SLAWI - Minyak tanah di sejumlah daerah di Kabupaten Tegal terutama di daerah pegunungan mencapai Rp4.200 per liter. Sedangkan, di kota harganya bervariasi antara Rp3.200-Rp3.700 per liter. Selain itu, pembelian dibatasi maksimal dua liter. Tingginya harga eceran minyak tanah itu makin membuat masyarakat kesulitan pascakenaikan harga BBM sebesar 28,7 persen.
Menurut Dian (30), warga Desa Karangmulya, Kecamatan Bojong, mengatakan harga minyak tanah mulai mahal sejak satu pekan sebelum kenaikan BBM. Sebelumnya, kata dia, di tingkat pengecer minyak tanah dijual Rp3.500 per liter.
"Harganya sekarang mahal sampai Rp4.300 per liter. Itu saja dapatnya susah, karena harus antre jeriken dulu," katanya, di Slawi, Sabtu (31/5/2008).
Dia mengatakan, kesulitan masyarakat mendapatkan minyak tanah karena di daerahnya selama ini hanya terdapat satu pangkalan. Sehingga, masyarakat yang akan membeli minyak tanah dengan harga murah harus rela menempuh jarak belasan kilometer.
"Sudah jauh dibatasi pula. Harapan kami pangkalan di Bojong ditambah biar masyarakat tidak kesulitan," katanya.
Rohman (33), warga Pagerbarang, mengaku sudah satu minggu ini kesulitan mendapatkan minyak tanah. Sebab, stok yang ada di pangkalan kosong karena tidak dapat pasokan. Selain itu, lanjut dia, harga minyak tanah juga mahal mencapai Rp3.700 per liter.
"Masyarakat di sini (Pagerbarang) sebagian besar petani, yang saat ini sangat membutuhkan minyak tanah untuk operasional mesin diesel. Tapi, minyak tanahnya susah, kalaupun ada harganya mahal," ujarnya.
(Kastolani/Sindo/hsp)