Sektor Riil
Kadin: Jangan Setarakan BBM Domestik dengan Internasional
Minggu, 18 Mei 2008 - 09:33 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25% -
Selasa, 22/07/2008 14:07
TDL Industri Pasti Tak Naik -
Selasa, 22/07/2008 14:07
Blitar Juara Umum KPPOD Award 2007 -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Ikang Fawzi Calon Ketua DPD REI -
Selasa, 22/07/2008 13:07
Kenaikan Harga Rusunami Maksimal Rp180 Jt -
Selasa, 22/07/2008 12:07
REI Jadi Lokomotif Pembangunan -
Senin, 21/07/2008 19:07
Meneg BUMN: Merpati Dalam Kondisi sulit -
Senin, 21/07/2008 18:07
Industri Makanan dan Minuman Akan Capai 10%

Ketua Komit Tetap Moneter dan Fiskal Kadin Bambang Soesatyo mengatakan, saat ini saja pemerintah belum tahu dampak terburuk dari kebijakan menaikkan harga BBM rata-rata 30 persen yang akan diumumkan pekan depan terhadap perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat.
"Apakah mereka sanggup memikulnya atau tidak, belum tahu," ujar dia saat dihubungi pagi ini, Minggu (18/5/2008).
Menurut Bambang, dari sisi dunia usaha jelas kebijakan kenaikan harga BBM setara dengan harga internasional akan membuat beberapa komponen dan ongkos produksi melesat naik dan memukul daya beli lebih dalam lebih dalam lagi. Marjin yang sudah tipis itu akan tergerus habis tanpa kenaikan harga jual.
Sedang menaikkan harga jual produksi di tengah pendapatan dan daya beli masyarakat yang terpuruk serta meningkatnya pengangguran akibat kenaikan harga BBM hingga 30 persen tahap I, ungkap dia, merupakan hal yg mustahil.
"Jadi, dapat dibayangkan jika tidak diperhitungkan secara matang, ambisi menurunkan subsidi dan menyamakan harga BBM untuk masyarakat dengan harga BBM internasional seperti selama ini diberlakukan pada Pertamax dan BBM industri, akan menjadi kontraproduktif," lanjut dia.
Seperti diketahui, Menko Perekonomian Boediono pada Jumat 16 Mei mengungkapkan bahwa pemerintah akan menyamakan harga BBM untuk masyarakat denga harga BBM di pasar internasional, seperti selama ini diberlakukan pada jenis Pertamax atau BBM industri secara bertahap mulai September 2008.
Boediono mencontohkan negara miskin seperti Timor Leste, Filipina, dan Kamboja yg telah memberlakukan penjualan BBM untuk masyarakat setara dengan harga internasional. Menurut dia, kenaikan BBM 30 persen belum mampu menahan lonjakan subsidi dan meringankan beban APBN.
Jika harga BBM mengikuti harga internasional, maka BBM jenis premium akan berkisar di atas Rp9.000 per liter. Sementara harga Solar dan Minyak Tanah akan menembus angka Rp10.000 per liter. (Zaenal Muttaqin /Sindo/jri)


