ekonomi global
Harga Minyak Nyaris USD128
Sabtu, 17 Mei 2008 - 12:05 wib
Mochammad Wahyudi - Okezone
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 09:07
Harga Minyak Ambles USD3 per Barel -
Rabu, 23/07/2008 09:07
UE-AS Tuntut Akses Pasar Ekspor -
Selasa, 22/07/2008 12:07
Kuartal II-2008
Laba American Express Ambles 38% -
Senin, 21/07/2008 14:07
Inggris Hadapi Resesi Tahun Depan -
Senin, 21/07/2008 09:07
Putaran Doha Masih Alot

Kenaikan harga minyak yang belakangan sudah mulai kalem dipicu respon negatif para pialang minyak atas dua berita yang saling berkaitan belakangan ini.
Yaitu, rencana Arab Saudi yang dilontarkan Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi yang menggenjot produksi minyaknya hingga 300 ribu barel. Namun, Departemen Energy Amerika Serikat (AS) yang membatalkan pengangkutan minyaknya (Strategic Petroleum Reserve). Hingga enam bulan ke depan, mulai 1 Juli mendatang.
"Berita ini sungguh menggelikan. Saya tidak berpikir bahwa hal ini akan membuat harga minyak menjadi turun," ucap Phil Flynn, analis Alaron Trading Corp, seperti dikutip Associated Press, Sabtu (17/5/2008).
Di sisi lain para investor menyatakan, sikap negera produsen minyak terbesar di dunia Arab Saudi untuk menambah suplai minyak tidak akan mampu meredam harga. "Jumlah 300 ribu tidak akan memberikan dampak yang siginifikan," ujar petugas informasi Amerika Serikat, Mir Yousufuddin.
Seperti diketahui, Presiden Amerika George W Bush pada Jumat 16 Mei 2008, waktu setempat mengunjungi Arab Saudi. Kedatangan Bush adalah untuk melobi Arab untuk menambah kuota suplai minyak sehingga harganya melandai.
Saat kunjungan berlangsung, harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juni melonjak USD2,17 barel ke posisi USD126,29. Harga itu terpampang pada papan perdagangan New York Mercantile Exchange. Namun, lambat laun, harga minyak tersebut terus menanjak USD127,82 per barel. (rhs)


