ekonomi global
Bush Gagal Rayu Arab Saudi Kendalikan Gas
Sabtu, 17 Mei 2008 - 14:03 wib
Mochammad Wahyudi - Okezone
Berita Lainnya
-
Senin, 21/07/2008 14:07
Inggris Hadapi Resesi Tahun Depan -
Senin, 21/07/2008 09:07
Putaran Doha Masih Alot -
Minggu, 20/07/2008 16:07
Negara-Negara Teluk Arab Tertarik Investasi di Negara Lain -
Minggu, 20/07/2008 12:07
ECB Yakinkan Masyarakat Bisa Lewati Inflasi Tinggi -
Sabtu, 19/07/2008 11:07
Citigroup Catat Kerugian USD2,5 M

Ini dilakukan Bush demi menekan gas yang ikut terkerek harga minyak yang membumbung tinggi yang mencapai USD127 per barel. Namun, Negeri Paman Sam itu berhasil meyakini Raja Abdullah untuk menambah akselerasi peningkatan produksi minyak sebanyak 300 ribu barel mulai Juni.
Pihak Arab Saudi menolak melakukan hal itu. Karena sebenarnya mereka sudah berusaha meningkatkan produksi minyaknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dunia. Sehingga, mereka belum ada niatan lagi untuk melakukannya lagi, karena memang belum ada tuntutan konsumen dunia.
Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi menyatakan, sebenarnya pihaknya pada 10 Mei lalu, telah memutuskan meningkatkan produksi minyaknya hingga 300 ribu barel per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak AS setelah Venezuela dan Mexico menghentikan pengirimannya.
"Permintaan dan penawaran sedang dalam kondisi seimbang sekarang. Berapa banyak lagi minyak yang harus kami hasilkan untuk memuaskan orang-orang yang selalu memertanyakan kebijakan dan produksi minyak kami?" ucap al-Naimi dalam konferensi pers, seraya menangkis kritikan dari kongres AS, seperti dikutip dari Associated Press (AP), Sabtu (17/5/2008). (rhs)


