investasi di pasar modal
Nilai Portofolio Tergantung Karakteristik dan Jenis Saham
Senin, 23 Juni 2008 - 11:00 wib
Berita Lainnya

Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI
Rumus utama investasi adalah memperkecil risiko dan mengoptimalkan keuntungan. Karena itu sangat dianjurkan dalam berinvestasi investor perlu melakukan diversifikasi dan pemilihan saham. Artinya investor tidak terpana hanya dengan satu jenis saham saja, melainkan memadukan berbagai jenis saham lengkap dengan karakteristiknya sehingga nilai portofolio tetap tinggi dan selalu menarik.

Membentuk dan menjaga portofolio agar tetap menarik merupakan pekerjaan para manajer investasi, atau pihak yang profesional dalam mengelola sebuah portofolio. Kendati demikian bukan berarti investor biasa tidak mampu membentuk portofolio. Pendeknya punya dana, memiliki kemampuan dan berusaha dalam menganalisa data keuangan emiten, kondisi ekonomi dan faktor teknikal maka investorpun mempunyai peluang untuk bisa membentuk portofolio. Bahkan bukan tidak mungkin lebih ahli dari para manajer investasi.

Selain memahami perekonomian secara umum, faktor fundamental ekonomi, dan teknikal dari saham, investor bisa memulai membentuk portofolio saham dengan memahami karakteristik saham. Sebagaimana yang kita ketahui sektor bisnis yang digeluti perusahaan berbeda satu sama lainnya. Ada yang bisnisnya infrastruktur, pertambangan, sektor konsumsi, perkebunan, pertanian, kimia dasar dan sebagainya.

Masing-masing bisnis ini memiliki prospek karakteristik industrinya sendiri. Sektor konsumsi misalnya, begitu hari raya hampir pasti kondisi harga sahamnya akan mengalami kenaikan. Karenanya terjadinya permintaaan atas produk yang mereka jual. Demikian pula sektor pariwisata begitu liburan tiba investor langsung mencermati perusahaan-perusahaan yang ada di sektor ini, misalnya travel, angkutan darat laut dan udara. Harga saham pada sektor jasa dan transportasi kemungkinan akan bergerak akibat munculnya ekspektasi baru atas perusahaan tersebut. Dengan kinerja saham yang demikian itu, secara umum karakteristik saham kita dapat kita bagi pada beberapa kelompok, kelompok saham blue chips (saham unggulan), income stock, speculative stock, growth stock, cyclical stock.

Blue chips stock atau saham unggulan merupakan suatu saham yang manajemennya memiliki reputasi yang baik. Di samping itu dalam sejarahnya, bisnis emiten tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi dan konsisten dalam membayar dividen tunai. Untuk mencapai kondisi tersebut rasanya emiten blue chips merupakan pimpinan dalam industrinya. Selain itu emitennya sudah mapan. Untuk mudahnya mengenali blue chips stock ini, Bursa Efek Indonesia membentuk sebuah indeks yang terdiri atas 45 saham unggulan. Yakni Indeks LQ-45 atau 45 saham likuid. Tiap enam bulan emiten yang mengisi 45 saham likuid ini berbeda-beda.

Sebuah saham bisa dikatakan sebagai income stock apabila saham yang membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan dari tahun-tahun sebelumnya. Emiten yang bisa melakukan hal demikian adalah yang mampu menghasilkan pendapatan tinggi dan dengan teratur memberikan dividen tunai. Emiten demikian biasanya lebih senang membagikan keuntungannya sebagai dividen dari pada diendapkan sebagai laba ditahan. Setelah itu, growth stock atau saham yang tengah mengalami pertumbuhan. Cirinya, saham saham yang emitennya merupakan pemimpin dalam industrinya dan secara berturut-turut beberapa tahun terakhir mampu mendapatkan hasil di atas rata-rata. Saham ini biasanya memiliki P/E rasio tinggi. Di samping itu emiten saham ini biasanya mempunyai reputasi yang tinggi, dan gaya publisitasnya tampak glamour dalam memperbaiki peningkatan atau penurunan harga saham. Glamournya jenis saham tersebut memungkinkan emiten untuk memperoleh capital gain.

Yang juga perlu diketahui adalah speculative stock atau saham spekulasi. Karakteristik saham jenis ini adalah emitennya tidak bisa secara konsisten mendapatkan pendapatan dari tahun ke tahun. Terkadang pendapatnya tinggi terkadang rendah. Namun demikian emiten ini mempunyai potensi untuk mendapatkan penghasilan yang baik di masa mendatang, meskipun penghasilan itu belum dapat direalisasikan.

Sementara bagi emiten yang ingin membeli saham sesuai dengan pergerakan ekonomi bisa membeli saham yang karakteristiknya disebut dengan cyclical stock atau saham bersiklus. Saham jenis ini perkembangannya mengikuti pergerakan situasi ekonomi makro atau kondisi bisnis secara umum. Sedangkan lawan dari saham bersiklus adalah jenis saham yang defensive atau saham bertahan. Kriteria saham bertahan ini adalah saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis pada umumnya. Pada saat terjadinya resesi, harga saham ini tetap tinggi. Sebab, mampu memberikan dividen yang tinggi, sebagai akibat kemampuan emitennya mendapatkan penghasilan yang tinggi pada kondisi resesi. Saham jenis ini biasanya penerbitnya bergerak dalam industri yang produknya benar-benar dibutuhkan konsumen misalnya perusahaan rokok. Bagaimana pun juga konsumen akan sulit meninggalkan kebutuhan tersebut.

Portofolio Obligasi

Kalau yang dibentuk adalah portofolio obligasi maka sangat dianjurkan investor perlu memahami karakteristik investasi pada obligasi ini. Yang paling sederhana untuk memahami karakteristik obligasi ini bahwa investasi pada oligasi selalu berlawanan dengan tingkat suku bunga. Apabila tingkat suku bunga bank tinggi maka harga obligasi akan rendah. Dan bila harga suku bunga rendah maka harga obligasi akan naik (utamanya bagi obligasi yang berbunga kupon tetap). Untuk itu sangat dianjurkan investor untuk mempelajari seluk-beluk informasi yang dibutuhkan mengenai obligasi, baik mengenai investasinya sendiri, potensi risiko yang terkandung maupun potensi keuntungannya. Obligasi sebagai sarana investasi pun memiliki risiko. Risiko investasi obligasi antara lain adalah ketidakmampuan penerbit obligasi dalam membayar kupon bunganya, hingga ketidakmampuan membayar utang pokok (nilai nominal dari obligasi) manakala obligasi tersebut jatuh tempo. Namun risiko dari obligasi tidak seberat apabila investor berinvestasi saham dimana investor menjadi pemegang saham sehingga apabila perusahaan bankrut bisa-bisa tidak bisa memperoleh hak sama sekali.

Apabila sebuah obligasi gagal bayar pada akhir jatuh tempo, seorang pemilik obligasi masih berpeluang memperoleh uangnya itu dengan cara melikuidasi perusahaan (penerbit obligasi) lalu menjual aset yang ada, dengan hasil penjualan maka dibayarkan kepada pemilik obligasi. Maksudnya pemegang obligasi sama dengan kreditur, sehingga kewajibannya didahulukan apabila perusahaan tersebut mengalami likuidasi.

Faktor inilah yang membedakan antara pemegang obligasi dengan pemegang saham. Karenanya guna menjamin kondisi tersebut seminimal mungkin tidak akan terjadi maka perusahaan yang akan melakukan penerbitan obligasi diwajibkan untuk melakukan rating terlebih dulu. Pilihan pemeringkatan bisa dilakukan melalui Pefindo atau Kasnic. Selain risiko tersebut yang juga menjadi risiko dalam berinvestasi obligasi ini adalah risiko bunga. Kalau bunga yang ditawarkan tetap, sementara dalam kurun waktu obligasi tersebut dipegang tingkat suku bunga bank mengalami kenaikan maka sudah barang tentu investasi pada obligasi itu menjadi tidak menarik. Untuk itu dalam investasi ini perlu diperhatikan apa yang disebut dengan yield to maturity (persentase keuntungan yang akan diperoleh apabila obligasi dipegang dari mulai terbit hingga jatuh tempo). Hal ini dapat diperoleh dengan mempelajarinya secara mandiri, bertanya kepada bagian riset perusahaan sekuritas, atau melalui internet. Pendeknya belajar memahami investasi dan transaksi di pasar modal kini praktis kian mudah sebab sumber informasinya cukup melimpah. (tim bei) (//mbs)
250x208 250x250