Kisah Sukses


Gaji Michael J Kowalski USD7,3 Juta

Jum'at, 13 Juni 2008 - 10:54 wib
text TEXT SIZE :  
Michael J Kowalski. (Foto: AP)

JAKARTA - Tak kalah menariknya, juga pasar perhiasan di Asia. Bahkan, bisa dibilang, peningkatan penjualan produk Tiffany di kawasan ini tergolong yang tertinggi.

Sebelumnya, kontribusi Asia terhadap pendapatan perusahaan ini tak lebih dari sekitar lima persen. Belakangan melonjak cukup tinggi lantaran dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di Cina dan India yang begitu luar biasa. Fenomena yang tengah berkembang di dua negara itu juga melahirkan pengusaha-pengusaha baru, yang notabene banyak di antaranya menjadi pelanggan Tiffany.

Tak cukup sampai di situ, kepakan sayap Tiffany terus meluas hingga ke sejumlah negara lainnya. Di antaranya ke negeri tempat bermukimnya raja-raja minyak dunia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Brunei. September tahun lalu, bahkan Tiffany tak ragu membuka gerai baru di Kuala Lumpur, Malaysia. Kabarnya sih, itu merupakan strategi Kowalski untuk mendekatkan diri dengan keluarga Raja Brunei. Maklum, keluarga kerajaan yang berada di Pulau Kalimantan ini juga kesohor karena gemar mengoleksi perhiasan bermutu nan mahal.

Untuk memuluskan ekspansinya, ada berbagai kiat yang dilakukan Kowalski. Di antaranya, pada akhir Januari lalu, ia menggandeng SoftBank, operator telepon seluler di Jepang. Lewat kerja sama ini, mereka membuat hand phone eksklusif (bertakhtakan 400 batu berlian seberat lebih dari 20 karat) yang diproduksi dalam jumlah sangat terbatas, yakni hanya 10 unit. Sebagai barang langka, wajar jika barang ini dibanderol 100 juta yen (setara dengan USD942 ribu) per buahnya.
Alih-alih berhasil menggarap pasar di Eropa dan Asia, lalu bagaimana halnya dengan pasar Amerika? Akankah Kowalski melupakan begitu saja? Memang sih, sejak dilanda krisis, sampai saat ini perkembangan ekonomi di Amerika begitu memprihatinkan. Pertumbuhannya turun hingga empat persen.

Tapi, di mata Kowalski bisa jadi lain. Resesi yang tengah melanda negerinya itu, katanya, tidak akan berlangsung lama. Dalam satu atau dua tahun ke depan, pasar Amerika akan pulih kembali.

Nah, menjelang masa pemulihan itu, serta-merta ia menyiapkan sejumlah strategi. Antara lain, mulai tahun ini juga, memperkuat jaringan pemasaran. Untuk itu, dirintislah pembangunan 24 gerai baru di seantero Amerika. Agar tak memboroskan anggaran, semua gerai itu dirancang dengan konsep minimalis yang hanya menampilkan produk-produk tertentu. Dengan begitu, target pasar yang dibidiknya akan semakin terarah.

Sebelum bergabung dengan perusahaan ini (sejak 1983), pria yang saat ini berusia 56 tahun itu sempat malang-melintang di berbagai perusahaan. Karirnya di sejumlah perusahaan itu lebih banyak diabdikan di bagian keuangan. Nasibnya berubah drastis setelah ia memutuskan bergabung dengan Tiffany. Sejak setelah itu, karirnya melesat bak meteor.

Hanya dalam tempo singkat, ia berhasil dipromosikan menjadi seorang manajer. Karena prestasinya, setelah itu (1992) ia dipercaya menjabat sebagai executive vice president (EVP). Saat menjalankan tugasnya sebagai EVP inilah, Kowalski mulai intensif memperdalam seluk-beluk bisnis perhiasan.

Bintang terang, rupanya, terus menaunginya. Pada awal Januari 1997 ia dipercaya menjadi chief operating officer (COO). Reputasinya pun makin berkibar saja. Tak salah bila banyak kalangan yang meramalkan bahwa ia akan segera menempati kursi CEO. Hal itu terbukti menjadi kenyataan. Tepatnya sejak 1999, ia didapuk menjadi orang nomor satu di Tiffany. Sebagai CEO, otomatis, mendongkrak rezekinya. Gajinya selama tahun lalu saja mencapai USD7,3 juta. Weleh-weleh. (Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)