JAKARTA - Lima hari menjelang pertemuan akbar para investor, Indonesian Regional Investment Forum (IRIF) 2008 sudah menghasikan proyek senilai USD19 miliar.
Dana sebesar itu merupakan hasil penarawan 200 proyek-proyek yang ditawarkan Indonesia ke investor asing. Komposisi nilai investasi itu terdiri dari, sektor minyak dan gas USD2 miliar, sektor industri USD1,9 miliar, sektor infrastruktur USD9 miliar, sektor agribisnis USD800 juta. Sedangkan sisanya, berasal dari sektor lainnya.
Selain itu, pemerintah juga menawari berbagai proyek antara lainnya, seperti sektor agribisnis, perkebunan, biofuel, infrastruktur, minyak dan gas, pertambangan, energi, properti, serta pariwisata.
"Nilai proyek terbesar yang ditawarkan oleh daerah adalah proyek pembangunan penyulingan minyak Bojonegoro senilai USD4 miliar. Sementara nilai proyek terkecil adalah proyek peternakan di provinsi Sulteng senilai USD81 ribu," ujar CEO Global Initiative Tony Gourlay, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/5/2008).
Dalam ajang tersebut, pemerintah akan menawarkannya ke 20 negara, di antaranya, Amerika, Asia, Timur Tengah, Jepang, India, China, dan Korea. Proyek itu akan ditawarkan kepada sekira 100 investor di mana investor tersebut berasal dari equity firm, investment firm, dan perusahaan besar seperti Merril Lynch, Cargil, Deutsche Bank, UOB, dan Sinar Mas.
Saat ini, sudah ada 35 region yang meliputi kabupaten provinsi dan kota, yang berpartisipasi dalam IRIF 2008. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibanding 2006, yang hanya 16 region.
(rhs)