan departemen terkait.
"Tambang pada prinsipnya saya pikir tidak ada masalah, untuk itu kita presentasikan saja. Karena tujuannya tidak ada perubahan apapun. Cuma membuat leverage goal-nya jadi lebih besar supaya perusahaan kita menjadi perusahaan regional," ungkapnya
Tujuan pembentukan holding selain untuk konsolidasi, juga diharapkan agar para kementerian mampu mengurangi jumlah BUMN sehingga lebih efisien.
Dia mencontohkan, penyatuan Sun Derby dengan Golden Hope menjadikan perusahaan tersebut tercatat sebagai yang terbesar di Malaysia.
"Kalau BUMN bisa kita satukan jadi holding maka kemampuan Lavaragenya menjadi lebih baik. Kalau kecil-kecil kan repot dan kalau terlalu Banyak tidak ada nilai tambahnya," ungkapnya. (Setiawan Ananto/Sindo/rhs)


