Finance
Kredit BPD Tumbuh 27,5%
Selasa, 20 Mei 2008 - 16:07 wib
Berita Lainnya
-
Rabu, 23/07/2008 19:07
CSR Indonesia Terbelakang di Asia -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Pefindo Terbitkan Rating dan Ranking Reksadana -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Perusahaan Tetap CSR Meski Tidak Ada Insentif -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Dua Mantan Kabiro Bapepam Incar Posisi Komut BEI -
Rabu, 23/07/2008 18:07
Revisi Aturan Soal Penjatahan tak Diprioritaskan -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Bapepam Cermati Audit Penjatahan Saham Adaro -
Rabu, 23/07/2008 17:07
Ekadharma Bangun Pabrik Rp64,6 M -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Indeks Masih Seperti Yoyo -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Hanson Lepas Saham di Primayudha -
Rabu, 23/07/2008 16:07
Rupiah Tembus ke Bawah Rp9.140
JAKARTA - Kredit kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) secara tahunan (YoY) mencatat pertumbuhan sebesar 27,5 persen dari Rp58,816 triliun menjadi Rp75,023 triliun. Kenaikan disebabkan pencairan (disburshed) dana milik pemda terkait dengan proyek atas beban APBD.
Berdasarkan statistik perbankan terbitan Bank Indonesia (BI) per Maret 2008 jumlah kredit yang disalurkan meningkat 27,5 persen dari Rp58,816 triliun (Maret 2007) menjadi Rp75,023 triliun. Dari bulan ke bulan penyaluran kredit terus melonjak. Pada Januari 2008 kredit BPD mencapai Rp71,524 triliun dan Februari sebesar Rp73,240 dan Maret sendiri mencapai Rp75,023 triliun. Sedangkan berdasarkan jenis penggunaan, kredit untuk sektor investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 34 persen dari Rp4,574 triliun (Maret 2007) menjadi Rp6,119 trilium (Maret 2008). Peningkatan mulai terasa sejak awal tahun di mana Januari sebesar Rp5,772 triliun dan Februari sebesar Rp5,920 triliun.
"Peningkatan kredit disebabkan oleh pencairan dana milik pemda terkait dengan proyek di daerah atas beban APBN. Pemerintah pusat mendesak agar pemda tidak menunda pencairan proyek seperti dulu (takut dituding korupsi)," jelas Pengamat perbankan Ryan Kiryanto di Jakarta, Selasa (20/5/2008).
Ryan menuturkan melalui pencairan pada awal tahun, akan mendorong kegairahan ekonomi di daerah sehingga dunia usaha di daerah akan merespons kegiatan ekonomi yang didukung oleh pemda. Sedangkan untuk kredit sektor investasi akan memberi multiplier effect luas di daerah, terutama dikaitkan dengan kinerja kepala daerah. Namun, BPD harus mengantisipasi kenaikan BBM yang akan berdampak kepada seluruh kredit. (Tomi Sujatmiko/Sindo/mbs)
Berdasarkan statistik perbankan terbitan Bank Indonesia (BI) per Maret 2008 jumlah kredit yang disalurkan meningkat 27,5 persen dari Rp58,816 triliun (Maret 2007) menjadi Rp75,023 triliun. Dari bulan ke bulan penyaluran kredit terus melonjak. Pada Januari 2008 kredit BPD mencapai Rp71,524 triliun dan Februari sebesar Rp73,240 dan Maret sendiri mencapai Rp75,023 triliun. Sedangkan berdasarkan jenis penggunaan, kredit untuk sektor investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 34 persen dari Rp4,574 triliun (Maret 2007) menjadi Rp6,119 trilium (Maret 2008). Peningkatan mulai terasa sejak awal tahun di mana Januari sebesar Rp5,772 triliun dan Februari sebesar Rp5,920 triliun.
"Peningkatan kredit disebabkan oleh pencairan dana milik pemda terkait dengan proyek di daerah atas beban APBN. Pemerintah pusat mendesak agar pemda tidak menunda pencairan proyek seperti dulu (takut dituding korupsi)," jelas Pengamat perbankan Ryan Kiryanto di Jakarta, Selasa (20/5/2008).
Ryan menuturkan melalui pencairan pada awal tahun, akan mendorong kegairahan ekonomi di daerah sehingga dunia usaha di daerah akan merespons kegiatan ekonomi yang didukung oleh pemda. Sedangkan untuk kredit sektor investasi akan memberi multiplier effect luas di daerah, terutama dikaitkan dengan kinerja kepala daerah. Namun, BPD harus mengantisipasi kenaikan BBM yang akan berdampak kepada seluruh kredit. (Tomi Sujatmiko/Sindo/mbs)


