Sektor Riil
Sulsel Tambah Kuota Pupuk untuk Antisipasi Kelangkaan
Minggu, 15 Juni 2008 - 18:59 wib
Berita Lainnya
-
Jum'at, 05/09/2008 16:09
Mendag: Ekspor CPO Akan Membaik -
Jum'at, 05/09/2008 15:09
4 Tahun Lagi, Infrastruktur Jadi Primadona -
Jum'at, 05/09/2008 14:09
Harga Naik, Proyek Infrastruktur Harus Jalan Terus -
Jum'at, 05/09/2008 14:09
Setor Dividen, Pertamina Pertimbangkan Investasi -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Ongkos Distribusi Elpiji Tak Ditanggung Pertamina -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Imbas Harga Elpiji Naik, Tingkat Pembelian Naik 5% -
Jum'at, 05/09/2008 13:09
Bappenas: Target SBI 3 Bulan Jangan Berubah Lagi -
Jum'at, 05/09/2008 11:09
Sanggup Lunasi Utang, Pencekalan Akan Dicabut -
Jum'at, 05/09/2008 10:09
HIPMI: Sektor Riil Makin Tertekan -
Kamis, 04/09/2008 17:09
Apindo: Salah Resep Bernama Kenaikan BI Rate
MAKASSAR - Pemerintah Provinsi (pemprov) Sulawesi Selatan (sulsel) meminta penambahan pupuk bersubsidi kepada pemerintah pusat. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan dan peningkatan kebutuhan pupuk bersubsidi setelah adanya program over stok beras 2 juta ton dan over stok jagung 1,5 juta ton tahun 2008.
Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu? mang di Makassar Minggu (15/6/2008) mengatakan, kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel mengalami peningkatan signifikan tahun ini. Pasalnya, program over stok beras dan jagung membutuhkan pupuk lebih tinggi. Karena itu, Agus berharap dengan penambahan kuota itu, kelangkaan pupuk di Sulsel tidak terjadi lagi.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel menyatakan, kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel tahun 2008 menurut sub sektor yaitu pupuk urea sebesar 242.523 ton, jenis SP-36 36.002 ton, jenis ZA sebanyak 50.152 ton dan jenis NPK sebanyak 27.450 ton. Hal itu sesuai keputusan gubernur sulsel nomor 31/I/Tahun 2008 tanggal 21 Januari dan sesuai Peraturan Menteri Pertanian No.76/ PERMENTAN /OT.140 /12/2007.
Sektor tanaman pangan mendapatkan jatah tertinggi untuk semua jenis pupuk. Untuk sektor ini jatah pupuk urea mencapai 157.640 ton, jenis SP-36 20.760 ton, jenis ZA 21.341 ton dan NPK 17.473 ton. Sektor tanaman pangan termasuk di dalamnya tanaman padi yang selama ini menjadi komoditi andalan di Sulsel. Hingga Juni 2008, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi jenis urea di Sulsel mencapai 136.595 ton.
Namun dalam perkembangannya, menyikapi kenaikan harga pangan dunia saat ini, Pemprov Sulsel bertekad menaikkan produksi beras hingga overs stok 2 juta ton. Sedangkan untuk komoditi jagung ditargetkan over 1,5 juta ton. Karena itu, 10 Juni lalu, pemprov melalui Wagub Agus telah meminta penambahan alokasi pupuk bersubsidi untuk Sulsel kepada pemerintah pusat.
Dalam permintaan itu, jenis urea bertambah 50.000 ton menjadi 292.523 ton atau sekitar 20,61%. Sedangkan pupuk jenis SP-36 ditambah 11.350 ton senilai 31,53%. Sementara itu pupuk jenis ZA menjadi 73.066 ton atau bertambah 45,69%. Terakhir pupuk NPK berrtambah 18.311 ton sehingga menjadi 45.761 ton atau meningkat 66,7% dari kuota sebelumnya.
Agus menegaskan kepada semua pabrik pupuk yang mensuplai kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel untuk tidak mempermainkan stok yang ada. Karena itu Agus mengaku telah meminta mereka melaporkan setiap kegiatan pengadaan pupuk yang terjadi di Sulsel.
Agus mengakui kelangkaan pupuk sempat terjadi di wilayah ini dalam dua pekan terakhir. Menurutnya, hal itu disebabkan permintaan kenaikan tarif pengangkutan pupuk bersubsidi dari pelabuhan ke berbagai kabupaten/kota. Sebanyak 27 distributor pupuk yang ada di Sulsel. Sedangkan pabrik pemasok didominasi PT Pupuk Kaltim.
Harga Eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi per 28 Desember 2008 sesuai PERMENTAN Nomor 76 untuk jenis urea Rp 1.200/kg, sedangkan pupuk ZA Rp 1.050/kg, jenis SP-39 Rp 1550/kg dan pupuk KPK Rp 1.750/kg.
Agus menjamin ke depan kelangkaan pupuk bersubsidi tidak akan terjadi lagi. Pasalnya, pihaknya telah melakukanpemantauan langsung stok pupuk di gudang dan kedatangannya di pelabuhan Makassar. (Andi Aisyah/Trijaya/mbs)
Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu? mang di Makassar Minggu (15/6/2008) mengatakan, kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel mengalami peningkatan signifikan tahun ini. Pasalnya, program over stok beras dan jagung membutuhkan pupuk lebih tinggi. Karena itu, Agus berharap dengan penambahan kuota itu, kelangkaan pupuk di Sulsel tidak terjadi lagi.
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel menyatakan, kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel tahun 2008 menurut sub sektor yaitu pupuk urea sebesar 242.523 ton, jenis SP-36 36.002 ton, jenis ZA sebanyak 50.152 ton dan jenis NPK sebanyak 27.450 ton. Hal itu sesuai keputusan gubernur sulsel nomor 31/I/Tahun 2008 tanggal 21 Januari dan sesuai Peraturan Menteri Pertanian No.76/ PERMENTAN /OT.140 /12/2007.
Sektor tanaman pangan mendapatkan jatah tertinggi untuk semua jenis pupuk. Untuk sektor ini jatah pupuk urea mencapai 157.640 ton, jenis SP-36 20.760 ton, jenis ZA 21.341 ton dan NPK 17.473 ton. Sektor tanaman pangan termasuk di dalamnya tanaman padi yang selama ini menjadi komoditi andalan di Sulsel. Hingga Juni 2008, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi jenis urea di Sulsel mencapai 136.595 ton.
Namun dalam perkembangannya, menyikapi kenaikan harga pangan dunia saat ini, Pemprov Sulsel bertekad menaikkan produksi beras hingga overs stok 2 juta ton. Sedangkan untuk komoditi jagung ditargetkan over 1,5 juta ton. Karena itu, 10 Juni lalu, pemprov melalui Wagub Agus telah meminta penambahan alokasi pupuk bersubsidi untuk Sulsel kepada pemerintah pusat.
Dalam permintaan itu, jenis urea bertambah 50.000 ton menjadi 292.523 ton atau sekitar 20,61%. Sedangkan pupuk jenis SP-36 ditambah 11.350 ton senilai 31,53%. Sementara itu pupuk jenis ZA menjadi 73.066 ton atau bertambah 45,69%. Terakhir pupuk NPK berrtambah 18.311 ton sehingga menjadi 45.761 ton atau meningkat 66,7% dari kuota sebelumnya.
Agus menegaskan kepada semua pabrik pupuk yang mensuplai kebutuhan pupuk bersubsidi di Sulsel untuk tidak mempermainkan stok yang ada. Karena itu Agus mengaku telah meminta mereka melaporkan setiap kegiatan pengadaan pupuk yang terjadi di Sulsel.
Agus mengakui kelangkaan pupuk sempat terjadi di wilayah ini dalam dua pekan terakhir. Menurutnya, hal itu disebabkan permintaan kenaikan tarif pengangkutan pupuk bersubsidi dari pelabuhan ke berbagai kabupaten/kota. Sebanyak 27 distributor pupuk yang ada di Sulsel. Sedangkan pabrik pemasok didominasi PT Pupuk Kaltim.
Harga Eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi per 28 Desember 2008 sesuai PERMENTAN Nomor 76 untuk jenis urea Rp 1.200/kg, sedangkan pupuk ZA Rp 1.050/kg, jenis SP-39 Rp 1550/kg dan pupuk KPK Rp 1.750/kg.
Agus menjamin ke depan kelangkaan pupuk bersubsidi tidak akan terjadi lagi. Pasalnya, pihaknya telah melakukanpemantauan langsung stok pupuk di gudang dan kedatangannya di pelabuhan Makassar. (Andi Aisyah/Trijaya/mbs)


