ekonomi global
ADB Sarankan Kebijakan Pengetatan Moneter di Asia
Minggu, 15 Juni 2008 - 14:38 wib
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Berita Lainnya
-
Senin, 25/08/2008 08:08
Si Emas Hitam Jadi Indikator Utama Bursa Global -
Minggu, 24/08/2008 14:08
Bank IKB Jerman Dijual 150 Juta Euro -
Minggu, 24/08/2008 13:08
Harga Minyak Tinggi, Bush Salahkan Demokrat -
Jum'at, 22/08/2008 08:08
Wall Street Ditutup Mixed -
Kamis, 21/08/2008 09:08
Surplus Perdagangan Jepang Anjlok 86,6%

ilustrasi (Corbis)
"ADB meramalkan pertumbuhan sebesar 7,6 persen di Asia, tidak termasuk Jepang. Sebab inflasi akan memperlebar ketidakseimbangan pendapatan dan menyebabkan banyak orang terperosok ke jurang kemiskinan," sebut Rajat M Nag, Managing Director ADB, seperti dikutip Associated Press, Minggu (15/6/2008).
Tahun lalu, pertumbuhan Asia menembus rekor selama dua dekade sebesar 8,7 persen.
April lalu ADB meramalkan inflasi akan menembus angka 5,1 persen tahun ini, dan merupakan yang tertinggi dalam satu dekade.
Vietnam merupakan negara yang mengalami inflasi terburuk, yang mencapai 25 persen. Sedangkan inflasi di Singapura, Thailand, India, Filipina, dan Indonesia berkisar antara 7,5 persen hingga 11 persen.
"Pertumbuhan tengah terancam, karena ada awan hitam inflasi yang harus dikenali sebagai perhatian utama," kata Nag di sela pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Kami berpikir kebijakan moneter harus diperketat, sehingga peluang meningkatnya inflasi dapat diatasi," cetus dia.
Dia menyarankan dilakukannya peningkatan suku bunga dan memastikan fleksibilitas nilai tukar. Sejumlah bank sentral telah meningkatkan suku bunga pinjaman dalam dua bulan ini.
Melonjaknya harga pangan yang dipicu melambungnya biaya bahan bakar telah menambah biaya produksi dan transportasi. Akibatnya, terjadi serangkaian aksi protes di berbagai belahan dunia. Huru-hara bahkan terjadi akibat kekurangan makanan di Karibia dan Afrika.
Sejumlah negara Asia, termasuk India, Malaysia, dan Indonesia telah memotong subsidi bahan bakar akibat melonjaknya harga minyak dunia. (jri)


