Strategi Pemasaran
Nyonya Meneer (2)
Targetnya, Pendapatan Didongkrak Rp1 T
Rabu, 2 Juli 2008 - 10:35 wib
Berita Lainnya

JAKARTA - Produsen jamu Juga harus jeli dalam membidik negara tujuan ekspor. Setidaknya, pilihlah negara yang memiliki potensi pasar yang cocok untuk memasarkan produk jamu.

Untuk itu, memang diperlukan studi yang cermat. Semisal di Taiwan, ternyata kebanyakan masyarakatnya sudah terbiasa mengonsumsi produk suplemen tradisional. Untuk perkara jamu, mereka setiap tahunnya menghabiskan bujet sekitar USD6,5 miliar. Atau di Malaysia, potensinya mencapai USD1,5 miliar.

Untuk mencuri peluang itu, tentu diperlukan strategi pemasaran yang jitu. Layaknya yang dilakukan Nyonya Meneer di Taiwan, seyogianya janganlah berjalan sendirian, melainkan bermitra dengan perusahaan lokal yang sudah berpengalaman menggarap pasar di negerinya. Sebagai langkah awal di Taiwan, industri jamu ini mengembangkan model pemasaran multi level marketing (MLM).

Selain lebih efisien, karena tak harus mematok anggaran promosi relatif besar, kiat pemasaran ini perlu dilakukan, kata Charles, juga untuk menyiasati proses perizinan yang berliku.

Gambarannya di lapangan, produk jamu Nyonya Meneer diekspor tidak dalam bentuk jadi, melainkan dalam bentuk curah. Sebelum dipasarkan, oleh perusahaan mitra, jamu curah itu dikemas dan diberi merek sesuai dengan selera pasar di sana, yang mengesankan bukan produk impor. Sungguh strategi tergolong cerdik. Kiat serupa juga akan dikembangkan di beberapa negara tujuan ekspor lainnya, seperti Arab Saudi dan sejumlah negara di Afrika.

Strategi yang agak berbeda untuk pasar di Eropa. Seperti ke Belanda dan Inggris, produk jamu Nyonya Meneer dikapalkan dalam bentuk setengah jadi. Oleh pihak importir di sana--dalam hal ini bekerja sama dengan Carrefour--kemudian diberi "sentuhan" tambahan agar menjadi produk yang memiliki rasa dan warna sesuai standar dan selera konsumen di Eropa.

Produk jamu Nyonya Meneer juga sudah mulai dikenal di Australia dan Amerika Serikat. Berkat langkah ekspansinya itu, selama tahun lalu saja, industri ini berhasil meraup devisa Rp37 miliar.

Fenomena yang tengah menggejala di banyak negara itu mengindikasikan bahwa pasar dunia sudah mulai meminati produk jamu (herbal). Atas dasar itu, seyogianya kalangan industri jamu nasional juga mulai memanfaatkan peluang ini. Layaknya yang tengah digencarkan manajemen Nyonya Meneer, dari kegiatan ekspornya, targetnya dalam lima tahun ke depan mereka berharap bisa mendongkrak pendapatan hingga Rp1 triliun.

Sebenarnya pula, selain Nyonya Meneer, ada sejumlah industri lainnya yang sudah merambah ke pasar dunia. Di antaranya Bintang Toedjoe dan SidoMuncul. Bahkan, kedua industri ini sudah lebih unggul, terutama karena penetrasi produk minuman berenerginya di sejumlah negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

Menggenjot pasaran ekspor, bukan berarti pasar di dalam negeri patut ditinggalkan. Perlu diingat, kendati tengah terpuruk, toh banyak kalangan industri yang masih mengandalkan penjualan di pasar domestik. Nyonya Meneer misalnya, dari total pendapatan rata-rata Rp500 miliar per tahun, lebih dari 90 persen-nya merupakan kontribusi konsumen di pelosok Nusantara.

Nah, untuk menjaga performanya itu, ada sejumlah strategi yang tengah disiapkan manajemen Nyonya Meneer. Di antaranya, bekerja sama dengan Bank Niaga, mereka gencar menyalurkan kredit buat ribuan distributor.

Dengan tambahan "tenaga" ini diharapkan pemasaran di dalam negeri kembali bergairah. Taktik ini terasa jadi begitu strategis, mengingat iklim persaingan antarindustri di dalam negeri yang cenderung makin ketat. (Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)
250x208 250x250