Bermula dari seorang peneliti yang berhasil memperkenalkan teknologi informasi modern di kawasan Timur Tengah. Kini, ia sukses membawa Qatar Telecom sebagai perusahaan yang patut diperhitungkan di bisnis telekomunikasi dunia.
Senyum di bibir Nasser Marafih terus saja menyungging. Chief Executive Officer Qatar Telecom (Qtel) ini tak sedang mengkhayal. Sesungguhnya ia patut bersukacita. Bagaimana tidak. Berkat kepiawaiannya mengatur strategi, ia berhasil mengembangkan perusahaan yang dipimpinnya itu tak hanya jagoan di negerinya sendiri. Juga, mampu eksis di sejumlah negara.
Faktanya memang sulit dibantah. Hingga akhir 2007, perusahaan ini telah berkibar di 16 negara. Yang terbaru adalah gebrakannya di awal bulan ini, Qtel dipastikan menguasai 40,8 persen saham PT Indosat. Peluangnya masuk ke negeri ini, berawal dari rencana Singapore Technologies Telemedia (STT) melepas sebagian kepemilikannya di Indosat. Untuk diketahui, sebelumnya STT menguasai 42 persen saham Indosat.
Kesempatan itu, tak serta-merta disia-siakan Nasser.
Untuk itu, nyatanya, ia tak ragu merogoh kas perusahaan hingga USD1,8 miliar, atau setara dengan Rp16,74 triliun. Langkah ini, kata Nasser, amatlah strategis. Bergabung dengan Indosat juga berarti peluang bagi Qtel semakin terbuka lebar untuk menikmati pasar nan wah di negeri ini. Karena itu, Nasser patut menyunggingkan senyum kemenangan.
Selama di bawah kendalinya, Qtel memang terkesan makin ekspansif saja.
Ternyata, hal itu tak bisa dilepaskan dari ambisinya yang menargetkan perusahaan ini pada 2020 menjadi salah satu industri telekomunikasi terbaik di dunia. Modal untuk itu bukannya tak ada. Lihat saja berbagai prestasi yang telah ditorehkan perusahaan yang berkantor pusat di Doha, Qatar, itu. Di antaranya pada 2005 berhasil meraih penghargaan sebagai perusahaan telekomunikasi terbaik di Kawasan Teluk.
Setahun setelah itu, Qtel, yang telah beroperasi sejak 21 tahun silam, juga meraih Economic Award, yakni penghargaan tertinggi di dunia yang diperuntukkan bagi perusahaan yang berhasil menerapkan prinsip good corporate governance secara benar. Selain itu, sampai saat ini, Qtel tercatat sebagai perusahaan publik terbesar di Qatar. Sahamnya, bahkan diperdagangkan di empat bursa berbeda, yakni di Doha (Doha Securities Market), Abu Dhabi (Abu Dhabi Securities Market), Bahrain Stock Exchange, dan London Stock Exchange.
Sesuai dengan rencana pengembangan perusahaan yang dilansir pada awal tahun ini, Nasser beserta para petinggi Qtel memang telah menetapkan kebijakan strategi ekspansi. Di antaranya dengan membeli perusahaan sejenis yang dinilai memiliki prospek yang potensial. Membeli sebagian saham Indosat salah satunya.
Tergolong Eksekutif Bertangan Dingin
Untuk soal yang terakhir itu, seperti yang dilakukannya di Oman. Di negara ini, bersama Tele-Denmark Communications (perusahaan telekomunikasi asal Denmark) dan BUMN telekomunikasi setempat, pada 2004 Qtel mendirikan Narwas, operator telepon seluler yang lebih fokus menggarap pasar domestik. Hasilnya cukup gemilang. Baru setahun beroperasi, Narwas berhasil menjaring 897 ribu pelanggan, atau setara dengan 40 persen populasi penduduk Oman.
Tak berhenti sampai di situ, dua tahun lalu Qtel bekerja sama dengan AT&T, gergasi asal Amerika, membeli saham NavLink sebesar 38,2 persen. Langkah bisnis nan cerdik. Maklum, perusahaan penyedia jasa komunikasi data asal Prancis itu untuk ukuran Timur Tengah tergolong jawaranya. Di kawasan ini ia sebagai market leader. Tak lama setelah itu, Qtel berhasil menggandeng Korea Telecom membangun proyek infrastruktur IT di Qatar. Dari kerja sama ini menghasilkan Ubiquitous Cities (U-City), yakni kawasan IT terpadu.
Gebrakannya yang tak kalah mengesankan di Kuwait. Pada tahun lalu, bersama Kuwait National Mobile Telecommunications Company, Nasser berhasil mendirikan Wataniya. Nilai investasinya terbilang mega, sebesar USD3,8 miliar. Dengan dana sebanyak itu, Qtel menguasai 51 persen saham Wataniya. Sisanya, 49 persen adalah jatah buat mitranya. Targetnya, perusahaan kongsi ini akan dijadikan ujung tombak bagi pengembangan bisnis Qtel di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Nasser bisa jadi juga tergolong eksekutif bertangan dingin. Nyaris tiada program yang dijalankannya ?patah? di tengah jalan.
Nyatanya, di tangan pria yang kini berusia 47 tahun itu, keberadaan Qtel makin kokoh saja. Cengkeramannya makin menggurita. Seiring dengan itu, kinerja keuangannya pun makin bersinar. Pendapatan perusahaan pada 2004 baru mencapai QAR (Qatar Rial) 2,864 miliar, setara dengan USD782 juta, dengan keuntungan QAR 1,4 juta. Kemudian melonjak begitu hebat memasuki tahun lalu, pendapatannya menjadi QAR 10,373 miliar, dengan laba mencapai QAR 1,877 miliar.
Kondisi nan menyenangkan itu terus berlanjut hingga tahun ini. Sepanjang kuartal I, Qtel mampu meraih pendapatan QAR 3,5 miliar, dengan keuntungan hampir QAR 567 juta. Pencapaian sebesar itu meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Dengan prestasi yang begitu hebat, tak salah, jika Qtel kini digolongkan sebagai industri yang patut diperhitungkan di tataran bisnis telekomunikasi internasional.
Nasser adalah penyandang gelar doktor bidang telekomunikasi dari Universitas George Washington, AS. Usai menimba ilmu di sana, ia memilih menjadi peneliti dan staf pengajar di Universitas Qatar. Kiprahnya di Qtel dimulai pada 1992. Debut di perusahaan ini, bermula sebagai penasihat ahli yang diperbantukan dari Universitas Qatar. Boleh jadi merasa cocok, akhirnya sejak 1994 ia memutuskan untuk bergabung sepenuhnya di Qtel. Tugas pertamanya kala itu sebagai strategic planning and development manager.
Latar belakangnya sebagai peneliti, tampaknya, amat berguna bagi perjalanan karirnya. Di divisi pengembangan, nyatanya Nasser dinilai berhasil mengembangkan teknologi komunikasi yang paling baru pada masanya.
Pada 1994 misalnya, ia sukses memperkenalkan teknologi GSM di kawasan Timur Tengah. Dua tahun berselang, ia juga berhasil memelopori penggunaan internet di Qatar dan negara-negara di sekitarnya. Sejak saat itu karirnya pun terus menanjak. Puncaknya terjadi pada 2002, ketika ia dipercaya menjabat sebagai CEO.
Peluang lain yang diincarnya adalah pasar di sejumlah negara di Kawasan Teluk, seperti Irak, Tunisia, Oman, dan Aljazair. Nasser tak salah dalam menentukan target. Pasalnya, perkembangan bisnis telekomunikasi di berbagai negara itu memang menggiurkan, setiap tahunnya tumbuh rata-rata di atas 20 persen.
Untuk merealisasikan ambisinya, Nasser mengandalkan tiga pilar bisnis utama yang selama ini dijalankan Qtel, yakni menyediakan jasa telekomunikasi mobile, jaringan internet, dan jasa mendesain sistem komunikasi untuk perusahaan. Selain itu, ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan bila ada tawaran bekerja sama dengan sejumlah BUMN telekomunikasi dari berbagai negara.
(Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)