Sektor Riil
Pupuk di Purbalingga Tembus Rp100 Ribu/Sak
Senin, 19 Mei 2008 - 14:45 wib
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 18:07
Musim Panen, Harga Gula Merosot -
Rabu, 23/07/2008 16:07
BP Migas: Harga LNG Jangan Dipolitisir -
Rabu, 23/07/2008 15:07
Wisatawan Domestik ke Bali Melonjak 30% -
Rabu, 23/07/2008 14:07
Pengiriman Gas Tangguh Dialihkan ke Kogas -
Rabu, 23/07/2008 13:07
PLN: Tak Ada Pemadaman Bergilir di Kaltim -
Rabu, 23/07/2008 09:07
Bunga KPR BTN Akan Naik -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Pengusaha Tak Keberatan TDL Dinaikkan -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Impor Garam 1,5 Jt Ton -
Selasa, 22/07/2008 19:07
Ketua Kadin: Berharap SKB 5 Menteri Ditunda Agustus -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pertumbuhan Ekspor Perhiasan Ditargetkan 25%

Pengemasan pupuk (Foto:Sindo)
Selain terjadi kelangkaan, petani juga tidak punya cukup uang serta membutuhkan dalam jumlah besar.
"Harga urea benar-benar gila. Kalau kita sedang membutuhkan, harganya mencapai Rp90 ribu per sak. Itupun susah mencarinya, karena tidak semua agen memiliki stok," ungkap Ahmad Mahfud Affandi, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo Desa Pagendekan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Senin (19/5/2008).
Dia menambahkan, kebutuhan pupuk kelompoknya sekitar 90 sak untuk area seluas 50 hektar. "Saya sudah mencari-cari ke mana-mana. Sebenarnya di UD Sri Dadi di wilayah perkotaan ada stok, tapi hanya 10 sak. Padahal kebutuhan anggota kami 90 sak. Dari pada pembagian pupuk tidak merata, akhirnya kami tidak jadi beli," imbuhnya.
Kaur Bin Ops Polres Purbalingga AKP Senentyo menduga, kelangkaan pupuk urea di Purbalingga disinyalir banyaknya pengecer ilegal. Selain itu, Anggota Komisi Pengawasan Pupuk Purbalingga tersebut, menduga banyaknya pengecer yang menjualnya pupuk ke luar daerah.
"Akibatnya, jatah pupuk di Purbalingga tersedot, sehingga terjadi kelangkaan," katanya. (Ridwan Anshori/Sindo/hsp)


