Kisah Sukses
Abid Junaid, Kepakkan Sayap ke Pasar Asia
Selasa, 24 Juni 2008 - 11:40 wib
Berita Lainnya
-
Jum'at, 13/06/2008 09:06
Michael J Kowalski, yang Sukses di Tanah Seberang -
Minggu, 25/05/2008 13:05
Gurita Bisnis Wal-Mart -
Kamis, 01/05/2008 09:05
Mencapai Puncak Karier lewat Jalan Terjal -
Senin, 28/04/2008 10:04
Feny, Percik Jamu Kecantikan -
Selasa, 22/04/2008 10:04
T Boone Investasi Rp91 T untuk Kincir Angin -
Rabu, 26/03/2008 09:03
Joseph W Saunders, yang Menari di Lantai Sangat Licin -
Sabtu, 15/03/2008 09:03
Atsutoshi Nishida, Sang Pemicu Bom Waktu -
Sabtu, 08/03/2008 10:03
Robert Ainslie, Pendulang Berkah Air Rahmat -
Senin, 03/03/2008 11:03
Meronce Rezeki dari Berbisnis Bunga -
Jum'at, 29/02/2008 09:02
Franz B Humer, Tetap Unggul Meski Digempur
Muda dan berambisi. Dua kata itu cukup mewakili sosok Abid Junaid, Direktur Eksekutif ETA Star Property Developer.
Untuk memenuhi ambisi tersebut Junaid menggalang modal usaha hingga USD400 juta melalui sumber pendanaan dan saham syariah. Modal tersebut diperlukan untuk memenuhi ambisi ETA Star mengembangkan sayap ke pasar Asia, terutama India dan Laos.
Dana sejumlah itu juga untuk menambah biaya perusahaan yang banyak mengalir untuk perusahaan di Turki dan Mesir. "Dana baru akan diperoleh dari investor Timur Tengah. Kami sedang membicarakan peningkatan investor kelembagaan hingga USD250 juta pada tahap pertama," tutur Junaid dalam acara Reuters Global Real Estate Summit di Singapura.
Pria yang berasal dari Kota Chennai, India selatan, itu juga berencana mengumpulkan dana USD100 juta hingga USD150 juta dari saham syariah atau sukuk. Kejelian Junaid memilih sukuk karena produk syariah saat ini sedang sangat diminati di Timur Tengah. Kesempatan tersebut tentu saja tidak akan disia-siakan pria murah senyum ini untuk memperkuat cengkeraman perusahaannya di Asia.
ETA Star merupakan salah satu dari sejumlah perusahaan Timur Tengah yang bersama dengan investor asing lainnya berebut pasar properti India. Sejak India mempermudah aturan investasi dalam industri konstruksinya pada 2005, Junaid mengarahkan fokus ETA Star ke India. Sebagai negara kelahiran, Junaid menganggap India menjanjikan masa depan yang lebih cerah bagi perkembangan ETA Star.
Kejelian Junaid melihat prospek pasar properti di India dibuktikan dengan langkah cepatnya membeli banyak tanah di India sebelum ledakan pasar properti tiga tahun silam. Kini, lahan-lahan yang telah dibeli Junaid di India tersebut nilainya telah melonjak empat kali lipat dari harga semula.
Di India, Junaid membangun perumahan, taman teknologi informasi, dan pusat perbelanjaan di Chennai serta Bangalore. Junaid menilai tantangan ke depan akan semakin berat karena biaya konstruksi meningkat dan mengakibatkan harga properti naik, serta memperlambat penjualan perumahan. Padahal menurut Junaid, keuntungan investasi properti di India masih di bawah 20 persen.
"Seluruh penjualan anjlok hingga 40 persen akibat kenaikan biaya konstruksi. Itu pengalaman kami," ungkap Junaid. Tantangan itu semakin berat karena inflasi memicu peningkatan harga bahan bakar minyak dan bahan baku. Untuk menghadapi itu, Junaid saat ini mengalihkan sebagian investasi ETA Star dari Mesir dan Turki ke India. Junaid terus berkarya dengan membangun sejumlah proyek di Dubai, termasuk Verde Residences dan perkantoran menara kembar.
Dalam proyek konstruksi di Dubai, Junaid memperkenalkan gebrakan baru dengan memasang sistem efisiensi energi seperti angin dan sinar matahari untuk menghasilkan listrik pada bangunan tersebut. Konsep tersebut sesuai dengan tren saat ini untuk memerangi pemanasan global.
Di bawah kepemimpinan Junaid, ETA Star semakin percaya diri dalam kepak sayapnya di Asia, dimulai dengan India, Pakistan, hingga Sri Lanka. Tak lupa, Junaid juga mengaku tertarik dengan peluang pasar properti di China dan telah menjajaki peluang berinvestasi dalam pembangunan hotel-hotel di Singapura.
Pria ambisius itu tidak dapat menyembunyikan rencananya berinvestasi di Kamboja dan Laos. Dari kantor baru ETA Star yang dibangun Junaid di Vietnam, Kamboja dan Laos mulai dikuasainya. Junaid yakin ketidakpastian pasar properti yang terjadi akibat harga minyak yang melambung itu hanya bersifat sementara.
"Dalam jangka panjang, kami akan menguasai pasar Asia," tegas pria yang secara pribadi telah membeli beberapa rumah di Dubai, termasuk di pengembang pulau "The World" dan "Palm". Dengan ekspansi ETA Star yang terus-menerus tersebut, Junaid akan mengubah perusahaan yang membangun citra di bidang properti hotel dan real estat itu menjadi Real Estate Investment Trust (REIT).
REIT yang sedang disempurnakan bentuknya itu akan didaftarkan di Singapura dalam beberapa tahun ke depan. "Perusahaan ini akan menjadi ETA Star REIT. REIT dapat mengelola aset di Asia dari Dubai. REIT akan terbentuk pada 2010," ujar penyandang gelar MA bidang masalah internasional dan MBA di bidang marketing dari Ohio University ini. Junaid sama sekali tidak tertarik dengan pasar properti Barat karena keuntungan yang diraihnya lebih kecil dibandingkan pasar properti Asia.
Meski begitu, Junaid tidak menutup kemungkinan jika suatu saat ETA Star akan membeli perkantoran di Amerika Serikat (AS) jika harga properti di sana turun. Perkembangan pesat ETA Star saat ini memang di luar dugaan Junaid sebelumnya. Saat didirikan, ETA Ascon Grup, cikal bakal ETA Star, hanyalah kontraktor regional di Dubai. Pesatnya perkembangan di Dubai membuatnya berani berinvestasi keluar Dubai.
ETA Star merupakan salah satu dari sejumlah kontraktor di Dubai. Junaid yang telah 17 tahun bergabung ETA Star merasa bangga perusahaan itu telah terlibat banyak dalam berbagai aspek pembangunan Dubai, mulai dari infrastruktur sipil, sektor energi, hingga penerbangan. Proyek-proyek yang ditangani Junaid kini telah menyebar sampai Oman, Qatar, dan Arab Saudi. (syarifudin/sindo) (//mbs)
Untuk memenuhi ambisi tersebut Junaid menggalang modal usaha hingga USD400 juta melalui sumber pendanaan dan saham syariah. Modal tersebut diperlukan untuk memenuhi ambisi ETA Star mengembangkan sayap ke pasar Asia, terutama India dan Laos.
Dana sejumlah itu juga untuk menambah biaya perusahaan yang banyak mengalir untuk perusahaan di Turki dan Mesir. "Dana baru akan diperoleh dari investor Timur Tengah. Kami sedang membicarakan peningkatan investor kelembagaan hingga USD250 juta pada tahap pertama," tutur Junaid dalam acara Reuters Global Real Estate Summit di Singapura.
Pria yang berasal dari Kota Chennai, India selatan, itu juga berencana mengumpulkan dana USD100 juta hingga USD150 juta dari saham syariah atau sukuk. Kejelian Junaid memilih sukuk karena produk syariah saat ini sedang sangat diminati di Timur Tengah. Kesempatan tersebut tentu saja tidak akan disia-siakan pria murah senyum ini untuk memperkuat cengkeraman perusahaannya di Asia.
ETA Star merupakan salah satu dari sejumlah perusahaan Timur Tengah yang bersama dengan investor asing lainnya berebut pasar properti India. Sejak India mempermudah aturan investasi dalam industri konstruksinya pada 2005, Junaid mengarahkan fokus ETA Star ke India. Sebagai negara kelahiran, Junaid menganggap India menjanjikan masa depan yang lebih cerah bagi perkembangan ETA Star.
Kejelian Junaid melihat prospek pasar properti di India dibuktikan dengan langkah cepatnya membeli banyak tanah di India sebelum ledakan pasar properti tiga tahun silam. Kini, lahan-lahan yang telah dibeli Junaid di India tersebut nilainya telah melonjak empat kali lipat dari harga semula.
Di India, Junaid membangun perumahan, taman teknologi informasi, dan pusat perbelanjaan di Chennai serta Bangalore. Junaid menilai tantangan ke depan akan semakin berat karena biaya konstruksi meningkat dan mengakibatkan harga properti naik, serta memperlambat penjualan perumahan. Padahal menurut Junaid, keuntungan investasi properti di India masih di bawah 20 persen.
"Seluruh penjualan anjlok hingga 40 persen akibat kenaikan biaya konstruksi. Itu pengalaman kami," ungkap Junaid. Tantangan itu semakin berat karena inflasi memicu peningkatan harga bahan bakar minyak dan bahan baku. Untuk menghadapi itu, Junaid saat ini mengalihkan sebagian investasi ETA Star dari Mesir dan Turki ke India. Junaid terus berkarya dengan membangun sejumlah proyek di Dubai, termasuk Verde Residences dan perkantoran menara kembar.
Dalam proyek konstruksi di Dubai, Junaid memperkenalkan gebrakan baru dengan memasang sistem efisiensi energi seperti angin dan sinar matahari untuk menghasilkan listrik pada bangunan tersebut. Konsep tersebut sesuai dengan tren saat ini untuk memerangi pemanasan global.
Di bawah kepemimpinan Junaid, ETA Star semakin percaya diri dalam kepak sayapnya di Asia, dimulai dengan India, Pakistan, hingga Sri Lanka. Tak lupa, Junaid juga mengaku tertarik dengan peluang pasar properti di China dan telah menjajaki peluang berinvestasi dalam pembangunan hotel-hotel di Singapura.
Pria ambisius itu tidak dapat menyembunyikan rencananya berinvestasi di Kamboja dan Laos. Dari kantor baru ETA Star yang dibangun Junaid di Vietnam, Kamboja dan Laos mulai dikuasainya. Junaid yakin ketidakpastian pasar properti yang terjadi akibat harga minyak yang melambung itu hanya bersifat sementara.
"Dalam jangka panjang, kami akan menguasai pasar Asia," tegas pria yang secara pribadi telah membeli beberapa rumah di Dubai, termasuk di pengembang pulau "The World" dan "Palm". Dengan ekspansi ETA Star yang terus-menerus tersebut, Junaid akan mengubah perusahaan yang membangun citra di bidang properti hotel dan real estat itu menjadi Real Estate Investment Trust (REIT).
REIT yang sedang disempurnakan bentuknya itu akan didaftarkan di Singapura dalam beberapa tahun ke depan. "Perusahaan ini akan menjadi ETA Star REIT. REIT dapat mengelola aset di Asia dari Dubai. REIT akan terbentuk pada 2010," ujar penyandang gelar MA bidang masalah internasional dan MBA di bidang marketing dari Ohio University ini. Junaid sama sekali tidak tertarik dengan pasar properti Barat karena keuntungan yang diraihnya lebih kecil dibandingkan pasar properti Asia.
Meski begitu, Junaid tidak menutup kemungkinan jika suatu saat ETA Star akan membeli perkantoran di Amerika Serikat (AS) jika harga properti di sana turun. Perkembangan pesat ETA Star saat ini memang di luar dugaan Junaid sebelumnya. Saat didirikan, ETA Ascon Grup, cikal bakal ETA Star, hanyalah kontraktor regional di Dubai. Pesatnya perkembangan di Dubai membuatnya berani berinvestasi keluar Dubai.
ETA Star merupakan salah satu dari sejumlah kontraktor di Dubai. Junaid yang telah 17 tahun bergabung ETA Star merasa bangga perusahaan itu telah terlibat banyak dalam berbagai aspek pembangunan Dubai, mulai dari infrastruktur sipil, sektor energi, hingga penerbangan. Proyek-proyek yang ditangani Junaid kini telah menyebar sampai Oman, Qatar, dan Arab Saudi. (syarifudin/sindo) (//mbs)


