Fiskal & Moneter
BBM Naik, Dana Subsidi BBM & Kemiskinan Tetap Timpang
Rabu, 21 Mei 2008 - 20:31 wib
Nuria - Okezone
Berita Lainnya
-
Selasa, 22/07/2008 19:07
Hasil Lelang Debt Switch Sebesar Rp4,4 Triliun. -
Selasa, 22/07/2008 17:07
UU PPN Baru Berlaku Awal 2009 -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Pemerintah Harus Beri Kepastian Hukum ke Daerah -
Selasa, 22/07/2008 17:07
Defisit RAPBN 2009 Ditargetkan 1,5% -
Selasa, 22/07/2008 12:07
Pemerintah Tunda DAU Sebesar 25% -
Selasa, 22/07/2008 11:07
66% Raperda Disarankan Ditolak -
Selasa, 22/07/2008 11:07
Menkeu Minta 2.000 Perda Dibatalkan -
Selasa, 22/07/2008 10:07
Sri Mulyani:
Masyarakat Happy Adalah Aset -
Selasa, 22/07/2008 10:07
SBY Pimpin Sidang RAPBN 2009 -
Selasa, 22/07/2008 08:07
Depkeu Lelang SUN yang Jatuh Tempo 2009-2013

Dengan kenaikan 28,7 persen, alokasi subsidi BBM sebesar Rp141 triliun, sementara program kemiskinan hanya sebesar Rp100 triliun.
"Ini belum adil," kata ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, saat sosialisasi kenaikan BBM, di Gedung E Departemen Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Rabu (21/5/2008).
Alasan dasar pemerintah menaikan BBM karena sebanyak 70 persen subsidi BBM hanya dinikmati oleh kelompok masyarakat menegah ke atas.
Dalam APBNP 2008, alokasi subsidi BBM sebesar Rp75,6 triliun, sementara alokasi program kemisikinan Rp70 triliun.
Menkeu mengatakan, berdasarkan pengalaman 2005, yakni setelah terjadi kenaikan harga BBM pada 2005, terjadi pengurangan tenaga kerja 95,9 ribu orang.
Sementara setelah terjadi kenaikan harga BBM 30 persen pada Maret 2005, indeks kepercayaan merosot. Namun, kembali naik setelah dua bulan berikutnya.
Sektor industri pupuk, semen dan kimia juga terpukul setelah ada kenaikan BBM pada 2005. Penjualan kendaraan bermotor, tingkat investasi, sektor retail dan PDB secara kuartak to kuartal dan year on year (YoY) tidak berdampak besar setelah kenaikan harga BBM pada 2005. Sebaliknya dampak besar terjadi pada sektor itu setelah terjadi kenaikan BBM sebesar 114 persen pada Oktober 2005. (rhs)


